Hari minggu, setelah Asya mengatakan untuk mengajak Rafael bermain dengannya dan Silfa akhirnya tiba. Asya sudah mengontak Rafael dan menjelaskan perihal agenda hari ini. Mereka akan bertemu di salah satu gerai donat yang berada di salah satu mall di kawasan Jakarta Selatan.
Sejak pagi, Silfa sudah repot memilih baju yang cocok untuk ia gunakan. Nyaris seisi lemari diberantakin Silfa, padahal Asya sudah bilang gak perlu ribet ribet, nanti Rafael malah menangkap gelagat itu dan Silfa akan malu sendiri. Tapi memang dasar Silfa tak mau mendengar ucapan Asya, alhasil kini cewek itu sedang mengacak lemari Asya untuk meminjam baju milik Asya.
Tidak cukup sampai di situ, Silfa juga sedang bingung untuk mengaplikasikan make up seperti apa di wajahnya agar terlihat tetap natural dan tidak pucat. Asya nyaris pingsan melihat segala persiapan Silfa yang sudah dilakukan sejak pukul delapan pagi, padahal waktu mereka janjian adalah pukul dua siang! Silfa benar benar sudah gila, Asya tidak habis pikir melihat kelakuan temannya itu.
“Syaaa, ini bagus kan?” tanya Silfa sambil menggunakan sebuah dress dengan rok di atas lutut yang menampilkan kesan girly dan anggun, cocok bagi Silfa yang memiliki kaki jenjang serta pinggang ramping. Dress itu juga tidak seperti mau ke pesta, dan sangat cocok untuk digunakan hangout ke mall.
Asya akhirnya mengangguk, setelah berkali kali Asya menolak baju yang digunakan Silfa karena terlalu berlebihan. “Iya bagus, Fa. Pake itu aja.” Kata Asya yang menyetujui pilihan Silfa pada akhirnya yang menjatuhkan pilihan menggunakan baju dari lemari Asya.
“Whoaa akhirnya approve juga sama Asya.” Kata Silfa sambil berteriak heboh mendengar ucapan Asya yang akhirnya menyetujui pilihannya.
Silfa segera melepaskan baju tersebut untuk di lipat dan akan ia gunakan nanti saat mau berangkat. Jika ia gunakan sekarang yang ada bajunya malah lepek karena aktivitasnya seharian ini yang memungkinkan juga akan bau keringat karena kegerahan.
“Gue harus pake make up gimana nih Sya?” tanya Silfa yang kini sudah melompat ke tempat tidur Asya, sedang sang empunya kasur sedang berbaring dan menonton Silfa yang barusan mengacak acak lemarinya.
Dalam diam Asya sedang berpikir, alasan apa yang nantinya akan ia pakai saat mengatakan tidak bisa ikut bersama mereka? Gak mungkin sakit perut, itu sudah biasa. Ah! Asya harus bilang ada acara atau apalah, kebetulan sekali Veya tidak kemana mana, tepatnya sih Veya memang tidak pernah kemana mana saat hari libur seperti ini. Adiknya itu kan lebih senang berada di dalam kamar untuk membaca novel atau menonton film atau drama atau apa pun itu yang bisa dilakukan di dalam kamar.
Silfa akan memperalat adiknya sebagai alasan agar ia tidak perlu mengikuti acara Silfa dan Rafael ini, biarkan saja mereka jalan berdua dan menikmati masa masa berkenalan kembali. Kan selama ini hanya Silfa yang mengenal Rafael, Rafael tidak terlalu mengenal Silfa. Yang diketahu Rafael hanya sebatas nama Silfa, bahkan nama lengkapnya saja belum tentu hafal.
“Sewa MUA aja sekalian, Fa!” kata Asya yang gemas saat mendengar Silfa yang kebingungan dengan make up nya.
Silfa memanyunkan bibirnya mendengar jawaban Asya. Harusnya Silfa tahu Asya itu sangat tidak solutif jika ditanyai pendapat.
Sepanjang mereka mengoceh Silfa sibuk membalasi pesan dari Rafael di grup yang mereka buat untuk janjian kali ini. Silfa senang setengah mampus karena bisa chattan dengan Rafael meski hanya sebatas di grup yang bahkan ada Asya di sana. Tapi Asya memang sangat pasif dan enggan untuk merespon yang tidak penting di grup tersebut. Jadi dibiarkannya Silfa dan Rafael mengoceh semau mereka.
Beruntung juga Rafael sama sekali tidak menyenggol perihal perasaannya dengan Asya. Rafael benar benar bersikap seperti teman lama Silfa yang sedikit banyak bertanya tentang kegiatan Silfa belakangan ini. Jangan ditanya reaksi Silfa seperti apa, sudah pasti heboh luar biasa dan berjingkrak di atas kasur Asya.
“Syaa, udah jam sebelas, gue pulang dulu ah mau mandi.” Kata Silfa yang mulai beranjak dari tempat tidur Asya dan berjalan menuju pintu untuk keluar.
Asya tampak bingung mendengar ucapan Silfa yang mengatakan mau mandi. “Bukannya lo udah mandi, Fa?” tanya Asya heran, seingatnya pagi pagi saat mendatangi rumah Asya, rambut Silfa bahkan masih basah karena baru mandi dan keramas.
Silfa nyengir terlebih dahulu lalu menjawab, “Mandi lagi dong, Sya mau ketemu pujaan hati. Ini udah keringetan lho, kalo Rafa mencium aroma aroma yang tidak diinginkan gimana? Nanti dia malah ilifl duluan sama gue.” Silfa menjawab dengan lancar yang kemudian segera berlalu meninggalkan kamar Asya.
Asya hanya menggelengkan kepalanya, tidak mengerti dengan sikap Silfa yang bisa sampai segitungya. Namun Asya tidak mau terlalu ambil pusing dan memilih untuk melancarkan rencananya saja. Hal pertama yang Asya lakukan tentu saja chat di grup bahwa ia tidak bisa ikut acara ini, dan selanjutnya Asya harus segera pergi ke luar bersama Veya sang adik tercinta itu.
Asya : Gais sori banget
Asya : Gue gak bisa join nih
Asya : Adek gue, si Veya mendadak manja minta ditemenin jalan jalan buat nonton dance cover gitu
Asya : Veya kan lagi suka nontonin gituan, padahal dia gak terlalu suka kpop
Asya : Sori banget yaa
Asya : Have fun guys
Asya selesai mengetikan isi pesan ke grup chatnya itu, lalu Asya beranjak untuk menuju kamar Veya yang berada di sebalahnya. Asya sempat mengeluh saat mendapati kamar Veya yang terkunci, duh dedek ini sok privasi sekali, kamar Asya aja tidak pernah di kunci. Demi kedamaian soalnya, kalo sampe di kunci, yang ada setiap kali Silfa datang malah menggedor gedor kamarnya. Yang ada gendang telinga Asya resign karena terlalu sering mengkonsumsi keberisikan.
Setelah mengetuk pintu, beberapa detik kemudian terdengan suara derap langkah kaki yang mendekat ke pintu, tak lama pintu kamar Veya pun terbuka dan menampilkan sosok cewek berusia remaja yang menggunakan kaos yang pas dengan tubuhnya dan celana hot pants sepaha. Tak lupa cewek itu tetap menggunakan kacamatanya karena Asya dapat melihat buku yang tergeletak di atas tempat tidur Veya menandakan cewek itu sedang membaca buku.
“Kenapa, Kak?” tanya Veya datar, sambil membenarkan letak kacamatanya yang sedikit merosot.
“Keluar yuk, Ve?” ajak Asya langsung, to the point tanpa basa basi.
Veya yang di ajak agak kebingungan, mengingat jarang sekali kakaknya mengajak Veya untuk keluar dengan alasan apapun.
“Keluar?” tanya Veya mengulangi ajakan kakaknya itu.
Asya mengangguk, lalu segera menyeret Veya. “Udah yuuk, minjem mobil Mama, mumpung libur.” Asya segera menarik pergelangan lengan Veya membuat cewek itu kewalahan dengan gerakan Asya.
“Tapi, Kak. Aku pake baju kayak gini, aku ganti baju dulu.” Veya menunjuk bajunya yang terkesan santai dan terbuka, ia mana pernah menggunakan baju seperti ini untuk ke luar.
Asya memperhatikan penampilan Veya. Sebenarnya tidak ada yang salah, Veya terlihat bagus menggunakan pakaian seperti itu, lebih terlihat hidup dan fresh malah dibanding style Veya sehari hari. Akhirnya Asya menggeleng. “Gak usah! Bagus kok kayak gitu. Masa lo pake baju gombrang gombrong sih, banyak loh orang ke mall pake hotpants.” Kata Asya yang kini sudah menarik Veya untuk ke halaman rumahnya dan berada di dalam mobil milik ibunya.
Meski Asya tidak membawa kendaraan ke kampus, tapi cewek itu bisa mengendarai mobil. Bahkan ia sampai memiliki SIM A, tapi sayang orang tuanya belum mempercayakan untuk memberikan kendaraan pribadi pada Asya. Katanya nanti saja jika Asya sudah kerja dan bisa membeli mobil sendiri, setidaknya orang tuanya sudah memberikan dp berupa SIM pada Asya.
Mereka berdua kini sudah berada di dalam mobil, Veya tampak masih kebingungan dengan sikap kakaknya, yang tiba tiba menculik dirinya tanpa tahu kemana tujuannya.
Bahkan wajah Veya pasti terlihat aneh sekali karena sedari pagi hanya bersembunyi di balik bantal. Veya sempat protes dengan sikap kakaknya namun tidak bisa membantah karena ia didorong masuk ke dalam mobil dan seketika pintu mobil dikunci lalu mobil itu sudah jalan dan bergabung dengan kendaraan lain yang ada di jalanan.
Veya menoleh ke arah Asya yang sudah mengendari mobilnya entah ke mana. “Ka Asya apa apaan sih? Aku mau di ajak ke mana?” tanya Veya yang masih kebingungan.