Gerrie langsung menyalakan rokoknya begitu memasuki mobil Tarra. Perasaannya perlahan tenang saat menghisap benda itu. Namun, wajahnya muram, karena tiba-tiba saja bayangan wajah papanya yang bengis terlintas di benaknya. Dan kini dia kembali mengingat ekspresi kekecewaan dari wajah papanya saat mengusirnya dari rumah. "Mulai sekarang kamu bukan anak Baharuddin Muchtar!" Gerrie sedikit bergidik mengingat kata-kata itu. Kata-kata papanya ketika mengusirnya dari rumah. Dan baru saja dia mengakui kalau dia anak Baharuddin Muchtar saat di rumah Tarra. Gerrie kini benar-benar merasa terhina. Mengaku-ngaku anak Muchtar? Sementara dia saja sudah tidak diakui lagi. Kok? "Kok elu bisa berpikiran bahwa gue anak Baharuddin Muchtar?" tanya Gerrie setelah menghembuskan asap rokok dari mulutnya. "Gu

