05. First Kiss

1116 Words
“Deket-deket sama lo tuh selain bikin naik darah, ternyata bisa bikin gue gagal jantung sama diabetes juga. Fix komplikasi!” ---- Cuppp... Alan mengecup buku paket tepat di depan wajah Bella. “Lima tahun kita pacaran, aku belum pernah cium kamu, lho!” Alan menatap lemas kea rah lain. Bella masih termenung. Namun, dehaman Gita yang baru masuk ruangan membuat kesadarannya kembali dan langsung menepis kedua tangan Alan kasar. “s****n!” Bella menggebrak meja dan langsung berlari ke toilet. Gita yang melihat kejadian itu langsung mengejar Bella. “Dasar s****n! Berani-beraninya dia mau cium gue!” geram Bella. “Gita…” Bella berbalik memeluk Gita dan menangis. “Si Alan itu emang s****n! Masa gue mau di kasih bibir bekasan cabe? Untung gue cepet antisipasi!” Gita menatap wajah Bella meminta penjelasan lebih. “Lo tau gak, kenapa gue putus sama Alan?” tanya Bella yang hanya mendapat gelengan dari Gita. “Karena gue liat dia lagi emut-emutan sama Sandra di toilet,” lanjutnya. “Sandra? Cassandra? Yang selebgram itu?” Gita menggeleng tak percaya. “Lo salah lihat kali.” “Depan mata gue langsung, Git. Kalo Alan gak nengok, gue juga gak bakal tau kali!” Bella meyakinkan Gita bahwa yang dilihatnya memang benar. “Gue pikir doi lo beda. Eh, sama aja ternyata, ke goda juga sama Sandra. Tapi, emang ketahuan sih dari awal kalo si Sandra ngincer cowok lo,” ujar Gita. “Ralat, MANTAN!” Bella menekan kata mantannya. “Lo sih gak pernah ngasih, makanya doi lo main di luar.” Gita terkekeh. “Najisun!” Gita masih belum yakin terhadap penjelasan yang diberikan Bella. “Lo udah minta penjelasan Alan?” “Penjelasan apa? Khilaf? Cowok tuh kalo udah enak aja baru bilang khilaf!” Bella mendengus kesal. “Sekali khilaf, dimaafin. Nanti, lama-lama keenakan dianya lah! Jadi, gue udahin aja, gak ada toleransi!” “Mata gue jadi tercemar gara-gara liat adegan emut-emutan, live di depan muka gue. Dan yang lagi emut-emutannya cowok gue sama cewek lain.” Bella menumpahkan segala kekesalan yang ia simpan sendiri selama dua bulan ini. “Bahasa lo, emut-emutan.” Gita terkekeh lagi. “Ya terus apa? Kalo gue bilang ciuman, nanti ada anak kecil yang baca kan gak enak!” “Itu lo sebut! Ya elah!” “Keceplosan! Lo sih!” Bella mengerucutkan bibirnya. “Kok gue?” Gita menunjuk dirinya sendiri. “Udah ah keluar, yuk! Gak baik lama-lama di toilet. Serem.” Di luar toilet wanita, Alan sudah berdiri menunggu Bella keluar. “Gue duluan!” Gita mempercepat langkahnya meninggalkan kedua makhluk yang sedang berseteru. Bella ingin menyusul Gita. Namun, pergelangan tangannya dicekal Alan. “Lepasin gue s****n!” “Sayang,” panggil Alan. “Stop panggil gue kayak gitu!” Bella menunjuk wajah Alan. “Bel, ayolah. Apa kamu gak bosen hidup monoton gitu?” “Oh jadi selama ini hubungan kita ngebosenin? Dan gue monoton? Kolot? Gak gaul? Gak kekinian? Sorry, Lan gue ini cewek yang punya prinsip. Kalo gue tau lo bosen, dari dulu aja gue putusin lo! Silakan cari cewek bebas kayak yang lo mau!” Bella berlari meninggalkan Alan dengan air mata yang tak bisa dibendung lagi. Bella berlari sepanjang koridor sekolah. Beruntung saat itu KBM masih berlangsung, jadi jarang murid yang berkeliaran di luar. Bella memang sudah merasa ada yang lain dari Alan, wibawa lelaki itu semakin lama semakin pudar. Bella terus berlari hingga dirinya menabrak seseorang di depannya. Badannya hampir terhunyung ke belakang, tapi beruntung orang yang ditabraknya dengan sigap menangkap tubuh Bella agar tidak terjatuh. Setelah Bella melihat anak yang ditabraknya adalah Devon, ia ingin segera melarikan diri dari sana. Namun, dengan sigap, Devon mencekal pergelangan tangannya. Kemudian, menarik gadis itu ke pelukannya. Tentu saja, karena saat itu sedang tidak ada siapa-siapa. Bella akui, aroma tubuh Devon membuatnya nyaman sejak kali pertama gadis itu menciumnya. Dan mungkin, dengan pelukan anak lelaki itu bisa membuatnya lebih tenang. Devon membiarkan Bella menangis dalam pelukannya beberapa menit. Sesekali, ia mengusap puncak kepala Bella untuk menenangkannya. “Devon,” panggil Bella lirih. Ia mengendurkan pelukannya. “Iya, Miss. Devon ganteng di sini. Miss kenapa?” tanya Devon menatap wajah Bella yang dipenuhi air mata. Bella terkekeh dalam tangisnya mendengar kata-kata Devon. “Miss mau nangis apa ketawa sih? Konsisten dong, Miss, jangan bikin saya bingung.” Devon melihat kemeja putihnya yang basah oleh air mata Bella. “Kita ke UKS ya, Miss.” Devon menuntun Bella dan membawanya ke UKS. “Devon, maaf ya, saya bikin seragam kamu basah.” Bella merutuki dirinya yang begitu bodohnya diam saja dipeluk Devon dan menangis dipelukannya. “No problem, Miss! Saya dibasahin yang lainnya juga ikhlas kok. Apasih yang enggak buat Miss?” Devon menaik turunkan alisnya menggoda Bella. Wajah Bella memerah dan ia menyembunyikannya dengan memalingkan wajahnya ke arah lain karena tidak ingin malu dua kali. “Wajah Miss merah gitu. Miss pasti bayangin yang nggak-nggak kan sama saya?” Devon menunjuk wajah Bella. Bella yang sudah tertangkap basah akhirnya membalikan wajahnya. “Idih enak aja!” “Ngaku aja, Miss! Kalo Miss mikir yang nggak-nggak, biar saya wujudkan biar jadi iya-iya.” Devon menahan tawanya. “Lo ngomong apa sih, Dev?” Bella mencubit lengan Devon. Kemudian menutup mulutnya menyadari apa yang diucapkannya tadi. Setelah bertukar banyak cerita, tentu saja, bukan alasan mengapa Bella menangis. Tapi, mengenai usia keduanya yang ternyata hanya terpaut tiga tahun. Ya, Bella memang paling muda di antara rekan-rekannya. “Oke kalo gitu gue panggil lo Bebel, kayak si Siput,” tutur Devon akhirnya. Bella juga tidak mau kalah memanggil Devon dengan panggilan Dedep, yang tentu saja langsung tidak disetujui oleh sang pemilik nama. “Dedep? Idih gak mau, kayak cewek!” “Bodo amat! Dedep! Lo ngapain jam masuk kelayapan?” “Pelajaran fisika. Gue gak bikin tugas, terus dikeluarin,” jawab Devon enteng. “Dasar anak nakal!” “Gue kalo fisika males sih.” Anak lelaki itu mengedikan bahunya. Lalu terjadilah perdebatan keduamya. Devon yang tak terima dengan cibiran Bella terus saja membela dirinya. “Ngeles aja heran! Dasar bajaj!” Bella menjewer kuping Devon. Namun, anak itu tak tinggal diam, ia menarik hidung Bella hingga gadis itu kesulitan bernafas. “Hap... Hap... Hue habisa hapash..” Suara Bella sampai tak jelas. Namun, itu malah membuat Devon tertawa. Anak itu tak merasa bersalah samasekali. “Kayak ikan di darat lo.” Devon menoel hidung Bella yang memerah karena ulahnya. “Tugas lo harus selesai tiga hari lagi. Gue gak mau tau!” Bella meninggalkan Devon di UKS, anak itu masih menganga dan terpaku karena pembalasan Bella sangat kejam untuknya. Bella yang sedikit menoleh ke arah Devon menyeringai melihat ekspresi murid nakalnya itu. “Rasain lo!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD