Pagi ini, di sebuah hotel tempat Ibra membooking seorang purel, tadi malam, terlihat laki-laki itu keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah sehabis keramas. Segera dipakainya baju yang semalam diseraknya di atas kursi hotel mewah itu.
Tiba-tiba perempuan purel itu terjaga dari tidurnya yang pulas. Tentu saja pulas, karena semalam dia melayani laki-laki gagah di depannya itu dengan cara yang diinginkannya. Yang sedikit tidak wajar.
Oke, mungkin orang menyebutnya variasi atau segala macam bentuk seksual yang bodoh, tapi jelas Ibra hanya ingin seks yang seperti itu. Oral. Meski awalnya perempuan itu merasa demikian jengah, namun nyatanya dia tak dapat mengelak ketika pelanggan tampannya yang satu ini meminta pelayanannya dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan pelanggannya yang lain.
Sebenarnya perempuan itu sedikit menyesal karena tak bisa merasakan bercinta dengan Ibra. Oke, mereka memang bercinta, tapi tidak dengan sesungguhnya. Karena Ibra sangat keukeuh menolak untuk berhubungan secara langsung, meski perempuan itu menggoda nafsunya dengan cara apapun. Dan ketika akhirnya gagal membawa Ibra untuk bercinta, perempuan itu menyerah dan menuruti keinginan Ibra. Hanya dengan oral.
Sedikit tidak wajar memang, ketika seorang laki-laki rela membayar mahal seorang perempuan malam hanya untuk memuaskan nafsunya denga cara seperti ini. Lantas tak heran jika kemudian banyak perempauan malam yang demikian malas melayani Ibra, mengingat bahwa laki-laki itu melampiaskan keliarannya dengan oral. Namun juga ada yang dengan senang hati melayani, karena yang mereka butuhkan tidak hanya kepuasan seksual, melainkan uang.
“Kalau kapan-kapan Boss ingin pelayanan saya lagi, Boss bisa menghubungi saya di pub biasa,” perempuan itu bangkit dari ranjang mewah hotel, dengan tubuh masih telanjang bulat.
Ibra yang sedang memakai baju di depan kaca, sedikit terkejut dengan keberanian perempuan ini, yang begitu santai mendekat ke arahnya, bahkan mendekap erat tubuh Ibra dari belakang.
Sial, Ibra mengumpat dalam hati karena perempuan itu masih mencoba menggoda bagian senditif tubuhnya. Namun alarm nya mengingatkan, bahwa semalam sudah cukup untuk pemenuhan kebutuhan manusiawinya. Maka Ibra segera menghempas pelas perempuan itu, menghelanya untuk menjauh.
“Kamu nggak jijik dengan selera seks saya ?” Ibra bertanya sambil membenahi gesper sabuknya.
Perempuan itu tersenyum manis.
“Kalau Boss memintanya lagi sekarang pun, saya tak keberatan”
Ibra mengumpat dalam hati.
“Saya tahu porsi seks yang saya inginkan. Jadi saya tak akan melebihkan apapun. Kalau saya butuh kamu, saya yang akan menghubungimu.”
Perempuan itu sedikit kecewa dengan ungkapan Ibra. Karena seiyanya, dia masih ingin menikmati tubuh liat berotot yang terasa semakin jantan karena warna kulitnya yang kecoklatan. Wajah maskulin dengan garis tegas dan mata tajamnya membuat perempuan purel itu ingin berlama-lama menatapnya dalam kekaguman membuncah. Sungguh, dia sangat ingin bercinta dengan laki-laki ini, bahkan jika seharian harus menghabiskan waktu bersamanya dalam balutan nafsu, perempuan itu berjanji akan menyanggupinya.
“Uang itu semua untuk kamu, karena aku puas dengan pelayananmu. Untuk Madam mu, tak usah kuatir, aku akan berurusan sendiri dengannya,” kata Ibra lantas keluar dari kamar hotel itu setelah meninggalkan uang utnuk perempuan itu.
Perempuan itu menimang uang yang diterimanya dengan senyum terkembang. Mengemas dan menyimpannya dalam tas untuk kemudian memasuki kamar mandi. Ada kebutuhan lain yang harus dia penuhi, tentu saja karena keinginannya akan tubuh Ibra yang tak bersambut.
Bagaimanapun, purel ini satu dari sekian banyak perempuan yang selalu tergoda dengan seks.
* * * * *
Pagi ini, Indira berangkat agak pagi dari biasanya karena hari ini hari libur dan kemungkinan, akan banyak pengunjung yang datang ke kafe. Dia sengaja menolak niat darius yang akan mengantarnya ke kafe, karena kadang-kadang dia merasa tak enak hati ketika harus merepotkan Darius lagi.
“Tumben berangkatnya pagi, In ?” Bu Rahmi, induk semangnya menyapa membuat Indira sedikit terkejut karena sebelumnya tak menduga bahwa Bu Rahmi sudah ada di dekatnya.
“Iya, Bu ... hari ini hari libur, jadi kafe biasanya ramai.”
“Di jemput Darius ?”
Indira menggeleng.
“Pakai ojek, Bu. Nggak enak ngerepotin Darius terus.”
Bu Rahmi manggut-manggut.
“Indira berangkat dulu, Bu.”
“Hati-hati di jalan, In !”
Indira mengangguk, dan tepat di saat yang sama, di pintu gerbang halaman rumah Bu Rahmi, sebuah mobil terlihat memasuki pekarangan. Indira yang sudah mengira bahwa itu adalah Daniel, hanya melihat sekilas lantas melanjutkan langkahnya.
Namun ketika langkahnya nyaris sampai di trotoar, Bu Rahmi berteriak memanggilnya.
Indira menoleh dan mendapati Bu rahmi berjalan cepat ke arahnya.
“Ada sesuatu, Bu ?”
“Bagaimana kalau kamu diantar Daniel ? Kebetulan juga dia libur kan hari ini ?”
Indira tersenyum.
“Nggak usah, Bu. Saya terlanjur sms sama Pak Min langganan ojek saya. Lagian juga ntar malah ngerepotin lagi ?”
Bu Rahmi menggeleng.
“Sebenarnya Ibu tadi ingin ngajakin kamu belanja kebutuhan rumah, ternyata kamunya malah kerja”
“Maaf, Bu. Mungkin lain kali saya bisa membantu Ibu belanja”
Tapi di saat yang sama malah Daniel berjalan mendekat ke arah mereka, membuat Bu Rahmi kini tersenyum semringah.
“Kok malah ngobrol di sini, Bu ?”
“Ini lho, Dan ... tadi Ibu minta dia diantar sama kamu. Masa iya libur begini dia masih kerja ?” Bu Rahmi mengerling ke arah Daniel, membuat laki-laki itu sedikit nervous dengan kegigihan Ibunya mencarikan istri untuknya.
Indira tersenyum kikuk.
“Mau aku antar, In ?” akhirnya Daniel mengalah dengan niat ibunya. Apa salahnya mencoba, pikir Daniel dalam hati.
Indira lantas menggeleng tegas.
“Nggak, Mas. Nggak usah, saya sudah sms kok sama ojek langganan saya. Sebentar lagi juga beliau datang”
“Ya sudahlah, “ Bu Rahmi sedikit kecewa.
Indira tersenyum.
“Ibu tak usah khawatir, lain kali pasti Indira akan membantu dan menemani Ibu belanja,” Indira mencoba menengahi.
“Janji ya ?”
Indira mengangguk membuat hati Daniel menghangat melihat kedekatan Ibunya dengan anak kost yang satu ini. Sangat jelas terlihat bagaimana Ibu menaruh harapan penuh pada Indira.
“Indira berangkat, Bu.”
Bu Rahmi mengangguk dan Indira beranjak tepat disaat Pak Min, tukang ojek langganan Indira datang. Sepeninggal Indira, Bu Rahmi menatap ke arah Daniel yang menjulang di sebelah beliau.
“Rasanya Ibu nggak salah kalau berharap kamu mau mempertimbangkan usul Ibu.”
Daniel menoleh menatap Ibunya lalu tersenyum.
“Jodoh bukan hak kita, Bu. Semua hak Tuhan, dan Ibu atau aku hanya sekedar berusaha kan ? Tentu kita tak bisa memaksa”
Daniel lantas merangkul bahu Ibunya, dan mengajaknya masuk ke rumah.
Sementara di tempat yang lain, seorang laki-laki terlihat mengemudikan mobilnya dengan santai. Hatinya sedikit lega setelah kebutuhan manusiawinya terpenuhi semalam, meski dengan proses yang sedikit kurang wajar. Ya, dia adalah Ibra. Laki-laki berperawakan tinggi dengan otot yang terlihat liat dengan warna kulit kecoklatan. Rambutnya yang maskulin dan rapi menunjukkan bahwa dia seorang eksekutif muda.
Tapi entah mengapa, seketika dia ingin lewat di jalan depan maal, di mana Indira bekerja sebagai pelayan kafe. Hatinya selalu berdesir setiap kali dia lewat depan kafe yang kebetulan memang menghadap ke jalan protokol itu.
Namun sebuah kerumunan yang terjadi di jalan dpan mall itu membuat Ibra dan beberapa pengendara lainnya menghentikan mobil mereka. Beberapa orang polisi terlihat sibuk sementara pejalan kaki semakin berhamburan mendekat.
Ibra penasaran, maka dioa menepikan mobilnya dari deretan pengendara lain untuk sekedar keluar dan mencari tahu, apa yang gerangan telah terjadi.
“Ada apa, Pak ?” Ibra bertanya pada salah seorang pejalan kaki yang juga berkerumun.
“Tabrak lari, Mas. Kasihan, perempuan”
Ibra seperti dituntun untuk mendekat dan makin penasaran. Lalu dia mencoba menerobos kerumunan orang untuk melihat siapa yang menjadi korban tabrak lari tersebut.
Dan ketika dia melihat seorang perempuan tergeletak dengan bersimbah darah, hati Ibra terkesiap. Jantungnya berpacu oleh rasa marah dan bingung yang bercampur menjadi satu. Karena dia mengenali siapa perempuan dengan celana jeans warna hitam dan kaos biru, serta rambut tergerai yang kini sebagian bercampur darah itu.
“Ambulan ! Panggilkan ambulan !!” Ibra berteriak sambil terduduk meraup perempuan itu.
“Tenang, Pak ! Sebentar lagi ambulan datang.”
Ibra mendekap perempuan itu dalam pelukannya.
“Indira !? Indira, sadar, In !”
Tapi nihil, perempuan korban tabrak lari yang ternyata adalah Indira itu tak juga sadar.
* * * * *
Rumah sakit Karya Medika ...
Di depan ruang UGD, Ibra sangat gelisah dan mondar mandir menunggu proses penanganan yang dilakukan tim dokter. Akibat tabrak lari itu, kepala Indira mengalami benturan dan beberapa luka di bagian tubuhnya yang lain.
Satu jam berlalu ketika seorang dokter keluar dari ruang penanganan Indira. Maka Ibra segera mendekati dokter dengan langkah gemetar, merasakan rasa takut yang tiba-tiba menghinggapinya.
“Bagaimana keadaannya, Dok ?” Ibra bertanya dengan tergesa.
Namun seulas senyum yang tersungging di bibir dokter itu membuat Ibra bernapas lega, setidaknya itu yang dia rasakan.
“Pasien sudah mendapat penanganan. Tidak ada yang fatal, hanya beberapa luka ringan yang secara umum tidak berbahaya”
“Syukurlah.”
“Anda bisa segera menjenguk pasien setelah dipindahkan ke ruang rawat inap”
“Terima kasih, Dok.”
Dokter itu mengangguk dan segera berlalu. Entahlah, kelegaan di hati Ibra kali ini jauh lebih menenangkan dari kenaikan jabatannya di perusahaan. Maka laki-laki itu segera ke bagian administrasi, mencarikan ruangan paling nyaman untuk perawatan Indira. Lentera cintanya yang sekian tahun hilang.
Tapi telepon genggamnya tiba-tiba bergetar dan berbunyi. Sebuah panggilan untuknya yang segera dilihat oleh Ibra. Livi. Ibra mendesah, sedikit malas mengangkat panggilan perempuan itu. Tapi dia tahu sifat adik kelasnya yang satu ini, dia tak akan menyerah sebelum Ibra mengangkat teleponnya.
“Halo, Livi ?”
“Hai, Ibra ? Dari semalam aku terus saja menghubungimu, tapi handphone kamu nggak aktif. Kemana saja sih ?”
Ibra mendesah. Tentu saja dia harus mematikan teleponnya, karena dia tak ingin transaksi seksualnya terganggu oleh hal-hal sepele yang akan dilakukan oleh Livi.
“Aku ada keperluan dengan teman.”
“Siapa ? Jane ? Semalam aku bahkan sudah menghubungi Jane dan menanyakanmu, tapi dia juga tak bersama kamu ?”
Ibra sekali lagi mendesah. Emosinya sedikit tersulut.
“Livi, aku punya banyak teman dan aku tak harus melapor dengan siapa saja aku bertemu kan ?”
“Ibra ? Kamu nggak lupa kan bahwa kita akan segera bertunangan ?” Livi sedikit marah karena merasa ada yang tersembunyi dalam ucapan Ibra.
Ibra semakin jengah.
“Baru akan, dan kamu sudah seperti remote yang bisa mengendalikan aku ?”
“Ibra ?!”
Klik ! Sambungan telepon ditutup Ibra dengan sedikit gusar. Kepalanya mengepul emosi karena Livi semakin protektif. Dan itu sangat tidak menyenangkan. Lantas dia mematikan total teleponnya, tak ingin Livi kembali menerornya dengan panggilan yang hanya akan membuat otaknya meledak. Urusan ke bagian administrasi lebih penting kali ini.
* * * * *
Ruang VIP Anggrek ini terasa demikian senyap ketika Ibra memasuki ruangan dimana Indira di rawat. Menutup pintu dengan sepelan mungkin, Ibra berharap Indira tak terganggu dengan suara selirih apapun. Ibra berdiri sejenak di dkat pintu, menatap Indira yang terbaring dengan balutan perban dikepalanya dan selang infus.
Dokter bilang tak ada yang fatal dengan tabrak lari itu, tapi jelas Indira tetap harus mendapatkan perawatan yaang terbaik. Lantas dengan langkah pelan, Ibra mendekat ke ranjang Indira. Sebuah kursi lantas dia seret pelan ke araah ranjang rumah sakit.
Dalam duduknya, Ibra mengamati Indira. Tangannya bersedekap, sementara matanya menelisik ke arah Indira. Dia penasaran dan ingin tahu, hal apa yang telah membuatnya terpesona demikian kuat dengan perempuan sederhana ini.
Ibra memulai penelusurannya pada wajah Indira. Hidungnya yang mancung memang proporsional dengan wajahnya yang meski tidak secantik Livi, tapi wajah itu menunjukkan kesabaran dan ketangguhan.
Ibra mendesah, mencari hal lain yang membuatnya berdebar acap kali bertemu dengan Indira, bahkan ingatannya suka menerawang entah kemana jika sudah memikirkan Indira. Tangan Ibra terulur memegang tangan gadis itu yang bebas dari jarum infus.
Menggenggamnya erat membuat Ibra tersenyum miris. Kulitnya memang tak seputih perempuan Ibra sebelumnya, tapi justru warnanya yang kuning langsat itu membangkitkan pesona asia nya. Rambutnya yang legam bahkan terasa wangi meski Ibra tak menciumnya. Pelan, Ibra mencuri cium tangan Indira, mengecupnya lama dengan penuh perasaan.
“Akhirnya aku menemukanmu kembali, Indira,” Ibra berkata lirih.
Tentu saja Indira tak menyahut.
“Dan kamu tahu ? Aku tak pernah melepaskan apa yang kuyakini menjadi milikku !” Ibra berbisik lirih, meneruskan ikrar sintingnya.
Sementara di sisi kota yang lain, Livi terlihat kesal dengan Ibra karena teleponnya ditutup paksa sementara untuk menghubunginya kembali, jelas tidak akan berhasil karena hanya operator yang menjawab panggilannya.
* * * * *