Harapan adalah hal yang berbahaya, dan Ze baru saja menyadarinya pagi ini.
Sudah tiga hari sejak ia menemukan struk toko perhiasan itu di tas Arif, tapi leher dan pergelangan tangannya masih kosong.
Tidak ada kotak beludru di bawah bantal, tidak ada kejutan manis di meja makan, dan tidak ada ucapan terima kasih sudah berjuang bersama, yang ia tunggu-tunggu.
Yang ada hanyalah tumpukan tagihan yang mulai jatuh tempo.
Pagi itu, suasana dapur terasa lebih dingin dari biasanya. Ze sedang menyiapkan bekal untuk Lili dengan gerakan yang sedikit kasar.
Bunyi benturan kotak makan dengan meja kayu terdengar nyaring di tengah keheningan rumah.
Arif duduk di meja makan, menyesap kopinya perlahan sambil menatap layar ponsel.
Di sudut lain, Bu Ratri sedang melipat seragam sekolah Lili yang baru saja disetrika.
Biasanya, Bu Ratri akan melontarkan satu atau dua sindiran tentang cara Ze membungkus nasi, tapi hari ini beliau diam seribu bahasa.
Matanya hanya melirik tajam ke arah Ze dan Arif bergantian, seolah ia sedang menonton sebuah drama yang babak akhirnya sudah ia ketahui.
"Mas," Ze membuka suara, memecah kesunyian.
"Hm?" Arif tetap fokus pada ponselnya.
"Pihak bank tadi menelepon. Cicilan rumah kita sudah lewat jatuh tempo tiga hari. Mereka bilang kalau sampai besok belum ada pembayaran, akan ada denda keterlambatan yang lumayan," ucap Ze.
Suaranya berusaha tetap datar, meski ada getaran kecemasan di sana.
Arif meletakkan ponselnya, tapi wajahnya tampak defensif.
"Kan aku sudah bilang kemarin, Ze. Bonusku belum cair. Kamu pakai uang simpananmu dulu, kenapa? Nanti aku ganti semuanya."
Ze meletakkan sendok dengan dentang yang keras. Ia berbalik, menatap Arif lurus-lurus.
"Uang simpananku sudah habis, Mas! Aku udah pakai untuk bayar listrik, air, gaji Fira yang kamu minta dibayar di muka kan ini bulan ke 2 Fira bekerja, dan belanja mingguan yang harganya makin gila. Aku ini cuma staf bantuan, gajiku nggak seberapa. Kamu tahu itu, kan?"
Arif menghela napas panjang, menunjukkan raut wajah seolah Ze adalah pihak yang paling tidak sabaran di dunia.
"Ya terus aku harus gimana? Aku nggak bisa maksa kantor cairin bonus hari ini juga, kan?"
"Aku cuma minta kejujuran, Mas," suara Ze mulai meninggi.
“Kejujuran?”
"Kamu bilang kamu kasbon buat bayar Fira. Oke, aku terima. Tapi kenapa sampai sekarang kamu nggak bisa kasih uang dapur sedikit pun? Apa benar uangnya cuma buat Fira?"
Ze hampir saja keceplosan soal struk perhiasan itu, tapi ia menahannya. Ia ingin Arif yang mengaku sendiri.
Arif bangkit dari kursinya, suaranya mulai naik satu oktav.
"Maksud kamu apa? Kamu nuduh aku pakai uang itu buat yang lain? Ze, aku kerja banting tulang dari pagi sampai malam itu buat siapa? Buat kamu, buat Lili! Kenapa setiap soal uang kamu selalu curigaan begini?"
"Aku nggak curiga kalau semuanya jelas, Mas! Kita ini suami istri, tapi sekarang rasanya aku kayak orang asing yang cuma disuruh kerja dan beresin rumah tanpa tahu kondisi keuangan kita yang sebenarnya!"
Perdebatan itu mulai memanas di tengah ruang makan. Lili, yang baru saja keluar dari kamar dengan seragamnya, terpaku di ambang pintu. Ia menatap ayah dan bundanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Ze yang menyadari kehadiran Lili langsung berusaha meredam emosinya, tapi Arif tampaknya sudah terlanjur emosi.
"Sudahlah, Ze. Capek aku bahas ini terus. Setiap pagi bukannya dikasih semangat, malah ditagih-tagih kayak aku ini debitur!" Arif menyambar kunci motornya dan tas kerjanya dengan kasar.
Di tengah badai kata-kata itu, Ze melirik ke arah Bu Ratri.
Ibu mertuanya itu masih duduk tenang di kursinya. Beliau tidak membela Arif, tidak juga memarahi Ze.
Beliau hanya diam, mengusap-usap ujung seragam Lili dengan tatapan kosong yang misterius.
Keheningan Bu Ratri justru terasa lebih menakutkan daripada teriakan Arif. Seolah-olah beliau sedang menyimpan sebuah kebenaran yang sangat besar, namun memilih untuk membiarkan Ze hancur perlahan dalam ketidaktahuannya.
"Mas, tunggu!" Ze mengejar Arif sampai ke teras.
“Aku mau pergi.”
"Aku nggak bermaksud berantem. Aku cuma mau kita terbuka. Kalau memang ada masalah, kita cari solusinya bareng-bareng."
Arif sudah menyalakan mesin motornya. Suara raungan knalpot menenggelamkan suara lembut Ze.
"Nanti kita bahas lagi. Aku sudah telat rapat."
Tanpa menoleh, Arif memacu motornya keluar dari pagar cat putih itu, meninggalkan kepulan asap dan hati Ze yang remuk.
Ze berdiri mematung di teras, merasakan angin pagi yang dingin menerpa wajahnya.
Saat ia kembali masuk ke dalam, Bu Ratri sudah berdiri di dekat meja makan, menuntun Lili untuk duduk.
Beliau menatap Ze dengan tatapan dingin, lalu berkata pelan tanpa emosi,
"Cepat sarapan, Ze. Nanti kamu telat kantor. Biar Lili Ibu yang urus."
Hanya itu. Tidak ada pembelaan untuk anaknya, tidak ada cercaan untuk menantunya.
Diamnya Bu Ratri hari itu terasa seperti sebuah pengakuan bahwa ada sesuatu yang memang sedang disembunyikan di balik pintu rumah mereka.
Sore harinya, saat Fira datang untuk mengajar, Ze memperhatikannya dari kejauhan.
Fira tetap terlihat sempurna, tetap terlihat profesional. Namun sekarang, setiap kali Ze melihat Fira, yang ia lihat bukan lagi sekadar guru les, ia melihat sosok yang telah menguras habis tabungannya dan mungkin, tanpa ia sadari, sedang menjadi bagian dari rahasia yang Arif dan Bu Ratri tutup rapat-rapat.
Ze duduk di teras belakang, menatap langit yang mulai jingga.
Tangannya meraba lehernya yang masih polos. Struk perhiasan itu masih ada di pikirannya, menjadi duri yang terus menusuk.
Jika perhiasan itu bukan untuknya, lalu untuk siapa? Dan kenapa Bu Ratri hanya diam melihat rumah tangga anaknya mulai retak karena urusan uang?
Pertanyaan-pertanyaan itu mulai memenuhi kepala Ze, membuatnya menyadari bahwa kebahagiaan yang ia banggakan hanyalah sebuah fatamorgana yang sebentar lagi akan hilang disapu kenyataan.
***
Di kantor, Ze merasa seperti raga tanpa nyawa. Jarinya bergerak di atas papan tik, memasukkan data inventaris yang tak habis-habis, tapi pikirannya masih tertinggal di meja makan pagi tadi.
Bayangan wajah Arif yang merah padam karena emosi dan diamnya Bu Ratri yang sedingin es terus berputar di benaknya.
"Ze? Kamu salah input lagi, itu kode barangnya harusnya untuk divisi marketing," tegur Maya pelan sambil menyentuh bahu Ze.
Ze tersentak. Ia menatap layar monitornya dan menyadari ia baru saja melakukan kesalahan fatal untuk ketiga kalinya hari ini.
"Eh, iya. Maaf, May. Aku perbaiki sekarang."
Maya tidak kembali ke meja kerjanya. Ia justru menarik kursi plastik di dekat kubikel Ze dan duduk di sana.
Sebagai sesama staf bantuan dan teman karib, Maya tahu betul kapan Ze sedang bekerja keras dan kapan Ze sedang hancur.
"Kita ke kantin yuk? Mumpung jam istirahat baru mulai. Kamu butuh udara segar, Ze. Muka kamu pucat banget," ajak Maya tulus.
Ze awalnya ingin menolak karena tumpukan pekerjaannya, tapi ia sadar jika ia tetap di sana, ia mungkin akan menangis di depan komputer. Akhirnya, ia mengangguk pelan.
Di pojok kantin yang agak sepi, Ze hanya mengaduk-aduk teh obengnya tanpa minat untuk meminumnya. Maya memperhatikan sahabatnya itu dengan prihatin.
"Ada apa, Ze? Soal rumah lagi? Atau soal mertuamu?" tanya Maya hati-hati.
Ze menghela napas panjang, bahunya merosot. "Semuanya, May. Ekonomi, Mas Arif, dan ... kecurigaanku yang mungkin konyol."
Ze akhirnya menumpahkan semuanya. Tentang gajian Arif yang belum juga sampai ke meja dapur, tentang kasbon besar demi membayar Fira, hingga soal struk perhiasan yang ia temukan tapi tak kunjung ia terima wujudnya.
Ia menceritakan bagaimana ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri, terutama dengan kehadiran Bu Ratri yang hanya diam melihatnya berdebat dengan Arif.
"Aku merasa kayak lagi jalan di dalam kabut, May," ucap Ze dengan suara serak.
“Jangan ngomong gitu ih.”
"Aku sayang sama Mas Arif, aku percaya sama dia. Tapi tindakannya belakangan ini benar-benar nggak masuk akal. Masa dia lebih mentingin bayar guru les lima juta sebulan daripada cicilan rumah yang mau disita bank?"
Maya mendengarkan tanpa memotong. Ia tampak berpikir sejenak sebelum merespons.
"Ze, aku nggak mau komporin kamu ya. Tapi kalau laki-laki sudah mulai tertutup soal uang dan ada pengeluaran besar yang nggak jelas rimbanya ... kamu harus waspada. Apalagi ada struk perhiasan itu."
"Tapi Mas Arif nggak terlihat kayak orang selingkuh, May. Dia tetap perhatian sama aku, nggak pernah main HP diam-diam, dan Fira itu ... dia sangat profesional. Nggak ada tanda-tanda mereka punya hubungan," bela Ze, mencoba meyakinkan dirinya sendiri lebih daripada meyakinkan Maya.
“Siapatahu bukan selingkuh sama Fira itu.”
“Maksudnya?”
"Selingkuh itu nggak selalu soal perempuan lain, Ze," sahut Maya pelan.
“Terus?”
"Bisa jadi dia menyembunyikan masalah lain. Utang, atau mungkin rahasia keluarga. Dan soal mertuamu yang diam saja itu ... menurutku itu justru yang paling aneh. Biasanya kan beliau paling depan kalau ada urusan yang menyangkut anaknya?"
Ze mengangguk setuju. "Itu dia. Diamnya Ibu itu kayak ... kayak beliau tahu sesuatu yang aku nggak tahu. Seolah-olah mereka berdua punya kesepakatan rahasia, dan aku cuma orang luar yang kebetulan tinggal di sana buat beres-beres dan bantu bayar cicilan."
Maya memegang tangan Ze, meremasnya pelan.
"Ze, kamu lulusan S1. Kamu pintar. Jangan biarkan perasaan 'istri penurut' itu bikin kamu buta. Coba cari tahu pelan-pelan tanpa Arif tahu. Periksa lagi surat-surat di rumah atau dengerin kalau mereka lagi bicara berdua. Bukan buat cari ribut, tapi buat lindungi dirimu dan Lili."
Curhat pada Maya sedikit meringankan beban di d**a Ze, tapi juga menanamkan benih keberanian yang baru. Ia tidak bisa lagi hanya diam dan menerima keadaan.
Sore itu, saat pulang kerja, Ze sengaja tidak langsung masuk ke dalam rumah. Ia berdiri sejenak di balik pagar cat putih, mendengarkan suara dari dalam.
Terdengar suara tawa Lili dan suara lembut Fira yang sedang mengajar. Semuanya terdengar begitu normal. Begitu damai.
Namun, saat Ze melangkah masuk, ia melihat Arif sudah pulang lebih awal. Arif sedang duduk di teras samping bersama Bu Ratri. Mereka tidak menyadari kehadiran Ze karena terhalang tanaman hias.
"Jadi sudah beres semuanya?" tanya Bu Ratri dengan nada suara yang sangat rendah, hampir berbisik.
"Sudah, Bu. Yang penting Ze jangan sampai tahu dulu. Aku belum siap kalau dia tanya-tanya lagi," jawab Arif lirih.
Ze membeku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke telinganya.
Kalimat itu, Ze jangan sampai tahu dulu adalah konfirmasi dari semua ketakutannya.
Kebahagiaan harmonis yang selama ini ia jaga ternyata memang berdiri di atas tumpukan rahasia yang sengaja disembunyikan darinya.
Ze menarik napas dalam-dalam, mengatur raut wajahnya agar terlihat biasa saja, lalu melangkah masuk ke rumah sambil berseru, "Bunda pulang!"
Ia melihat Arif dan Bu Ratri tersentak kaget. Arif segera mengubah ekspresi wajahnya menjadi senyum manis yang biasa, sementara Bu Ratri kembali ke mode diamnya yang dingin.
"Eh, Sayang. Sudah pulang? Tadi aku beliin camilan di depan buat kita," ucap Arif seolah tak terjadi apa-apa.
Ze membalas senyum itu, meski hatinya terasa perih luar biasa. Ia menyadari satu hal, di rumah ini, ia sedang memainkan peran dalam sebuah drama yang naskahnya tidak pernah ia baca. Dan ia bertekad, sebelum bab ini berakhir, ia harus menemukan naskah itu.