Kilau kalung emas putih di leher Ze seharusnya menjadi beban yang menenangkan, namun malam ini, benda itu terasa seperti jerat yang mencekik.
Setiap kali ia bercermin, ia teringat label harga yang tak sengaja ia lihat. Selisih tiga juta rupiah.
Bagi orang lain mungkin kecil, tapi bagi Ze yang menghitung setiap butir beras, itu adalah angka yang sangat besar.
Arif sudah terlelap di sampingnya, napasnya teratur dan tenang, sebuah ketenangan yang membuat Ze merasa sangat kesepian.
Ze bangkit dari tempat tidur dengan gerakan sangat pelan, memastikan ranjang tidak berderit. Ia melangkah keluar kamar tanpa menyalakan lampu, hanya mengandalkan cahaya bulan yang masuk dari sela gorden ruang tengah.
Tujuannya satu, meja kerja Arif di sudut ruang tamu.
Jantung Ze berdegup kencang. Ia merasa seperti pencuri di rumahnya sendiri.
Dengan tangan gemetar, ia membuka tas kerja Arif lagi. Ia tidak mencari kuitansi Fira, ia mencari sesuatu yang lebih mendasar, buku tabungan atau catatan mutasi rekening yang biasanya Arif simpan di selipan map cokelat.
"Cari apa, Ze?"
Suara itu muncul tiba-tiba dari kegelapan, membuat Ze hampir saja menjerit jika tidak segera menutup mulutnya dengan tangan.
Bu Ratri berdiri di sana, di ambang pintu kamarnya, mengenakan daster panjang dengan rambut yang terurai.
Wajahnya terlihat pucat di bawah sinar bulan, dan matanya menatap Ze tanpa kedip.
"Bu ... aku Cuma ... cuma cari gunting kuku di tas Mas Arif," dalih Ze terbata-bata. Ia segera menutup tas itu dan berdiri dengan kikuk.
Bu Ratri tidak mendekat. Beliau tetap di sana, mematung. "Gunting kuku ada di laci dapur. Jangan biasakan bongkar-bongkar barang suami tengah malam. Nanti malah ketemu yang nggak pengen kamu lihat."
Kalimat itu terdengar seperti peringatan sekaligus ancaman. Ze menelan ludah. "Iya, Bu. Aku lupa."
"Tidur, Ze. Besok kamu harus kerja. Urusan rumah ini, biarlah jadi urusan laki-laki. Kamu nggak usah terlalu banyak cari tahu kalau mau hidupmu tenang," tambah Bu Ratri sebelum akhirnya kembali masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan bunyi klik yang tajam.
Ze terpaku. Apa maksud dari perkataan Bu Ratri.
‘Jangan terlalu banyak cari tahu kalau mau hidupmu tenang.’
Kalimat itu justru menjadi bahan bakar bagi rasa penasarannya. Ia kembali ke kamar, tapi tidak untuk tidur. Di bawah selimut, ia menyalakan ponselnya.
Ia membuka aplikasi mobile banking miliknya. Ia melihat histori transfernya sendiri.
Setiap bulan, hampir 80% gajinya masuk ke rekening bersama untuk cicilan rumah. Lalu ia teringat sesuatu.
Arif pernah memberikan akses user ID rekening bersamanya setahun lalu saat mereka baru pindah.
Dengan tangan masih gemetar, Ze mencoba masuk. Sekali salah. Dua kali salah. Pada percobaan ketiga, ia berhasil.
Mata Ze membelalak melihat saldo di sana. Kosong.
Rekening yang seharusnya berisi dana cadangan untuk cicilan tiga bulan ke depan itu hanya menyisakan angka minimal.
Ada penarikan tunai besar-besaran secara berkala selama dua bulan terakhir.
Dan yang paling mengejutkan adalah satu baris transaksi kemarin sore.
Transfer Keluar - Rp3.000.000 - Keterangan: Pelunasan.
"Pelunasan apa?" bisik Ze lirih.
Nama penerimanya bukan Fira. Bukan pula bank cicilan rumah. Nama penerimanya adalah sebuah nama asing yang belum pernah Ze dengar.
"Klinik Medika Utama."
Ze mengerutkan kening. Siapa yang sakit? Arif sehat-sehat saja. Bu Ratri juga tampak bugar meskipun sering mengeluh pegal sedikit.
Lili? Lili hanya batuk pilek biasa bulan lalu dan mereka hanya ke puskesmas.
Pagi harinya, Ze berangkat kantor dengan kepala yang terasa mau pecah. Ia tidak lagi bisa bersikap manis pada Arif.
Saat sarapan, ia lebih banyak diam.
"Kamu kenapa, Sayang? Kok pucat?" tanya Arif sambil mencoba mengusap tangan Ze.
Ze menarik tangannya dengan halus, pura-pura merapikan rambut. "Kurang tidur saja, Mas. Banyak kerjaan di kantor."
“Kamu istirahat ya, jangan terlalu capek,” kata Arif.
Ze menganggukkan kepala.
“Kalau capek, kamu kan bisa cuti sehari,” lanjut Arif.
“Aku akan antar Lili ke sekolah.”
“Lili biar aku yang antar, kamu bisa langsung bekerja,” jawab Arif membuat Ze mengangguk lagi.
Sesampainya di kantor, Ze tidak langsung bekerja. Ia menghubungi Maya melalui pesan singkat.
[May, bisa bantu aku? Kamu punya kenalan di Klinik Medika Utama nggak? Aku perlu cari tahu siapa yang berobat pakai rekening suamiku kemarin sore.]
Maya membalas dengan cepat.
[Maya: Itu klinik spesialis persalinan dan kandungan, Ze. Kamu hamil lagi?]
Ze merasa dunianya seolah berhenti berputar.
Kandungan? Persalinan?
Ia melihat kalung di lehernya melalui pantulan layar komputer. Kilauan emas putih itu sekarang terasa seperti penghinaan.
Jika uang itu digunakan untuk klinik kandungan, sementara ia tidak hamil, lalu siapa yang sedang dibiayai oleh suaminya?
Sepanjang siang di kantor, Ze tidak bisa diam. Maya membantunya mencari kontak di Klinik Medika Utama, namun hasilnya nihil.
Karena aturan privasi pasien yang sangat ketat, Ze tidak bisa mendapatkan nama siapa pun tanpa surat kuasa atau kehadiran sang pemilik rekening.
Akhirnya, dengan modal nekat dan izin sakit dari kantor, Ze mendatangi klinik itu sore harinya. Ia berdiri di depan meja administrasi dengan jantung yang berdebar kencang.
"Mbak, saya mau konfirmasi pembayaran atas nama Arif kemarin sore. Sepertinya ada kesalahan nominal," bohong Ze, suaranya bergetar.
Petugas administrasi itu mengecek layar komputernya cukup lama. "Atas nama Arif? Sebentar ya, Bu ... Oh, ini ada transfer masuk senilai tiga juta rupiah. Tapi keterangannya bukan untuk pasien di sini, Bu. Ini pembayaran untuk pelunasan sewa stan kantin di area belakang klinik. Kebetulan pengelola kantin kami namanya Pak Arif."
Ze tertegun. "Kantin?"
"Iya, Bu. Pak Arif pengelola kantin kecil di belakang. Beliau baru saja melunasi tunggakan sewa stannya."
Ze lemas. Pak Arif pengelola kantin. Bukan suaminya.
Suaminya adalah Arif sang ketua tim penjualan di perusahaan besar, bukan pengelola kantin klinik. Ia menyadari sebuah kebodohan besar, nama Arif adalah nama yang sangat pasaran.
Ia telah menghakimi suaminya hanya karena sebuah nama yang kebetulan sama di mutasi rekening.
Dengan sisa keberaniannya, Ze menunjukkan foto di ponselnya kepada satpam di depan.
"Pak, apa gadis ini sering ke sini?" tanya Ze memperlihatkan gambar Fira.
Satpam itu melihat foto Fira sebentar. "Oh, ini gadis yang tempo hari antar anaknya periksa mata di sebelah, Bu. Klinik mata persis di samping gedung ini. Mereka cuma numpang duduk di ruang tunggu kami karena di sebelah penuh banget, AC-nya lagi mati. Saya sendiri yang kasih izin mereka duduk di sini."
Anak? Jadi Fira punya anak?
Ze merasa dunianya berputar, tapi kali ini karena rasa malu yang luar biasa.
Ze pulang dengan langkah gontai. Ia merasa menjadi istri paling buruk di dunia. Ia telah mencurigai suami yang memberinya kalung indah, ia telah memata-matai mertua yang sedang sakit mata, dan ia telah menuduh gadis sopan seperti Fira dengan tuduhan yang menjijikkan.
Saat sampai di rumah, suasana tampak begitu damai. Dari ruang tengah, terdengar suara Lili yang sedang tertawa sambil mengeja kata-kata dalam bahasa Inggris.
"H-O-U-S-E, House! Rumah!" seru Lili ceria.
"Pinter banget Lili! Nanti kalau Ayah pulang, tunjukin ya?" suara Fira menyahut dengan lembut.
Ze berdiri di ambang pintu, melihat Fira yang sedang duduk di lantai bersama Lili.
Fira mengenakan kerudung rapi, wajahnya tampak tulus tanpa riasan berlebihan. Tidak ada gurat licik, tidak ada rahasia.
"Eh, Mbak Ze sudah pulang?" Fira bangkit berdiri dan menyapa dengan senyum manisnya yang khas.
"Iya, Fira ... Maaf ya, Mbak tadi agak telat," ucap Ze lirih.
"Nggak apa-apa, Mbak. Ini Lili progresnya bagus banget. Tadi Ibu juga sudah kasih Lili s**u," lapor Fira sopan.
Arif kemudian keluar dari kamar, sudah berganti pakaian santai. Ia menghampiri Ze dan mengecup kening istrinya di depan semua orang.
"Capek banget ya, Sayang? Tadi aku lihat kamu pulang naik ojek, mukanya lesu banget."
Ze menatap Arif, lalu beralih ke kalung yang masih melingkar di lehernya.
Rasa bersalah itu kini benar-benar membungkam instingnya. Ia memeluk Arif erat, seolah ingin meminta maaf atas semua prasangka buruknya di dalam hati.
"Maafin aku ya, Mas. Aku sayang banget sama kamu," bisik Ze.
Arif tertawa kecil, mengelus rambut Ze. "Loh, kok tiba-tiba minta maaf? Kamu nggak salah apa-apa, Ze. Sudah, sana mandi, terus kita makan malam bareng. Masakan Ibu enak banget hari ini."
Malam itu, meja makan kembali hangat. Bu Ratri mulai banyak bicara lagi, bercerita tentang betapa baiknya Fira yang menemaninya ke dokter mata tadi sore.
Fira tetap bekerja seperti biasa, profesional dan rendah hati.
Ze kembali menjadi Ze yang lama. Ze yang penurut, Ze yang penuh kasih, dan Ze yang kembali menutup mata.
Ia menganggap semua kecurigaannya hanyalah efek dari kelelahan kerja dan stres cicilan. Ia memutuskan untuk berhenti menjadi detektif dan kembali menjadi istri yang percaya sepenuhnya.
Pagar cat putih itu kembali terlihat kokoh. Rahasia itu seolah telah menguap. Namun, tepat saat Ze tertidur pulas malam itu, di ruang tamu yang gelap, Bu Ratri dan Arif saling bertukar pandang di dekat meja kerja.
Arif memberikan sebuah amplop kecil kepada ibunya, dan Bu Ratri mengangguk pelan sambil melirik ke arah kamar Ze yang tertutup rapat. Keheningan itu kembali bertahta, jauh lebih pekat dari sebelumnya.