Malam itu, hujan di luar rumah pagar putih itu tidak sedingin suasana di dalam kamar utama.
Ze sedang duduk di depan meja riasnya, dengan tenang mengeluarkan satu per satu belanjaannya. Ia seolah sedang melakukan ritual suci.
Ada sebotol serum wajah yang harganya setara dengan cicilan motor, ada lipstik merah menyala, dan beberapa potong pakaian sutra yang sangat halus.
Pintu kamar dibanting terbuka. Arif berdiri di ambang pintu dengan napas memburu.
Wajahnya yang biasanya tenang dan penuh wibawa kini merah padam.
"Ze! Kita belum selesai bicara!" bentak Arif. Suaranya menggelegar, namun Ze bahkan tidak berkedip.
Ze tetap mengoleskan krim malam ke punggung tangannya dengan gerakan melingkar yang anggun.
"Bicara apa lagi, Mas? Aku capek, mau istirahat," sahut Ze tanpa menoleh.
Arif melangkah masuk, menyambar salah satu tas belanjaan dari atas meja dan melemparkannya ke lantai.
Isinya sebuah tas kulit baru terpental keluar. "Kamu gila ya? Kamu tahu nggak bank baru saja telepon lagi? Mereka bilang kalau besok nggak ada dana masuk minimal sepuluh juta, surat penyitaan akan diproses! Dan kamu ... kamu malah buang-buang uang buat sampah ini?!"
Ze menghentikan gerakannya. Ia menoleh perlahan, menatap Arif lurus-lurus.
Di matanya tidak ada ketakutan, tidak ada penyesalan. Hanya ada sebuah senyum tipis yang sangat pahit, senyum seorang wanita yang sudah tahu bahwa pria di depannya adalah seorang pembohong ulung.
"Sepuluh juta, Mas?" Ze bertanya dengan nada yang sangat lembut, hampir seperti bisikan.
“Iya.”
"Bukannya bonus tim penjualanmu bulan ini tembus angka lima belas juta? Pak Bambang sendiri yang bilang padaku di kantor tempo hari. Ke mana uang itu, Mas? Kenapa kamu malah minta uang belanjaanku?"
Arif tertegun sejenak. Sorot matanya goyah, sebuah tanda kecil bahwa ia tertangkap basah, namun ia segera menutupinya dengan kemarahan yang lebih besar.
"Itu ... itu urusanku! Ada pengeluaran mendadak! Ada investasi untuk masa depan Lili yang harus aku bayar! Kamu nggak perlu tahu detailnya! Yang jelas, sekarang rumah ini dalam bahaya karena keegoisanmu!"
Ze tertawa kecil. Tawa yang terdengar sangat menyakitkan. Ia membayangkan kuitansi kuliah Fira yang ia temukan. Ia membayangkan s**u nutrisi tinggi dan asam folat yang dibelikan Bu Ratri untuk Fira menggunakan uang Arif.
‘Investasi masa depan Lili? Atau investasi untuk anakmu yang lain, Mas?’ batin Ze.
"Investasi ya? Baguslah kalau begitu," ucap Ze, kembali menghadap cermin.
“Ze, aku serius.”
"Kalau memang kamu sudah pakai uangmu untuk investasi, ya sudah. Rumah ini kan atas nama kita berdua. Kalau disita, ya kita pindah saja. Mungkin ke kontrakan kecil? Atau mungkin ... kamu punya tempat tinggal lain yang sudah kamu siapkan diam-diam?"
Kalimat Ze bagaikan sembilu yang menyayat udara. Arif mematung. Ia menatap Ze dengan tatapan tidak percaya.
"Maksud kamu apa bicara begitu? Kamu menuduh aku punya rumah lain? Ze, jaga bicaramu!"
"Aku nggak menuduh, Mas. Aku cuma bertanya," ucap Ze tersenyum lagi. Kali ini senyumnya lebih lebar, namun matanya tetap dingin.
“Kenapa bisa kamu bertanya seperti itu?”
"Aku cuma heran, seorang ketua tim hebat sepertimu bisa kehabisan uang untuk cicilan rumah sendiri. Padahal kamu sanggup membiayai banyak hal lain, kan?"
"Hal lain apa?!" teriak Arif frustrasi.
"Entahlah. Mungkin hobi? Atau mungkin membantu orang lain yang ... sangat membutuhkan?" Ze mengangkat bahu.
Ze tetap menjaga rahasianya rapat-rapat. Ia tidak akan membongkar soal Fira sekarang. Belum saatnya. Ia ingin melihat Arif tersiksa dalam kebohongannya sendiri.
Arif mendekat, mencengkeram bahu Ze dengan keras. "Dengar, Ze. Besok pagi, kamu cairkan deposito daruratmu. Bayar bank itu. Aku nggak mau tahu caranya. Kalau nggak, aku akan anggap kamu nggak lagi mendukung keluarga ini!"
Ze melepaskan cengkeraman tangan Arif dengan gerakan yang sangat tegas. Ia berdiri, sehingga kini tingginya hampir sejajar dengan suaminya karena ia mengenakan sandal rumah yang sedikit tinggi.
"Dengar juga, Mas," suara Ze berubah menjadi dingin dan tajam.
“Apa?”
"Deposito itu untuk masa depanku dan Lili. Bukan untuk menambal lubang yang kamu buat sendiri. Kalau kamu sanggup membayar gaji guru les sampai lima juta sebulan, kamu pasti sanggup bayar cicilan rumah. Jangan pernah sentuh uangku lagi. Mulai besok, aku berhenti jadi mesin ATM-mu."
"Ze! Kamu benar-benar sudah keterlaluan!"
Di luar kamar, sayup-sayup terdengar suara Bu Ratri yang ikut memprovokasi. "Rif! Jangan lemah sama dia! Istri macam apa itu yang biarkan suaminya kesusahan! Suruh dia keluar kalau tidak mau bantu!"
Arif menunjuk ke arah pintu. "Kamu dengar itu? Ibu saja malu punya menantu sepertimu! Kamu berubah sejak berteman dengan si Maya itu, ya? Kamu jadi wanita pemberontak!"
Ze hanya menatap suaminya dengan rasa kasihan yang mendalam. Kasihan karena Arif mengira ia masih bisa mengendalikan Ze dengan rasa bersalah.
Ze menyentuh pipi Arif dengan ujung jarinya, sebuah sentuhan yang membuat Arif bergidik. "Kamu hebat sekali bersandiwara. Benar-benar hebat. Sampai-sampai aku hampir percaya kalau kamu adalah suami paling jujur di dunia. Tidurlah, Mas. Besok kamu harus kerja keras untuk membayar investasimu itu, kan?"
Ze berjalan menuju tempat tidur, merebahkan dirinya, dan membelakangi Arif.
Ze memejamkan mata, membiarkan suaminya berdiri mematung di tengah kamar dengan napas yang memburu karena amarah yang tidak tersalurkan.
Arif ingin berteriak lagi, tapi ia merasa ada sesuatu yang salah. Ze yang ada di depannya bukan lagi Ze yang mudah ditakuti.
Ze seolah tahu sesuatu, tapi Ze tidak mengatakannya. Keheningan Ze jauh lebih menakutkan daripada teriakan mana pun.
Arif akhirnya keluar dari kamar dengan membanting pintu hingga debu-debu jatuh dari plafon. Ia berlari menuju ruang tamu, di mana Bu Ratri dan Fira sudah menunggu dengan wajah cemas.
"Gimana, Rif? Dia mau bayar?" tanya Bu Ratri tidak sabar.
Arif menggeleng kasar. "Dia keras kepala, Bu. Dia berubah total. Aku nggak tahu apa yang merasuki kepalanya."
Fira yang sedang duduk di sofa sambil memegang perutnya yang mulai terasa kencang karena stres, menatap Arif dengan mata berkaca-kaca. "Mas ... apa kita berhenti saja? Aku takut istrimu curiga. Uang kuliahku semester depan ... biar aku cari sendiri saja."
Arif langsung duduk di samping Fira, memegang tangannya di depan ibunya sendiri. "Enggak, Fir. Jangan bicara begitu. Kamu fokus saja sama kesehatanmu. Urusan Ze, biar aku yang selesaikan. Dia nggak tahu apa-apa, dia cuma lagi sensitif soal uang saja."
Bu Ratri mengangguk setuju. "Benar, Fira. Kamu jangan banyak pikiran. Biar Arif yang urus istrinya yang nggak tahu diri itu. Pokoknya kamu dan cucu Ibu harus aman."
Di dalam kamar, Ze mendengar setiap patah kata dari ruang tamu melalui celah pintu yang tipis. Ia tersenyum pahit di balik kegelapan.
Air matanya jatuh membasahi bantal, tapi ia segera mengusapnya.
"Teruslah bersandiwara, Mas. Teruslah merasa aman," bisik Ze pada sunyi. "Karena saat kalian jatuh nanti, aku pastikan nggak ada satu pun dari kalian yang punya tempat untuk berteduh."
Malam itu, Ze tetap terjaga. Ia mulai menyusun rencana keuangan baru di kepalanya. Ia akan memindahkan semua aset atas namanya ke rekening pribadi yang tidak diketahui Arif.
Ze akan memastikan bahwa jika rumah ini disita, ia sudah memiliki tabungan yang cukup untuk menyewa apartemen kecil bagi dirinya dan Lili. Ia membiarkan Arif tenggelam dalam lumpur yang ia gali sendiri, sementara ia menyiapkan sekoci untuk dirinya dan anaknya.
Pagar cat putih itu kini benar-benar menjadi saksi bisu sebuah keretakan yang mustahil untuk diperbaiki. Dan Ze, dengan lipstik merahnya yang baru, siap menyambut hari esok sebagai wanita yang berbeda.