"Bu, aku tidak bisa terburu-buru mengambil langkah ini. Aku harus berbicara dulu kepada Kiara," ucap Galih.
"Apalagi yang ingin kau bicarakan sama Kiara? Perempuan itu tidak akan menginginkan kamu menikah lagi. Tidak mungkin dia memberimu izin. Tapi harus diingat, Galih. Bahwa lelaki tidak perlu izin istri untuk menikah lagi. Intinya, kau hanya perlu memberitahunya saja bahwa kau ingin menikah lagi. Soal dia setuju apa tidak, itu bukan masalah. Dalam agama, hukumnya begitu, Nak," Bu Farah terus aja berusaha untuk mengobarkan api pengaruhnya terhadap Galih.
"Iya Bu. Perkataan ibu memang tidak ada salahnya. Tapi aku masih punya nurani. Rasanya tidak pantas aku menikahi wanita lain di tengah kehamilan istri sahku." Jawab Galih lagi.
Megan dan ibunya semakin kesal saja dengan jawaban Galih yang masih saja berusaha untuk menyinggung masalah nurani.
"Kau selalu saja bicara soal nurani, coba kau pikir, apakah istrimu punya nurani? Tidak, Nak. Ibu rasa istrimu itu adalah wanita yang tidak punya sopan santun. Lihatlah tingkahnya! Sekarang dia malah ingin bertingkah bak seorang bos di rumah ini. Wanita seperti seperti itu yang ingin kau ukur dengan nurani? Sangat tidak pantas," ucap Bu Farah mulai geram.
"Ucapan ibu benar, Galih. Jujur ya, aku saja muak mendengarmu bicara mengait-ngaitkan Kiara dengan hati nuranimu. Kiara itu wanita yang tidak memikirkan masa depan. Buat apa kamu terlalu memikirkan orang seperti dia? Paling-paling juga cuma merepotkan hidupmu saja. Kalau dia memang benar-benar wanita baik seperti yang kau katakan, tentu saja dia tidak akan membangkang pada ibu kita," ujar Megan.
Galih manggut-manggut saja, hatinya benar-benar bingung menimbang perkataan dua perempuan terdekatnya tersebut.
"Kau tahu bagaimana hukum agama untuk seorang pria? bagaimanapun keadaannya, seorang lelaki tidak dibenarkan untuk menjadi pembangkang terhadap wanita yang telah melahirkannya. Apalagi membangkang untuk mengikuti jejak istri. sadarlah Galih, istri seperti Kiara tidak patut untuk dipertahankan. Aku ini Mbakmu. tidak mungkin aku menganjurkan yang buruk-buruk buat kamu. Percayalah kau tidak akan bahagia bila selamanya berumah tangga bersama Kiara," lanjut Megan lagi.
Kembali Galih terdiam. Pikirannya tertuju pada sosok Kiara yang telah menemaninya selama ini. Hatinya bimbang. Patutkah yang mengkhianati cinta Kiara dengan menikahi Celine?
Dalam hati g
Galih membatin, jikalau sebelum-sebelumnya Kiara adalah sosok istri yang sangat penurut. Tidak banyak protes meski keputusan apapun yang Galih tetapkan. Wanita itu terlalu penurut untuk dikhianati.
Sedangkan perubahan sikap Kiara pada beberapa hari belakangan, Galih berpikir mungkin saja itu bawaan dari kandungan atau perasaan Kiara yang sedang sensitif. Galih tidak benar-benar percaya jikalau Kiara adalah sosok istri jahat, seperti yang Megan dan Bu Farah katakan. Tapi seperti yang telah dikatakan sebelumnya, untuk melawan dua wanita itu Galih merasa tidak sanggup.
"Galih, Galih. Sebegitu susahnya kau ingin meninggalkan Kiara. Tapi terserah padamu saja. Palingan juga nanti uangmu habis dikeruk sama Kiara." Ujar Megan dengan nada mengejek.
"Mbak, tolong tidak usah ngomong Kiara begitu. Kalau Kiara memang ingin mengeruk uangku, mengapa dia tidak mempermasalahkan aku menyerahkan seluruh gajiku pada Ibu?" Ucap galih dengan suara agak keras.
"Lhaa, wajar dong kamu memberi gajimu sama ibu. Kau lupa? Bahwa kau bisa bekerja dan mendapatkan gaji sebesar itu, itu karena ibu yang menyekolahkanmu, menguliahkan, dan memfasilitasi pendidikanmu. Jangan sampai kau lupakan itu ya! Dan sekarang ketika kau bekerja dan mendapat gaji besar, sudah sepantasnya kamu berikan sama ibu sebagai balas budi. Emang kau ingin memberi seluruh gajimu sama Kiara seluruhnya? Memangnya apa jasa yang telah Kiara lakukan untukmu selama ini?"
"Cukup, Mbak. Cukup!" Galih cepat-cepat memotong ucapan Megan.
"Galih ...!" Bu Farah berteriak.
"Cukup, Bu. Aku tidak sanggup lagi mendengar ucapan kalian!" Galih cepat-cepat meninggalkan Bu Farah dan Megan.
"Bagus sekali, Galih. Sekarang kau juga ikut-ikutan istrimu membangkang dan menentang ucapan ibumu sendiri. Kau melakukan ini hanya karena sosok wanita seperti Kiara." Teriak Bu Farah lagi.
"Cukup, Bu, otakku pusing."
"Otakmu pusing karena perbuatan Kiara!"
"Cukup, Bu. Berhenti bicara seperti itu tentang Kiara!"
Galih pusing sendiri dengan sikap ibunya dan juga Megan. setelah itu dari melangkahkan kaki tanpa peduli lagi kepada orang tua dan kakaknya.
Sepeninggal Galih, Megan dan Farah berbincang-bincang dengan penuh kebencian.
"Ini pasti karena Kiara!" Tuduh Bu Farah.
"Sepertinya dugaan ibu benar. Sebelum-sebelumnya galih tidak pernah berani bersikap seperti itu. Kiara memang luar biasa, mau mengendalikan hati Galih, jangan kau pikir kau akan berhasil Kiara! Kita harus mengambil alih kepercayaan Galih!" Geram Megan.
"Sepertinya Galih perlu untuk diruqyah. Supaya setan-setan yang mempengaruhinya lekas keluar. Tidak sudi aku jika galih dipengaruhi secara mistis oleh Kiara," ujar Bu Farah berkacak pinggang.
Krieet...
Bersamaan dengan itu muncullah Kiara dengan sebuah plastik belanjaan di tangan.
Baru saja cara memasuki rumah ia disambut oleh muka masam dari Bu Farah dan juga Megan.
"Dari mana kamu?" Serta-merta Bu Farah bertanya.
"Dari belanja!" Jawab Kiara.
"Belanja katamu? Oooh, sekarang sudah pandai kamu ya membelanjakan uang anakku sesuka hati?" Farah langsung meluncurkan kata-kata tanpa memikirkan perasaan.
"Galih itu susah mencari uang, Kiara! Berapa banyak waktu yang ia habiskan di kantor demi bisa mendapatkan gaji. Lhaa, kamu cuma ongkang-ongkang kaki saja di rumah, malah bersenang-senang dengan uang hasil jerih payahnya. Berlagak sekali kamu sekarang!" Megan turut menimpali.
"Mbak Megan! Bukankah uang Mas Galih ia serahkan seluruhnya kepada Ibu? Bahkan bulan ini aku bahkan tidak menerima pemberiannya lagi. Ambil saja semua uangnya sama ibu," jawab Kiara Lukas.
"Hahaha gayanya saja yang selangit. Kalau tidak karena uang adikku mana bisa kamu belanja seperti ini! Heleeh ... mana mungkin kamu menolak uang pemberian Galih," tandas Megan lagi.
"Hey, di dunia ini bukan hanya Galih yang bisa mendapatkan uang. Jangan kalian pikir aku hanya bisa hidup dari uang Galih saja. Tuh ambil semua gaji Galih sama kalian berdua. Aku juga tidak butuh! Huuuh... Gaji sepuluh juta saja bangganya setinggi langit." Suara Tiara tak kalah Judesnya.
"Galiiih ...!" Tiba-tiba saja Bu Farah berteriak lantang.
"Galiih ...!" Ulangnya lagi.
Sebentar kemudian Galih datang dengan tergopoh-gopoh.
"Ada apa lagi, Bu?" Tanya galih dengan muka kusut.
"Kiara? kamu darimana?" Galih menghampiri istrinya.
Sebelum Kiara menjawab, sekonyong-konyong Megan menyerobot untuk berbicara, "Lihatlah istrimu itu Galih, lihatlah betapa borosnya dia! Dia cuma ingin menghabiskan uangmu saja! Wanita seperti ini yang selalu kau bela di depan kami?"
Galih dibuat garuk-garuk kepala dengan ucapan Megan. Galih kebingungan.
'Bukankah bulan ini Kiara bahkan tidak menerima sedikitpun dari gajiku? Bagaimana bisa mbak Megan bicara begitu?'
Bersambung...