Ian merasa usahanya sia-sia. Sepanjang malam ia berpikir untuk menyusun tesis ilmiahnya, namun tidak satupun kalimat yang benar-benar berhasil ditulis. Pikiran Ian hanya terfokus pada Faith, perasaannya tidak bisa berhenti mengkhawatirkan wanita itu dan hanya Tuhan yang tahu betapa ia merindukan wanita itu. Malam, Ian terjaga dari tidurnya. Ingatan akan Faith mengusik pikirannya, kemudian pagi ketika ia kembali memulai aktivitasnya di klinik, Ian menjadi lebih pasif dan membiarkan bawahannya yang menangani pasien. Ian tidak bisa menangani para pasien ketika pikirannya terbagi di dua tempat. Pada malam berikutnya, Ian menghabiskan waktu dengan duduk bersandar di sofa sembari mneteskan alkohol pada lukanya sementara Luke berdiri di hadapannya, mondar-mandir dengan resah dan tidak pernah

