Belakang ruang lab siang ini mulai sepi. Tapi Indira masih saja berdiri di sana, di bawah sebuah pohon yang meski tak terlalu tinggi, tapi daunnya lumayan menyejukkan. Sesekali matanya menatap sebuah arloji usang yang selalu melingkar lusuh di pergelangan tangannya.
Sekali dua kali dia mendesah, merasa sedikit bosan. Lalu dia kembali menatap ke ujung koridor yang menghubungkan lab dengan kantor guru. Tapi sosok yang ditunggunya itu tak juga muncul. Sebisa mungkin dia akan berusaha sabar menunggu, tak baik jika dia ingkar janji.
Musim penghujan kali ini membuat cuaca sedikit tidak menentu. Matahari yang sejak bel sekolah berbunyi tadi bersinar dengan garang, kini perlahan meredup diganyang awan yang mulai menghitam. Angin pun kembali berhembus basah, seolah mengirim sinyal bahwa hujan memang akan segera datang.
Dan gerimis pun mulai menyapa.
Indira kembali melongok ke ujung koridor. Dan lagi-lagi dia menghembuskan napas resahnya. Ditatapnya bungkusan yang sedari tadi di dekapnya erat. Sekolah semakin sepi ketika pak Bonari datang menghampiri.
“Neng belum pulang ?” tanya pak Bonari yang masih memegang sapu lidi.
Indira menggeleng.
“Kenapa atuh ?”
“Nungguin kak Ibra, Pak. Mau mulangin jasnya” jawab Indira kemudian, untuk menghilangkan kecurigaan yang bisa saja muncul di benak Pak Bon.
“Ooo ...” Pak Bon manggut-manggut.
Indira tersenyum sedikit, sangat sedikit.
“Tapi cuaca mendung, Neng. Sebentar lagi sepertinya mau hujan ?” Pak Bon menatap langir yang memang mulai gelap.
“Iya, Pak ... sebentar lagi kalau Kak Ibra belum juga datang, saya akan pulang”
Pak Bon mengangguk dan berlalu dengan sapu lidi yang selalu setia di tangannya, diiringi tatapan resah Indira.
Lima belas menit berlalu, dan Indira sudah sangat putus asa ketika akhirnya dia memutuskan untuk pulang. Baju yang didekapnya dia masukkan ke dalam tasnya kemudian berjalan meninggalkan pohon yang menaunginya sejak sejam yang lalu.
Sekali lagi dia menoleh ke belakang, ke ujung koridor dan berharap akan ada Ibra berdiri di sana. Tapi dia mendesah dengan jawaban yang sudah bisa ditebak. Lalu Indira kembali meneruskan langkahnya ketika tiba-tiba ...
“Indira !!” sebuah panggilan menghentikan langkah Indira. Lalu dengan sigap, gadis itu menoleh.
* * * *
Flashback ...
Ibra tak menyadari, bahwa tindakannya yang intim tadi di salah satu sisi kafetaria sekolah saat dia bertemu dengan Indira, tertangkap mata oleh seorang gadis. Dan gadis yang menangkap mata Indira dan Ibra itu memandang mereka dengan pandangan penuh kebencian. Gadis itu berniat hendak mencari minuman ketika berbelok ke arah kantin dan mendapati Ibra yang demikian intensif memandang seorang gadis. Dan gadis itu kemudian menahan langkahnya, menyembunyikan diri dari pandangan Ibra dan Indira dengan menajamkan telinganya. Tentu saja untuk mencuri dengar apa yang dibicarakan Ibra.
Lalu dengan langkah tergesa, Lusiana, gadis itu segera mencari teman-temannya satu gank untuk mengorek semakin dalam informasi mengenai perempuan yang ditatap Ibra dengan pandangan penuh rasa takjub itu.
Penuh rasa takjub ?
Ayolah ... seharusnya ini tak boleh terjadi karena tiba-tiba saja Lusiana merasa jealous.
Dan hanya dalam hitungan menit, Lusiana mendapatkan banyak hal tentang si commoner Indira. Lalu otak liciknya bekerja dengan sangat efektif, menghasilkan sebuah ide cemerlang hingga membuat Ibra merasa sangat dongkol ketika siang ini, secara tak terduga Lusiana datang ke kelasnya dengan mimik muka yang dibuat semenderita mungkin, dalam rangka menjalankan rencananya itu.
“Kamu kenapa ?” Ibra bertabnya dengan dingin ketika gadis itu menghampirinya sambil meringis.
“Maaf, Ibra ... aku ... aku sakit perut. Jadi ... mau kan kamu mengantar aku pulang lebih awal?” Lusiana memohon dengan wajahnya yang masih meringis seperti menahan sesuatu yang menyakitkan.
Kebetulan jam terakhir hari ini kosong, sehingga terjadi kegaduhan yang lumayan bising di kelas Ibra.
Ibra mendengus tak setuju dengan ulah Lusiana kali ini. Bagaimanapun, semua sudah berakhir dan Ibra ingin Lusiana menyadari hal itu.
“Kenapa harus aku ?” laki-laki ini bertanya sambil menatap Lusiana dengan pandangan tajam dan sangat sengit.
Lusiana terkesiap mendengar ucapan Ibra yang bernada tanya dan mengandung ungkapan tak suka tersebut.
“Karena ... karena aku memang minta ijinnya ke guru piket mau diantar sama kamu” Lusiana menjawab dengan nekad.
Sementara beberapa teman kelas Ibra hanya memandang kedua orang yang seperti berseteru itu dengan pandangan heran.
“Kamu memastikan segala sesuatu yang belum tentu akan aku sanggupi”
“Ayolah, Ibra ... kali ini saja, pliiisss ...“
Ibra berdecak kesal dengan ulah Lusiana yang menyebalkan ini.
“Ada sesuatu, Lusiana ?” Miss Vivian, guru bahasa Inggris mereka tiba-tiba memasuki ruangan hingga semua siswa kembali ke bangkunya masing-masing.
“Maaf, Buk ... ini saya minta antar pulang”
Miss Vivian menatap Lusiana dan Ibra bergantian dengan pandangan penuh tanya.
“Apakah ada something yang terjadi sehingga kamu harus pulang ?” Miss Vivian kembali bertanya dengan penuh selidik.
Dan jiwa aktris Lusiana otomatis bereaksi. Maka dengan wajah yang disetel sedemikian perih, Lusiana memegang perutnya, mengisyaratkan bahwa dia sangat menderita dengan sakit perutnya kali ini.
“Maaf, Bu ... penyakit perempuan” Lusiana menjawab dengan tak tahu malu membuat Ibra semakin jengah.
Miss Vivian manggut-manggut kemudian sedikit memerintah agar Ibra mengantar Lusiana pulang. Membuat Ibra mau tak mau menuruti keinginan iblis tengil bernama Lusiana ini.
“Ini yang terakhir kamu ngerjai aku, Lusiana ! Jadi jangan harap kamu akan memiliki trik lain setelah ini” Ibra berkata dengan suara rendah tertahan saat mereka tiba di tempat parkir.
Lusiana tersenyum penuh kemenangan, karena setidaknya dia berhasil menggagalkan acara pertemuan yang akan dilakukan oleh Ibra dan Indira.
Pertemuan ? Bagaimana Lusiana tahu ?
Ahaaa ... tentu saja karena iblis licik yang satu ini memiliki mata dan telinga di mana-mana, bahkan di tembok WC sekalipun. Siang ini mereka meninggalkan area gedung SMA saat jam pelajaran hampir berakhir.
“Panas, Ib ... mampir beli jus dulu dong ?” Lusi mulai ngawur dengan ulahnya.
“Katanya kamu sakit perut ? Kok pakai mampir beli jus ?” Ibra berkata dengan nada kesalnya yang tak juga surut.
“Sudah agak mendingan kok. Mampir ya ?”
Dan Ibra yang tak terbiasa banyak mulut akhirnya menepikan mobilnya di depan sebuah kafe yang menyediakan berbagai macam minuman jus buah.
“Turun, yuk ?”
“Aku di sini saja” Ibra menggeleng, menolak.
“Baiklah ... baiklah ...” dan Lusiana bergegas keluar untuk melenggang menuju kafe jus buah. Tapi di bibir cantiknya tersungging senyum culas, karena dia berhasil menggagalkan pertemuan Ibra dan si commoner yang sedikit beruntung karena bisa berteman dengan Ibra, the coolest boy.
Berteman ?
Sepertinya ada yang gagal paham di sini. Karena Indira, si commoner itu tentu saja belum merasa bersahabat dengan the coolest boy. Dia hanya ingin mengembalikan jas sekolah yang kemarin dipinjamkan laki-laki itu untuk melindunginya dari basah kuyub yang terjadi padanya.
Lain itu, Indira tak berani memiliki pikiran lain.
Setengah jam sudah Lusiana nongkrong di kafe jus hanya untuk mengulur waktu pertemuan Ibra. Ibra sebenarnya sangat jengah dengan ulah Lusiana kali ini, karena dia tiba-tiba teruingat bahwa siang ini dia ada janji dengan Indira.
Seketika Ibra terkesiap begitu melihat ke arah jam di tangannya dan jam sudah sangat molor dari perjanjian mereka. Dengan gusar, Ibra melongok ke luar dari mobilnya.
“Lus ! Cepet ! Aku ada acara !”
Lusiana terkesiap mendengar teriakan Ibra.
“Bentar lagi !” Lusiana menjawab dengan teriak.
Ibra mendengus dengan tak sabar. Maka dengan tanpa mempedulikan Lusiana lagi, dia segera menghidupkan mesin mobilnya kemudian berbalik arah kembali ke sekolah. Sementara Lusiana yang tak menyangka akan ditinggal begitu saja oleh Ibra segera berlari keluar dari kafe.
“Ibraaa ... !” Lusiana berteriak memanggil Ibra yang sudah lebih dulu ngebut meninggalkannya di kafe jus.
Dan tentu saja Ibra tak akan mendengarnya, karena meskipun mendengar, dia toh tak akan balik arah. Karena kini Ibra menambah kecepatan mobilnya untuk mencapai sekolah dalam waktu secepat mungkin. Karena ada Indira yang entah mengapa, membuatnya merasa bersalah karena ingkar dari jam yang telah dia tentukan sendiri. Padahal untuk perempuan lain, yang tentu saja lebih cantik, lebih kaya, lebih seksi, dan yang pasti bukan seorang commoner, Ibra akan selalu punya seribu alasan kenapa bisa molor.
Tapi dengan Indira ?
Ibra merasa terikat.
Dan mendung memang sudah bergayut sementara gerimis juga mulai rintik-rintik turun ketika Ibra tiba kembali di sekolahnya. Setelah memarkir mobilnya dengan sembarangan, karena memang suasana sekolah mulai terlihat lengang, dia setengah berlari bergegas menuju ke arah belakang ruang lab. Napasnya terengah, membuat rambutnya yangsedikit gondrong itu meriap diterpa sentuhan angin yang basah.
Dan ketika tiba di belakang lab, Ibra nyaris kecewa namun tiba-tiba hatinya nyeri saat dilihatnya gadis itu melangkah pergi.
“Indira !!!”
Flashback off ...
Dan disinilah sekarang mereka berada. Di bawah pohon yang tumbuh rindang, tempat dimana tadi Indira menunggu Ibra selama beberapa jam. Dengan napa yang ngos-ngosan, Ibra menatap Indira yang tertunduk.
“Maaf ... maaf aku tadi lupa kalau ... kalau ada janji ketemu sama kamu”
Indira hanya menggeleng.
“Nggak pa-pa” jawabnya masih menunduk.
“Maaf membuatmu menunggu lama”
Indira kembali menggeleng.
“Ini jas punya Kakak. Terima kasih sudah meminjamkannya buat saya” Indira mengangsurkan bungkusan itu kembali.
Ragu, Ibra menerimanya. Masih dengan pandangannya yang lekat pada wajah polos Indira. Kulitnya yang kuning bersih, sungguh membuat Ibra baru menyadari bahwa perempuan ini memang polos. Tapi dalam kepolosannya itu, dia memiliki inner beauty yang baru kali ini Ibra rasakan.
Bulu mata Indira yang lentik demikian indah melindungi matanya yang bening meski sedikit kelam.
Dan bibir merah samar yang dimiliki Indira, terlihat demikian lembut dan sangat menggoda. Oke, Ibra bukan laki-laki munafik yang tak pernah mencium perempuan mengingat reputasinya sebagai kolektor perempuan.
Tapi berdekatan dengan Indira, membuat Ibra merasa seperrti terseret arus tak kasat mata yang sulit untuk dia lepaskan. Maka sekonyong-konyong, Ibra meraih perempuan lugu itu untuk lekat dengan tubuhnya yang keras dan kokoh, membuat Indira terkesiap dalam kejutnya.
Namun belum lagi Indira menyadari keadaan, Ibra sudah menunduk dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Indira, kemudian meraup bibirnya dalam sebuah ciuman yang dalam dan menuntut. Tentu saja Indira gelagapan, karena jujur saja ini hal yang belum pernah dialaminya. Maka dengan kepanikan yang luar biasa, dia mencoba mendorong tubuh tegap Ibra.
Namun jelas ini sebuah hal yang sia-sia. Karena Ibra semakin lupa diri bahwa Indira bukan perempuan yang terbiasa kencan dengan laki-laki. Apalagi laki-laki seperti dirinya yang sudah demikian mahir dengan urusan perempuan.
Dan dalam ciumannya yang semakin dalam dan menuntut, Ibra merasakan bahwa bibir Indira demikian lembut seperti es krim yang hendak mencair.
Kekenyalan yang alami, kegugupan yang tak dibuat-buat, dan kecanggungan yang tak pandai membalas tindakan Ibra, membuat Ibra merasa demikian berbangga hati, karena dia menjadi lelaki pertama yang singgah di bibir Indira.
Sejenak Indira terbuai dengan mata terpejam. Tapi ketika kesadarannya muncul, Indira sekuat tenaga melepaskan rengkuhan lengan Ibra. Sementara Ibra yang merasa bahwa Indira terbuai olehnya, sedikit lengah dengan rengkuhannya sehingga Indira bisa lepas begitu saja.
Merasa aman setelah lepas dari rengkuhan dan ciuman Ibra yang memabukkan, Indira bergegas lari dengan napasnya yang masih ngos-ngosan dan d**a yang berdegup liar. Indira tak menyadari, ada yang terjatuh dari tas sekolahnya. Sesuatu berwarna hitam. Dia terus berlari meninggalkan Ibra yang masih ternganga, tak menyangka akan dihempaskan oleh seorang commoner seperti Indira.
“Indira !!!” Ibra seperti sadar dari keterpanaannya begitu Indira sudah hilang di tikungan sebelah ruang lab. Dia lantas memungut sesuatu yang jatuh dari tas Indira tersebut. Ternyata sebuah sapu tangan. Ibra menggenggamnya erat, kemudian menyimpannya.
Laki-laki itu bergegas berlari menyusul Indira. Tapi begitu tiba di sebelah lab, Ibra tak mendapati siapapun. Dia lantas berlari mencari Indira ke depan, siapa tahu gadis itu sudah sampai di depan. Tapi begitu dia sampai di halaman depan, tak seorangpun dia temui. Bahkan keadaan mulai sepi.
Ibra mengedarkan pandangannya ke segala arah, dan kali ini dia sungguh kecewa karena Indira benar-benar tak dia temukan. Ibra sedikit gelisah karena suasana semakin mendung, karena rintik mulai berubah menjadi gerimis.
Dengan putus asa, dia kemudian berlari kecil ke arah mobilnya yang tadi diparkirnya dengan asal. Masuk dan duduk di jok sopir, duduk termangu dengan napas masih demikian ngos-ngosan, dan jantung yang berdegup liar.
Hei ... ada apa ini ? Hatinya bertanya dengan pongahnya. Padahal dia tahu jawabannya.
Sejenak, Ibra meraba bibirnya. Senyum bahagia tiba-tiba saja tersungging di sudut bibirnya. Masih sangat terasa olehnya, bagaimana manis dan lembutnya bibir Indira. Bahkan menimbulkan addict tersendiri buat Ibra.
“Indira ... kita pasti akan bertemu kembali” Ibra bergumam lirih sambil meraih kembali sapu tangan milik Indira dari saku bajunya. Dengan spontan, diciumnya sapu tangan dengan wangi melati yang lebut itu, menghidunya dalam-dalam untuk kemudian menghidupkan mesin mobilnya. Senyumnya masih saja terkembang, bahkan ketika mobil yang dikendarainya keluar dari area parkir sekolah mewah itu.
Tapi di salah satu sudut sekolah, seorang gadis yang sangat cantik sebenarnya, terlihat geram sambil membungkam mulut Indira.
Wajahnya yang culas kelihatan sangat mengancam dan mengintimidasi. Karena bukan hanya tangannya yang membungkam mulut Indira, tapi tangannya yang lain juga mencengkeram rambut gadis itu.
Kelihatan sekali bagaimana Indira yang dijambak itu meronta dengan keras, namun salah satu laki-laki teman si culas kelihatan gesit membantu.
Ketika suasana sudah demikian sepi karena hujan yang juga mulai turun, si culas menghempas tubuh Indira yang tadi di direngkuhnya dalam sekapan ketika gadis itu berlari menghindari perlakuan Ibra.
Indira terhuyung, namun si lelaki menangkap dan memegangnya dengan erat. Si culas tersenyum dengan semakin sadis sambil mendekat. Kemudian ...
“Plakk !!!”
Sebuah tamparan terdengar dengan demikian keras membuat Indira yang dipegang lengannya oleh si lelaki itu spontan menjerit dengan wajah terlempar ke sisi samping.
Belum lagi Indira menyadari rasa sakitdi pipinya, sebuah tamparan kembali menyapa pipinya yang lain. Gadis itu meringis menahan sakit, namun air mata tak urung mengambang dan menetes pelan di sudut matanya.
Tapi tanpa mempedulikan rasa perih di pipi gadis itu, si culas meraih wajah Indira kemudian mencengkeram dengan geramnya.
“Ini pertama dan terakhir kali aku ngasih kamu peringatan ! Jadi sekali lagi aku liat kamu menggoda Ibra, kamu akan menyesal pernah bertemu dengan dia. Karena Ibra hanya milikku !!” gadis culas itu kemudian menghempas wajah si commoner Indira.
“Lepaskan dia, Boy !”
Si lelaki menurut saja apa kata si culas. Dan Indira yang dihempas dengan tiba-tiba itu kini terhuyung dan terjerembab di tanah.
Di bawah rinai gerimis yang mulai memadat, isaknya terdengar lirih, seiring kepergian gadis culas itu. Yang dari name tag nya Indira ingat, sangat ingat.
Namanya ...
* * * * *