Napas perempuan yang tiba-tiba saja muncul di pintu kamar tamu rumah Ibra itu terlihat kasar dan ngos-ngisan menahan amarah yang sejak siang tadi coba dia tahan. Matanya menatap nyalang ke arah Ibra dan Indira yang tak kalah terkejutnya dengan Livi, gadis itu. “Hooo ... jadi ini yang membuat kamu mengabaikan sms dan telepon aku beberapa hari ini ?” Livi bertanya dengan sengak sambil melipat kedua tangan di dadanya. Ibra berdiri dengan tenang dan memegang bahu Indira agar perempuan itu tenang. “Kamu tahu, aku sibuk.” “Sibuk dengan perempuan sok naif ini ?” Livi menatap nyalang ke arah Indira yang mulai gentar dengan kedatangan Livi dan umpatannya yang diluar dugaan. “Perempuan ini punya nama. Dan dia adalah Indira.” “Kamu pikir aku peduli dengan namanya ? Yang aku pedulikan, dan itu m

