Adnan menjatuhkan tubuhnya di samping Khalisa setelah menuntaskan hasrat mereka beberapa saat yang lalu, seraya mengusap wajahnya yang berkeringat dan masih berusaha mengenyahkan pikiran yang tetap berputar di kepala. Raganya bergumul dengan tubuh Khalisa, tetapi jiwanya melayang mengingat Safira yang berada di rumah Melia. Entah mengapa, semakin dia berusaha merelakannya semakin kuat pula bayangan perempuan itu menguasai pikirannya. Padahal sudah jelas dari percakapan di malam sebelumnya, bahwa apa pun yang terjadi setelah ini tidak ada yang akan berhubungan dengan perasaan mereka. Tetapi nyatanya, Adnan tidak bisa. "Ayah, sedang tidak enak badan ya?" Khalisa bergeser kemudian mengeluarkan tangannya untuk memeluk tubuh suaminya. "Tidak, hanya …." "Ayah kurang semangat hari ini." Perem

