Pertikaian di Sebuah Gang

809 Words
Lutut Lora terasa lemas, bukan karena lelah berjalan kaki dari halte yang jauh, melainkan karena rasa hampa yang menusuk. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Sinar matahari akhir musim kemarau terasa menyengat di kulit, tapi rasa dingin menjalar di dalam dadanya. Baru saja ia menyerahkan berkas lamaran kerjanya, huh …. mungkin yang kesekian kalinya bulan ini, di pos satpam sebuah pabrik kertas yang besar di pinggiran kota. Pabrik itu terlihat menjanjikan, dengan gedung yang tinggi dan kokoh, penuh asap putih yang mengepul seolah menjanjikan masa depan. Namun, janji itu terasa jauh dan tidak pasti. Ia merasa lelah tapi harus melangkah, bergerak cepat bersaing dengan yang lainnya. “Mohon ditunggu kabar pemanggilan, Neng. Kalau lulus administrasi, nanti dihubungi,” ujar Satpam tadi dengan nada datar. Menunggu. Selalu kata itu. Ia mulai bosan, tapi sudah terbiasa seperti layaknya makanan yang disantap setiap hari. Lora Maharani, gadis berusia 19 tahun itu menggenggam erat tali tas selempangnya yang sudah usang. Di dalam tas itu hanya ada dompet tipis, ponsel model lama, dan sebuah foto buram ayahnya. Ayah telah pergi enam bulan lalu, dan kepergiannya meninggalkan lubang hitam berupa hutang yang cukup banyak dan kekosongan di rumah kecil mereka. Ibunya, satu-satunya yang Lora miliki, mulai sering sakit-sakitan akibat kelelahan bekerja serabutan. Usianya masih muda, sekitar 45 tahunan, tapi ibunya memiliki riwayat penyakit dalam cukup lama dan harus sering beristirahat di rumah. Dan Lora sendiri, sang anak tunggal, merasa seluruh beban dunia kini bertumpu di pundak kurusnya. Ia merasakan beban ini terlalu menghimpit tatkala ibunya harus berobat ke dokter dan butuh uang banyak untuk menebus obat. Penghasilan ibunya sebagai penjahit di rumah kini benar-benar tidak cukup. Kadang menerima permak pakaian tapi tidak setiap hari menerima. Beruntung minggu kemarin ada yang datang untuk minta dijahitkan baju. Sayangnya, Ibunya tidak selincah dulu saat Ayahnya masih ada. Sedikit-sedikit ia mulai belajar membantu ibunya dan hasilnya cukup lumayan tanpa perlu les menjahit. Setelah Ayahnya tiada, ibunya seperti kehilangan arah dan sering bersedih, menimbulkan penyakit yang bertahun tak kambuh kini bertambah parah. Lora cukup mengerti, Ayahnya orang yang baik, Ibunya belum siap menerima kenyataan bahwa suaminya telah meninggal dan membuat semuanya berubah. Lora berjalan cepat menyusuri trotoar yang ramai. Ia harus segera pulang dan membantu ibunya merapikan jahitan, serta mencoba mencari kerja paruh waktu di warung terdekat. Saat melangkah ke sebuah jalan pintas yang agak sepi, di sebuah gang sempit di antara dua bangunan tua, telinganya mendengar sesuatu. Lora tiba-tiba berteriak karena kaget. Terdengar suara keras, benturan kasar, dan umpatan yang dalam. "Cepat! Selesaikan urusannya di sini! Jangan sampai ada yang dengar!" Lora sontak menghentikan langkahnya. Jantungnya mulai berdebar kencang, memukul-mukul tulang rusuknya seperti genderang perang. Di depan, hanya beberapa meter darinya, di balik tumpukan kotak-kotak kayu bekas, sebuah pertikaian brutal sedang berlangsung. Tiga pria berbadan besar dan berpakaian serba gelap tengah mengapit satu pria lain yang sudah tersungkur di aspal. Pria yang tersungkur itu merintih, mencoba melawan, namun tidak berdaya. Ini bukan perkelahian biasa. Ini terlihat seperti... pemukulan yang direncanakan. Ada aura kekerasan dingin yang berbeda, bukan sekadar perkelahian preman pasar. Mereka bergerak cepat, terkoordinasi, dan sangat efisien. Tubuhnya gemetar melihat semua itu di depan matanya. Apakah ada gangster? Atau Debt Collector yang terlalu kasar merebut barang rampasannya? Saat Lora mematung dalam ketakutan, salah satu pria itu mengangkat sebuah balok kayu pendek. "Kamu berani mengkhianati Tuan Devon? Ini balasan untuk kebodohanmu!" geram pria itu, suaranya berat dan mengancam. Nama yang disebutkan. Devon. Nama yang entah kenapa terasa dingin di udara sore itu. Ia mendengarnya hingga menahan napas. Seharusnya ia lari, atau berbalik dan pura-pura tidak melihat apa-apa. Namun, tubuhnya membeku. Mata polosnya yang dipenuhi ketakutan itu telah merekam terlalu banyak. Gerakan tiba-tiba dari si pemukul membuat Lora tanpa sadar tersentak mundur, kakinya menginjak sebuah kaleng bekas, menghasilkan bunyi KLANG! yang nyaring memecah keheningan gang. Ia menutup mulutnya agar tidak bersuara tapi terlambat dengan bunyi gemerisik tadi. “Aduh,” jeritnya tertahan. Tiga kepala menoleh serentak. Tiga pasang mata tajam, layaknya mata predator, langsung tertuju padanya. Pria yang memegang balok kayu itu menjatuhkan senjatanya dan menunjuk ke arah Lora dengan ekspresi terkejut yang cepat berubah menjadi kemarahan. "Ada saksi! Sialan! Kejar dia!" Adrenalin seketika membanjiri seluruh tubuh Lora. Rasa takutnya berubah menjadi dorongan untuk tidak ingin tertangkap. Ia secara tidak sadar menjadi seperti sebuah mangsa yang mendapatkan ancaman akan kena tombak jika dibidik dari jauh. Kemudian tanpa menunggu lama, ia pun berbalik dan lari secepat yang ia bisa, tanpa memikirkan arah, hanya ingin menjauh dari gang sempit yang baru saja menjadi saksi kebrutalan dunia gelap. Ia berlari, napasnya tersengal, telinganya dipenuhi suara langkah kaki berat yang mengejarnya. Ia tahu betul, jika mereka menangkapnya, riwayatnya tamat. Mereka seolah meneriakkan, saksi tidak boleh hidup. Napasnya memburu, mereka terus mengejarnya. Dan tanpa ia sadari, teror yang baru saja ia saksikan adalah gerbang neraka yang akan membawanya langsung ke kaki pria yang baru saja namanya ia dengar, Devon, seorang Tuan Mafia yang paling Berbahaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD