Spontan saja dua sejoli yang sedang dimabuk napsu asmara itu melepaskan sentuhan bibir yang paling mereka harap-harapkan. Marsha dan Richard saling pandang dengan kedua mata mereka yang melebar, sembari melihat langkah kaki Bu Alin yang mengarah ke mereka.
“Lagi ngapain kamu berdua di koridor kayak gini?! Ini masih pagi loh, masih pagi!” pekik Bu Alin dengan matanya yang melebar pula.
“Hmm … anu, Ma. Gak sengaja, kok,” balas Marsha dengan menggaruk-garuk kepalanya.
“Apa kamu bilang, gak sengaja?! Bohong banget ewh!” sahut Bu Alin. “Richard, kamu ya yang ngebet begituan sama anak saya?!” cerca Bu Alin yang to the point pada Richard,
Richard menggeleng, “Enggak, Te, enggak. Gue hanya—”
“Hanya begituan terus besok-besoknya mau yang lebih, gitu!?” gertak Bu Alin lagi.
“Ma, Richard itu ke sini karena ada barangnya yang ketinggalan. Richard juga gak lama-lama kok ke sini. Yuk!” ujar Marsha yang merangkul tangan Richard.
Akan tetapi rangkulan tangan itu dilepaskan oleh Bu Alin. “Gak usah pakai pegang-pegangan tangan begitu, mau ke mana kalian?!” tanya Bu Alin.
“Mau ke kamar bentar ambil barang yang ketinggalan, punyanya Richard,” jawab Marsha.
“Gak usah pakai ke kamar segala, kalian berdua ini sedang diburu napsu setan. Nanti kalau ke kamar, malah menjadi-jadi dong!” Bu Alin langsung melarang.
“Ya udah deh mending Mama aja yang ambil, gue sama Richard nunggu di sini,” kata Marsha yang gak mau repot-repot.
“Kalian berdua tunggu di sini!” ujar Bu Alin.
“Jangan dikoridor sini lah Ma, kayak apa aja. Di situ, di ruang tunggu depan ya,” ucap Marsha.
“Iya, terserah kamu,” Bu Alin seraya membalikan badan menuju anak tangga yang tidak jauh dari koridor itu. Berhubung Bu Alin lupa membawa kartu lift, jadi ya naik tangga saja. Itung-itung olahraga pagi naik turun tangga ya, kan.
Marsha memegang tangan Richard kembali dan menuntunnya menuju ruang tunggu. Ruang tunggu apartemen memang tidak seramai biasanya, namun masih menjadi tempat yang nyaman di apartemen ini untuk menyambut tamu.
“Sayang, gak apa-apa kan ke sini pagi-pagi?” Marsha membuka obrolan.
“Gak apa-apa lah, gue selalu siap kalau lo minta ketemuan. Karena lo itu bikin mood gue balik dan ningkatnya gak tanggung-tanggung!” seru Richard khas dengan gombalannya pada Marsha.
“Ah dasar lo ya, tak ada hari tanpa gombalan!!” timpal Marsha dengan kedua pipinya yang merah.
“Hehehe, namanya juga sama pacar, wajar dong gombal sana gombal sini hehe. Oh ya ngomong-ngomong emang beneran ada barang gue yang ketinggalan di kamar?” tanya Richard yang penasaran dengan pernyataan Marsha tadi.
Marsha terkikik, “Sebenarnya gak ada sih, gue mau ngerjain Mama doang. Siapa suruh lagi enak-enaknya civvokan malah diganggu!”
“Heh! Bisa-bisanya lo resek begitu sama nyokap. Dasar pacarku ini!” Richard mengacak rambut Marsha.
“Sekali-kali orang kayak Mama ini perlu diberi pelajaran. Udah kesekian kalinya loh kita dipergokin waktu lagi sayang-sayangan,” terang Marsha merengut.
“Ya tapi jangan sampai begitu juga, dari ruang tunggu ke kamar apartemen itu jauh loh, ada sembilan lantai! Ahahaha,” seru Richard.
“Ya biarin aja, sekalian jogging di dalam apartemen tuh!” timpal Marsha. Richard menggelengkan kepala karena ulah pacarnya itu. “By the way, kenapa ya mama lo selalu sensi gitu sama gue, terlebih lagi kalau kita pengen begituan?” tanya Richard.
Marsha mengangkat kedua bahunya. “Entah ya, mungkin Mama lagi PMS kali,” jawab Marsha simple.
“Oh gitu, kirain ada apa-apa sama gue atau … mama lo gak setuju kalau kita—”
“Sayang, jangan ngomong gitu ya. Gak ada hubungannya antara setuju gak setuju itu. Yang penting, kita berdua sama-sama terus. Toh Mama gue seneng banget lo biayain hidup kita berdua. Dan kayaknya gak mungkin banget kalau Mama gak setuju sama lo,” terang Marsha dengan wajah meyakinkan.
“Oh gitu ya, mungkin aja perasaan gue ya yang selalu mandang mama lo itu ngasih jarak ke kita …” balas Richard.
“Tuh kan ngomong apa sih Sayang?? Ini masih pagi loh, jangan aneh-aneh ya!” Marsha memohon.
“Heheh iya deh, maaf ya sayang … Terus, maksud lo manggil gue ke sini, ada apa Sayang?” tanya Richard.
“Hmm, gue mau ini …” Marsha mengeluarkan ponselnya dan mengusap layarnya. Jemari Marsha lihai sekali mengusap layar tersebut dan dapatkan sebuah gambar yang sudah disimpan Marsha sejak tadi malam. “Gue pengen kursus Bahasa Inggris, boleh?”
“Ya boleh lah! Apapun yang lo lakukan dan itu bener-bener baik untuk diri lo, gue selalu dukung gak pakai berisik. Kalau lo mau kursus bahasa asing, gue bolehin kok dan gue yang bayarin semuanya,” balas Richard yang selalu memberikan angina segar atas apapun permintaan Marsha.
“Ah, serius, Sayang?! Lo kok baik banget sih, penyemangat gue bangeeeet!” Marsha auto memeluk Richard yang ada di sampingnya itu. “Tapi, bayarannya agak mahal, gak apa-apa Sayang?”
“Kalau soal bayaran, lo gak usah khawatir. Untuk apapun kemauan lo, gue akan penuhin!” balas Richard yang sudah kayak sugar daddy.
“Aaaaaa terima kasih sekali lagi, Sayang! Terus, kapan mau ngasih uangnya? Segini nih harganya,” Marsha memperlihatkan kembali nominal biaya kursus bahasa asingnya.
“Oh hanya tiga puluh juta, aman lah, Itu untuk durasi bayaran berapa lama?” tanya Richard lagi.
“Satu tahun, nanti ada sesi pertukaran pelajar ke negara sebelah gitu buat belajar bahasa Inggris,” jawab Marsha.
“Oh, itu mitip kayak kursus gue zaman sekolah, Ya udah nanti siang langsung gue kasih ya uangnya …” tanpa basa-basi Richard akan memberi cash!
“Nanti siang banget??????” Marsha tak menyangka, Richard cepat banget merespon kalau Marsha minta duit.
“Iya lah …” Richard meyakinkan. Richard menengok jam tangannya, “Gue ke kantor dulu ya, udah telat tiga puluh menit, nanti siang gue ke sini lagi dan kita keluar ya?” seru Richard.
“Oke sayangku, semua aman terkendali!” Marsha mengacungkan jempolnya dan kita lihat Richard sedang berjalan cepat menuju parkiran mobil.
“Hmm … mudah banget minta duit, kalau gitu tiap hari bisa kali ya gue porotin Richard?” pikir Marsha yang sudah membubuhi dengan pikiran licik.
“Tapi … kadang gue kasihan juga sama Richard. Dia sudah cinta mati sama gue dan ngasih apapun yang gue minta, tapi gue gak pernah ngasih apa-apa ke dia. Hanya sayang dan perhatian doang yang bisa gue kasih. Itupun gue harus pintar bagi-bagi sama—”
“MAR! kamu bohongin Mama ya?” tak lama datanglah Bu Alin dengan napas yang terengeh-engah.
Marsha terkekeh. “Heheh, maaf Ma, biasanya kalau pagi-pagi gini keisengan gue meningkat!” balas Marsha.
“Iya! Mama sudah cari kesana-kesini mana barang Richard yang ketinggalan, tapi gak ada. Dasar kamu yaaa sudah pagi-pagi bikin Mama emosi di koridor, sekarang begini!” amarah Bu Alin memuncak, seraya ia mengelap keringatnya yang bercucuran di pelipisnya.
“Maaf banget, Ma … Ma, gue mau ke kamar dulu,” Marsha ngacir menuju lift dan meninggalkan Bu Alin di ruang tunggu.
“HEH! MARSHA! Barengan naik liftnya! Mama gak bawa kartu lift!!!!” Bu Alin mengejar Marsha yang sudah duluan masuk ke lift. Pintu lift itu pun tertutup, Bu Alin menggedor-gedornya, “MAR!!! MARRRR! Dasar ya anak hasil hamil di luar nikah ya gini, ribet bangettttttt!” pekik Bu Alin yang mengenang masa lalunya itu.
***
Sesampainya di kamar, Marsha menyambut hari itu dengan suka cita karena Richard mau memberikannya sejumlah uang untuk kursusnya.