"Mas," sapa Sarah, ia langsung memeluk Sultan. Sultan memejamkan matanya, ia merasa bersalah pada kekasihnya. Sakit, sesak, hatinya serasa hancur karena kesalahan yang telah ia buat. "Semalam kenapa gak jadi dateng?" tanya Sarah. "Ditelepon juga gak diangkat." "Oh, itu, aku meeting, terus ketiduran," jawab Sultan, mata pria itu lalu melihat ke dalam rumah. "Di mana Rumaisyah?" tanya Sultan, ia butuh bicara dengan gadis itu, ia harap, malam itu ia tidak sampai merenggut kesuciannya, ya, ia masih berharap itu, meski kecil kemungkinannya karena yang ia ingat, ia melihat darah saat itu. "Di kamar, lagi istirahat, habis muntah, mana belum jadi sarapan dia," kata Sarah. "Kasihan bayinya, pasti lapar." Mendengar itu, Sultan tertegun, itu artinya, jika benar bayi itu miliknya, maka bayin

