“Naya, tunggu!” Aku berusaha menghindar ketika Farhan memanggil namaku di parkiran kantor. Aku buru-buru melangkahkan kaki menuju lobi, tapi langkah kakinya yang panjang membuatnya berhasil menahan pergerakanku. “Nay, tolong dengerin aku.” Farhan membalikkan tubuhku hingga kini menghadap ke arahnya. Aku berusaha menepis cekalan tangannya pada lengan atasku. “Lepas!” “Aku ngga bakal lepasin kamu, sebelum kamu dengerin penjelasan aku.” “PENJELASAN APA LAGI?!” teriakku keras, membuat beberapa orang yang berada di parkiran kantor memperhatikan kami. Namun, aku tidak peduli. Yang aku pikirkan sekarang adalah diamnya Farhan yang berdiri membeku di depanku. Aku menunggu dia bersuara dan menjelaskan semuanya, tapi hasilnya nihil. Dia hanya diam menatapku dengan tatapan yang sulit dibaca. Ak

