SISI RAPUH RUBY

3013 Words
Ruby menghempaskan tangan Genta yang terus menarik nya, tepat saat mereka tiba di taman belakang sekolah. Tangan nya berhasil terlepas dari cengkraman kuat cowok itu, dengan sorot mata tajam dan menahan amarah dia menatap Genta. Genta membalas tatapan tajam milik Ruby itu tak kalah tajam nya. "Jangan ikut campur urusan gue! Kalau lo dan sepupu lo itu mau aman sekolah disini." seru Ruby sarat akan penekanan dan peringatan. "Gue bukan orang b**o yang diam aja di saat ngelihat pembullyan yang begitu sadis di sekolah ini." balas Genta tak kalah sengit nya. Emosi Ruby terus bergejolak di dalam d**a nya. Dia marah, karna ada orang yang berani-bernai nya menghenti kan nya, di saat dia belum merasa puas membully orang. "lo bukan siapa-siapa di sekolah ini. Jadi jangan belagak seperti pahlawan kesiangan. Apa pun yang gue lakuin di sini, itu bukan urusan lo! Ngerti!" kali ini suara Ruby kembali terdengar dingin. Genta menatap lawan bicara nya dengan d**a yang naik turun, menandakan ada amarah yang masih bergejolak di dalam sana. Awal nya dia diam saat melihat aksi bully itu dari kejauhan, tapi semakin tindakan itu melewati batas, entah kenapa hati nya mendadak marah dan tidak terima.  "Tega lo ya! Dengan tanpa punya hati nya elo ngebully Siska kayak gitu. DIMANA HATI NURANI LO??!!" teriak Genta di keheningan taman belakang sekolah itu. Hanya ada mereka berdua di sana, dan sudah dapat di pastikan tidak akan ada yang mendengar teriakkan berang tersebut. Tangan Ruby terkepal. Ini adalah pertama kali nya ada orang yang berani menentang tindakan nya. Dia maju selangkah, memperpendek jarak nya dengan cowok itu. "Lo denger ya! Jangan bilang gue gak pernah bilang ini sama lo. Gue emang gak punya hati, dan hati gue udah mati! Jadi apa pun yang lo lihat itu adalah the real gue yang sebenarnya. Jadi berhenti bermain-main api dengan gue Genta!!." gIgi Ruby bergemelatuk saat mengucapkan itu, menandakan keregaman nya. Genta menatap tidak percaya pada Ruby, bagaimana mungkin ada orang sekeras gadis ini? Dia menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan, mencoba meredam setiap emosi yang bergejolak dalam diri nya. "Apa sih yang lo dapatin dari membully orang?" tanya nya dengan suara yang lebih tenang. "Kepuasan. Kepuasan batin yang gue dapet. Gue bahagia saat ngelihat orang menderita." jawab Ruby frontal tanpa ragu. Dan jawaban itu mampu membuat Genta tertegun, dia tidak menyangka jika itu lah jawaban yang di dapat nya dari gadis itu. Genta menggelengkan kepala nya seraya terus menatap manik mata Ruby. "Bahagia lo bilang? Di saat lo ngelihat orang lain hancur lo bahagia?" "Iya gue bahagia. Ekspektasi lo tentang gue salah, gue bukan orang yang mempunyai hati barang sedikit pun. Gue bukan Ralin yang lemah lembut, bukan Ralin yang berhati malaikat." balas Ruby seraya berbalik tubuh, berniat meninggalkan tempat itu. Sampai sebuah suara menghentikan langkah nya. "Pernah gak lo sekali aja mikirin kebahgaian orang lain? Pernah gak---" "PERNAH GAK ORANG LAIN MIKIRIN KEBAHAGAIAAN GUE?!!" Ruby memotong ucapan itu dengan cepat di sertai dengan teriakan berang nya. Seketika dia berbalik dan menatap Genta dengan d**a yang naik turun. Cowok itu terdiam mendengar teriakan berang yang pertama kali keluar dari mulut Ruby. "Pernah gak mereka sekali aja ngerti perasaan gue? Dan pernah gak mereka sekali aja mikir kebahagiaan seperti apa yang gue mau? Hah? Pernah?" Genta tertegun sesaat melihat air mata yang mengalir di kedua pelupuk mata Ruby. Queen bee kejam itu menangis di depan nya. Sulit di percaya, tapi itu lah kenyataan nya. "APa orang-orang itu ada di saat gue hancur? Apa mereka peduli di saat gue lagi butuh dinding untuk bersandar? APA MEREKA ADA DI SAAT GUE BUTUH?!!" teriakan itu kembali terdengar seiring dengan meluncur nya air mata Ruby yang untuk kesekian kali nya. Teriakan yang penuh dengan emosional. Genta masih terdiam. "APA MEREKA PERNAH MENANGIS BARANG SEKALI DI SAAT GUE MENANGIS? JAWABAN NYA ENGGAK! MEREKA GAK PERNAH MELAKUKAN SEMUA ITU, MEREKA GAK PERNAH MEMIKIRKAN ITU. MEREKA SEMUA GAK PEDULI !!" Genta semakin tertegun melihat luapan emosional di diri Ruby. Sekarang dia seakan tau, bahwa teriakan dan setiap kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu adalah luapan perasaan yang selama ini terpendam di dalam d**a. Perasaan rapuh yang selama ini di sembunyikan gadis itu. Dan inilah sosok asli yang di lihat nya dalam diri gadis itu. Rapuh. Genta terus menatap sendu gadis itu yang kembali membelakangi tubuh nya. Walaupun begitu, dia tau, gadis itu menangis. Dia dapat melihat dari gerakan pundak nya yang bergetar hebat. Sekarang dia yakin, dia tidak salah menilai, bahwa gadis ini bukan lah sosok kejam yang seperti di kenal orang-orang. Tapi justru gadis yang berusaha menyembunyikan sosok asli nya. Agar tidak seorang pun tau bahwa dia punya titik lemah. "Kadang lo harus nangis. Supaya lo lebih merasa tenang. Dan kadang lo harus berteriak, agar gumpalan perasaan emosional tak lagi ada." ☔☔☔☔☔ Jam istirahat telah berakhir sekitar satu jam yang lalu. Proses belajar mengajar kembali berlangsung di SMA Saga. Di kelas XII IPA 3 kini tengah mengajar Buk Emy sang wali kelas. Semua murid sibuk memperhatikan guru itu yang mulai menulis di papan tulis, menulis rumus-rumus matematika. Nesya sedikit membalikkan tubuh nya saat di rasakan nya ada yang menepuk pelan pundak nya. Dia mengangkat kedua alis nya saat di dapati nya Ranaya mencondongkan tubuh nya. "Ruby mana?" bisik Ranaya seraya melirik bangku di sebelah Nesya yang kosong. Nesya ikut melirik bangku di sebelah kanan nya yang kosong. Teman sebangku nya itu memang tidak terlihat lagi sejak adegan bully berakhir. "Gue gak tau. Dia gak ngabarin." jawab nya dan kembali melirik ke arah Ranaya yang kini mendengus. "Dia ngelakuin hal aneh gak ya." suara Ranaya terdengar khawatir. Namun masih dalam keadaan berbisik. Takut jika nanti suasana belajar terganggu. "Gak mungkin lah. Dia mau ngelakuin apa an coba. Satu-satu nya pelampiasan kemarahan dia kan cuman ngebully." Yuma ikut menimpali. Gadis itu berhenti sejenak dari ativitas menulis nya. "Iya juga sih. Tapi jangan lupain! Balapan salah satu cara Ruby juga." Balas Ranaya. "Oke semua nya!" perhatian ketiga anggota BlackHeart yang saling berbisik tadi harus terhenti dengan suara Buk Emy di depan sana. Mereka langsung menyudahi percakapan singkat itu dan kembali menatap ke depan. "Tolong kalian kerjakan buku cetak halaman 101, nomor 1 sampai 10. Nanti di kumupul!" seru Bu Emy seraya menatap sekeliling ruangan kelas. Mata nya berhenti pada bangku kosong di depan Yuma tepat nya di samping Nesya. Dia tau itu bangkut siapa. "Mana Ruby?" tanya nya menatap ke empat anggota BlackHeart bergantian. Stefi yang duduk di depan Nesya menoleh ke belakang, menatap bangku kosong milik Ruby, lalu beralih menatap ke tiga teman nya yang tidak tau akan menjawab apa. "Kenapa kalian diam?" suara Buk Emy menyadarkan mereka. "Ruby, dia harus ngerjain tugas kimia nya pak Dadang buk." Stefi yang menjawab mewakilkan tema-teman nya. Dia melirik ke tiga teman nya nya yang tampak bingung. Tapi setelah itu, mereka sama-sama mengangguk walau sedikit ragu. "Ya sudah. Tapi tolong kasih tau Ruby, dia harus ulangan susulan besok." kata Buk Emy dengan suara tegas, dan di anggukan ke empat anggota genk BlackHeart. Sebelum fokus pada pekerjaan nya, Buk Emy kembali melirik bangku kosong milik Ruby itu. Dia sempat mendengar keributan anak-anak Saga tentang Ruby yang kembali membully, dan kali ini korban nya adalah Siska, yang termasuk anak didik nya di kelas ini juga. Dia menghela nafas nya sebentar, lalu kembali fokus pada laptop nya. Stefi yang melihat Buk Emy mulai sibuk, membalikkan tubuh nya ke belakang. "Coba deh kalian wattshap, dia dimana?" pinta nya dan di anggukan Nesya. Nesya mulai mengetikkan pesan di ponsel nya. Tak lama ponsel nya kembali bergetar. Dia mebaca pesan yang tertera di di sana. Ranaya, Yuma dan Stefi telah menunggu. "Gimana?" tanya Ranaya kepo. Begitupun dengan Yuma dan Stefi. "Dia lagi di perpus. Dan dia minta kita buat pulang duluan aja nanti. Sekalian bawain tas dia ke sana." seru Nesya menjawab rasa penasaran teman-teman nya. "Ruby ngapain di perpus?" tanya Yuma. Nesya mengangkat bahu nya. "Pasti nya bukan buat belajar. Paling cuman butuh tempat yang tenang. Dan kalian juga tau. Perpus tempat yang tepat." Ketiga nya mengangguk dan kembali pada tugas mereka. Keberadaan Ruby di sana lebih bagus, daripada menerima info bahwa sang leader balapan mobil liar di luar sana. Itu lebih berbahaya. Balapan adalah salah satu cara leader mereka untuk melampiaskan amarah, selain bully pasti nya. Genta yang duduk di bagian belakang di buat tidak fokus pada pelajaran hari ini. Mata nya terus menatap ke arah kursi kosong yang tadi di tanyakan BuK Emy. Gadis itu tiba-tiba pergi begitu saja, tanpa berkata apa-apa. Dia beberapa kali mengusap wajah nya gusar, entah kenapa perasaan khawatir melingkupi diri nya. Pasal nya gadis itu tadi dalam keadaan kacau. "Kenapa sih lo Nta? Kayak gelisah gitu?" tanya Rido seraya melirik Genta yang terus mengusap wajah, seperti orang gelisah. Genta menggelengkan kepala nya pelan, dan menyibukkan diri menulis kembali latihan nya. Rido mengerutkan dahi nya, lalu memilih tidak ambil pusing dan kembali pada kegiatan awal nya. ☔☔☔☔☔ Lo balik aja duluan! Setelah mengirimkan pesan singkat itu. Ruby kembali meletakkan ponsel nya di atas meja perpustakaan yang menjadi tempat duduk nya sekarang. Dia memilih meja belakang paling pojok dekat jendela, selain tempat itu nyaman dengan ada nya jendela. Tempat itu juga paling strategis jika ingin sendiri, terbukti dari rak-rak buku yang menutupi meja itu. Tidak ada hal lain yang di lakukan Ruby selain duduk, dengan buku kimia yang terkembang di atas meja. Menatap tanpa minat buku tersebut. Dia melirik jam dinding yang terus berputar, sekarang tepat pukul 3, jam pulang sekolah. Beberapa menit yang lalu Nesya telah mengantarkan tas nya ke perpustakaan sesuai dengan perintah nya tadi. Dia tidak berniat beranjak dari tempat itu sejak kejadian di taman belakang sekolah tadi siang. Dimana dengan bodoh nya dia malah menangis di depan orang yang bahkan masih di anggap nya asing, dan malah menumpahkan segala emosional dalam diri nya di depan cowok itu. Ruby untuk ke sekian kali nya mengusap wajah nya gusar jika mengingat kejadian tersebut. Dia menghembuskan nafas berat nya, dan menangkup kepala nya di atas meja di antara lipatan tangan nya. Sial! Kenapa gue bisa-bisa nya gak ke kontrol di depan cowok itu tadi. Dia membatin. "Gak berniat buat balik?" Suara itu membuat Ruby mengangkat kepala nya dari posisi rebahan di atas meja. Dia tau suara itu milik siapa. Belakangan ini hidup nya di penuhi oleh suara itu. "Ngapain lo disini?" tanpa menoleh Ruby bertanya. "Neduh. Lo gak lihat di luar hujan. Gue gak bawa mobil, bawa nya motor." jawab Genta dan ikut duduk di samping kursi kosong yang ada di sebelah Ruby. "Lo dari tadi disini?" tanya nya seraya melirik gadis di samping nya itu yang kini sibuk menulis. Ruby tidak merespon, dia menyibukkan diri dengan melanjutkan mengerjakan tugas kimia nya sebagai pengganti pratikum kimia yang gagal waktu itu. Dia tau di luar baru saja di guyur hujan deras. Perpustakaan SMA Saga terletak di lantai dua, jadi dari jendela perpustakaan itu pasti terpampang jelas pemandangan di bawah sana, tepat nya pada parkiran. Dan dari atas sini, Ruby sempat melihat siswa siswi yang berlarian menuju parkiran, namun juga ada yang berlarian keluar gerbang menunggu angkutan umum atau pulang dengan menempuh hujan. "Tadi Ralin nanyain lo loh sama gue. Kayak nya dia khawatir sama lo." Genta kembali membuka suara, walau tetap tidak mendapat respon apa pun. Gadis itu masih sibuk menulis. "Dia tadi sama cowok anak baru itu. Dia siapa nya Ralin?" tanya nya penasaran dan memperbaiki posisi duduk nya menjadi mereng berhadapan dengan Ruby. Ruby yang mendengar pertanyaan itu menghentikan akivitas menulis nua, mengangkat kepala nya, menatap ke depan. Genta dapat melihat wajah Ruby dari samping, melihat perubahan raut wajah gadis itu yang semakin datar dan dingin saat dia mengungkit tentang anak baru itu. Jujur sih, sebenarnya dia penasaran siapa cowok itu, pasal nya Ruby pernah berinteraksi dengan cowok itu walau respon gadis tersebut sama seperti respon yang di berikan kepada nya. Tapi cowok yang tidak salah di panggil Nichol oleh siswa siswi itu tampak menatap sendu kepergian Ruby saat itu. Dan Ralin, gadis itu juga dekat dengan Nichol. Tapi sebenarnya, dia bertanya tenang itu bukan lah karna tingkat kepo nya tinggi, melainkan dia tidak ingin membahas mengenai kejadian di taman belakang sekolah tadi. Di tau, Ruby sedang berusaha menghindari kejadian itu. Genta masih setia menunggu jawaban Ruby. Sampai gadis itu akhir nya membuka mulut. "Yang pasti dia bukan pacar Ralin." jawab gadis itu singkat tanpa menoleh sedikit pun kepada nya. Genta terkekeh pelan. "Gue juga gak mikir gitu kok. Tapi dia juga kenal kan sama lo?" Ruby untuk pertama kali nya menoleh kepada Gent yang kini menaikkan kedua alis nya. "Lo bisa cari tempat berteduh lain, kalau lo banyak omong disini." seru nya dingin dan mengalihkan pandang nya ke buku kimia yang terbuka. Genta tidak terlalu tertohok lagi dengan setiap kata-kata dingin Ruby. Dia sudah kebal dengan perkataan-perkaataan dingin gadis itu yang kadang terdengar judes. Dia tersenyum tipis seraya mengacak pelan rambut Ruby. "Susah ya, kayak nya cuman bikin lo lebih terbuka sama orang." gumam Genta sembari memainkan ponsel nya dengan senyuman yang mulai hilang. Ruby tertegun, bukan karna omongan itu, tapi karna sentuhan tangan kekar cowok itu yang terasa lembut di puncak kepala nya. Tanpa sadar mata nya melirik Genta yang mulai sibuk dengan ponsel. Dia tidak mengerti, tapi yang jelas sentuhan itu membuat nya tenang dan nyaman. ☔☔☔☔☔ Ruby menghembuskan nafas nya, seraya menutup buku kimia yang sudah berkutat dengan nya selama 2 jam penuh. Dia meregangkan tubuh nya, seraya melirik jam dinging perpustakaan, sudah tepat pukul 5 sore. Akhir nya tugas kimia nya selesai juga. Di lalu memasukkan buku tulis itu ke dalam tas nya. Dia melirik keluar jendela, di luar masih hujan tapi sudah tidak sederas dua jam tadi. Ruby menyandarkan punggung nya di dinding, sehingga posisi nya sedikit miring, sorot mata nya langsung saja menampakkan Genta yang tengah tertidur dalam posisi duduk dengan lipatan tangan yang menjadi bantal. Kepala cowok itu mereng ke sebelah kanan, sehingga berhadapan dengan posisi nya sekarang. Dia mengamati wajah cowok itu yang terlihat damai dalam tidur. Tanpa sadar sebuah senyuman terukir di wajah nya, jika mengingat setiap usaha cowok itu yang selalu mendekati nya, entah karna motif apa. Dia tidak mengerti kenapa Genta selalu ada dimana pun dia berada, seperti tadi saat aedgan pembullyan terhadap Siska, entah darimana cowok itu muncul. Mata Ruby berhenti menyusuri wajah cowok itu, dan kini hanya terfokus pada mata yang terpejam tersebut. Senyuman nya hilang seketika, dan nafas nya kembali memburu, saat mata itu kembali mengingatkan nya akan seseorang. Sebuah bayangan muncul kembali dalam benak nya. "Akhir nya kelar juga." Ruby meregangkan tubuh nya yang terasa lelah karna terus berkutat pada buku-buku pelajaran. Ruby memalingkan wajah nya ke sebelah kiri. Dia seketika tersenyum saat melihat sang kekasih yang terlelap tidur di samping nya, dengan meja sebagai bantal. Dia mengusap pelan rambut Dafa, dengan senyuman geli yang tak lepas dari wajah nya. "Daf! Bangun dong, aku udah siap nih." seru Ruby dengan suara lembut nya. Dafa mengerjapkan mata nya perlahan, saat di rasakan nya sebuah sentuhan lembut di pipi nya. "erghh, kamu udah siap ngerjain tugas nya?" Dafa menegakkan tubuh nya. Ruby mengangguk. "Ya udah pulang sekarang yuk! Bentar lagi mau malem." Ruby meremas rambut nya dengan kedua tangan nya, menjadikan meja sebagai tumpuan kedua siku tangan. Dia menunduk menatap meja, bayangan itu lagi-lagi melintas di benak nya. Dia kembali menoleh menatap Genta yang masih pada posisi tidur nya. Posisi tidur itu sama persis dengan posisi tidur Dafa, dan dalam keadaan yang sama-sama dia tengah belajar. Pikiran nya kembali kacau, setiap apa yang terjadi pada Genta, justru juga pernah terjadi pada Dafa. Dia tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi? Dan dia selalu meyakinkam diri nya bahwa semua hanya lah kebetelun semata, mulai dari kemiripan setiap kejadian, kemiripan setiap kata-kata, dan kemiripan mata yang mereka punya. Ruby menggelengkan kepala nya, mengusir segala pikiran dan bayang-bayang yang ada di benak nya. Dengan mengatur nafas nya, dia menepuk pundak Genta. Tampak cowok itu yang tersentak kaget dengan tepukan itu. "Lo mau nginep disini?" Genta mengerjapkn mata nya dan mengumpulkan segala kesadaran nya saat mendengar suara dingin tersebut. Mata nya telah terbuka sempurna, dia melirik sebentar pada jam dinding sembari menghela nafas nya. Lalu menatap Ruby yang telah bangkit seraya mengenakan jaket kulit yang sering di gunakan nya. "Lo udah selesai sama tugas lo?" tanya Genta sembari ikut bangkit dan menyandang tas nya. Ruby tidak menjawab, dia justru keluar dari perpustakaan, meninggalkan Genta yang menyusul di belakang. Cowok itu menghela nafas nya. Omongan tidak di respon itu sudah biasa bagi nya. Suasana koridor SMA Saga benar-benar telah sepi pengunjung. Tidak ada lagi orang yang berlalu lalang di sana seperti tadi pagi. Bahkan beberapa lampu-lampur koridor pun telah mati, hanya menyisakan beberapa bola lampu yang masih menyala. Sedangkan hujan belum kunjung berhenti, masih tersisa gerimis-gerimis yang cukup rapat. "Ck, udah dua jam gue tidur, ni hujan masih aja belum berhenti." keluh Genta menatap genangan air yang tercipta di lapangan sekolah. "Eh lo mau kemana?" Genta dengan sigap menangkap pergelangan tangan Ruby, saat gadis itu ingin melangkah pergi menembus gerimis. Ruby menoleh, menatap datar Genta. "Pulang lah! Gue gak mau nginep di sini." jawab nya dingin. "lo kan berangkat bareng Ralin tadi pagi. Trus lo mau pulang naik apa? Lagian masih hujan." "Trus lo pikir udah gak ada transportasi?" "Ya bukan gitu. Tapi kan masih hujan." kata Genta. "Hujan gak bikin mati kan?" Jawaban sinis dan ketus Ruby membuat Genta menghela nafas nya. Dia lalu menarik tangan gadis itu menembus gerimis, dan berjalan menuju parkiran tempat motor nya berada. Dia melepaskan pegangan nya pada tangan gadis itu, dan meraih helm nya yang tergantung di motor. "Sama aja kan? Sama-sama kena hujan juga. Mending lo balik sama gue." seru Genta seraya memakai helm nya. "Ayok!" ajak nya saat Ruby hanya diam berdiri. Sebentar lagi langit akan berubah warna menjadi hitam, dan itu pertanda malam telah tiba. Ruby berpikir sejenak, jika dia pulang naik kendaraan umum, contoh nya taksi, bakal membutuhkan waktu cukup lama, sedangkan kondisi cuaca tidak mendukung. Berarti tidak ada pilihan lain, selain mengikuti ajakan Genta. Ruby naik ke motor sport Genta, dalam seketika motor itu telah melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan SMA Saga. ☔☔☔☔☔
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD