bab 7. kejutan

918 Words
Malam itu, hujan turun rintik-rintik, menciptakan suasana yang sejuk dan damai di balik pagar cat putih rumah kecil mereka. Setelah perdebatan hebat pagi tadi, Ze merasa sangat lelah secara batin. Ia duduk di pinggir tempat tidur, baru saja selesai mengeringkan rambutnya setelah mandi air hangat. Pikirannya masih melayang pada percakapan bisik-bisik antara Arif dan Bu Ratri yang ia dengar di teras tadi sore. Pintu kamar terbuka pelan. Arif masuk dengan wajah yang tidak lagi kaku. Ia tidak tampak marah, malah terlihat sedikit ... gugup? "Ze," panggil Arif lembut. Ia berjalan mendekat dan duduk di samping istrinya. Ze hanya menoleh sedikit, masih merasa canggung. "Ya, Mas?" Arif menghela napas panjang, lalu meraih tangan Ze. "Maafin aku ya soal tadi pagi. Aku tahu aku keterlaluan karena membentakmu. Aku cuma lagi stres berat di kantor, dan aku merasa gagal sebagai suami kalau kamu terus-terusan tanya soal uang." Ze menunduk. "Aku cuma takut kita nggak bisa bayar cicilan, Mas. Aku nggak bermaksud menyudutkan kamu." "Aku tahu. Dan sebenarnya ... ada alasan kenapa uang gajiku agak tertahan dan kenapa aku kelihatan tertutup belakangan ini." Arif merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua. Jantung Ze seolah berhenti berdetak. Kotak itu. Sama dengan nama toko perhiasan di struk yang ia temukan. Arif membuka kotak itu di depan Ze. Di dalamnya, sebuah kalung emas putih dengan liontin permata kecil berkilau tertimpa lampu kamar. Indah sekali. Sangat elegan dan pasti harganya tidak murah. Tapi, di nota toko perhiasan itu tertulis cincin, tapi kenapa jadi kalung? Ze memilih tidak mempersoalkan hal itu. Yang penting kecurigaannya mulai menjinak. "Ini buat kamu, Ze. Tadinya aku mau kasih pas hari ulang tahun pernikahan kita bulan depan, tapi karena tadi pagi kita berantem hebat, aku nggak tahan lagi lihat kamu sedih," bisik Arif. “Mas, ini buat aku?” "Uang kasbon itu ... sebagian besar buat beli ini. Aku pengen kasih kamu sesuatu yang layak setelah semua kerja keras kamu buat keluarga ini. Maaf ya kalau gara-gara ini, cicilan rumah jadi agak mepet." Air mata Ze seketika luruh. Rasa bersalah yang teramat sangat menghantam dadanya. ‘Ya Tuhan, aku sudah menuduhnya macam-macam,’ batin Ze. Semua kecurigaannya, semua bisikan Maya di kantor, dan semua prasangka buruknya tentang rahasia itu seolah menguap begitu saja digantikan oleh rasa haru. "Mas, ini cantik banget. Tapi kamu nggak perlu sampai mengorbankan uang dapur buat ini," ucap Ze sambil terisak. Arif tersenyum manis, senyum yang membuat Ze jatuh cinta bertahun-tahun lalu. Ia membantu Ze mengenakan kalung itu. Dinginnya emas yang menyentuh kulit leher Ze terasa seperti sebuah validasi bahwa suaminya masih sangat mencintainya. "Jangan dipikirin lagi ya? Soal cicilan, aku udah urus. Bonus kecil sudah cair sore tadi buat nutupin denda. Kita aman, Ze. Semuanya baik-baik saja," ucap Arif sambil mengecup dahi Ze lama. Ze memeluk Arif erat-erat. Ia merasa sangat bodoh karena sempat meragukan suaminya. Kalimat yang ia dengar di teras tadi ‘Ze jangan sampai tahu dulu’ ternyata hanya soal kejutan kalung ini. Begitu sederhananya penjelasan itu, namun Ze sudah mengolahnya menjadi skenario misteri yang menyeramkan di kepalanya. Keesokan paginya, Ze bangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Ia bahkan menyapa Bu Ratri dengan senyum yang sangat tulus saat di dapur. "Eh, kalung baru ya?" celetuk Bu Ratri sambil melirik leher Ze. Ze merona merah. "Iya, Bu. Mas Arif kasih kejutan semalam." Bu Ratri hanya mengangguk kecil, sudut bibirnya sedikit terangkat, meski tatapannya tetap sulit dibaca. "Baguslah kalau dia udah kasih. Arif itu sayang banget sama kamu, Ze. Jangan sering-reing dipojokkan soal uang, laki-laki itu punya harga diri." Ze mengangguk patuh. "Iya, Bu. Aku minta maaf kalau kemarin-kemarin aku terlalu cerewet." Hari itu, saat Fira datang untuk mengajar Lili, Ze bahkan menyambutnya dengan sangat ramah. Ia tidak lagi merasa cemburu atau curiga. Ia melihat Fira sebagai bagian dari solusi untuk masa depan Lili, bukan lagi sebagai pengganggu atau lubang dalam keuangan mereka. "Wah, kalungnya cantik sekali, Mbak Ze," puji Fira saat mereka berpapasan di ruang tengah. "Terima kasih, Fira. Ini hadiah dari Mas Arif," jawab Ze dengan bangga. Fira tersenyum, senyum yang sangat sopan dan profesional seperti biasanya. "Pak Arif memang suami yang perhatian ya. Lili sering cerita betapa sayangnya ayahnya sama bundanya." Semuanya terasa kembali normal. Hubungan harmonis yang Ze idamkan seolah telah kembali ke jalurnya. Ze merasa rumahnya kembali menjadi surga kecilnya. Ia bahkan menelepon Maya saat jam istirahat untuk menceritakan bahwa semua kecurigaannya salah besar. Namun, di tengah kebahagiaan itu, ada satu detail kecil yang luput dari perhatian Ze. Saat ia sedang merapikan meja riasnya sore itu, ia melihat kotak beludru biru itu lagi. Ia bermaksud menyimpannya di laci bawah. Namun, saat kotak itu terbalik, ia melihat sebuah label harga kecil yang masih menempel di bagian paling bawah kotak, yang tampaknya lupa dilepas oleh Arif. Harganya tertera di sana. Dan harganya ... jauh lebih murah daripada total uang yang hilang dari gaji Arif dan uang kasbon yang Arif sebutkan. Jika kalung itu harganya hanya dua juta rupiah, lalu ke mana perginya sisa uang tiga juta lainnya? Dan, kenapa Arif harus kasbon sebesar itu jika hanya untuk kalung ini? Kilau di leher Ze tiba-tiba terasa sedikit lebih berat. Kebahagiaannya belum sepenuhnya hancur, tapi sebuah tanya baru mulai tumbuh di sela-sela rasa syukurnya. Apakah kalung ini adalah tanda cinta, ataukah sekadar uang tutup mulut agar Ze berhenti bertanya? Ze menatap cermin, menatap pantulan dirinya yang memakai kalung indah itu. Untuk pertama kalinya, ia bertanya-tanya. ‘Apakah sesuatu yang berkilau selalu berarti tulus?’ Ze memilih untuk diam dan menikmati kebahagiaan ini, ia tidak mau merusak semuanya, hanya karena kecurigaan yang aneh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD