bab 12. mulai mencari bukti

1237 Words
Pagi itu, Ze bangun dengan perasaan yang berbeda. Tidak ada lagi air mata yang tersisa. Matanya memang masih sedikit sembap, namun tatapannya sekeras batu karang. Ze berdiri di depan cermin, meraba kalung emas putih pemberian Arif, benda yang kini ia anggap sebagai sampah mahal, lalu memoleskan lipstik merah yang sedikit lebih berani dari biasanya. Ia harus bertahan. Bukan demi cintanya pada Arif yang sudah mati rasa, tapi demi haknya. Rumah ini, cicilan kendaraan, semuanya adalah hasil lembur dan potongan gajinya selama bertahun-tahun. Ia tidak akan membiarkan Fira dan anak di rahimnya menikmati hasil jerih payahnya secara cuma-cuma. Di dapur, Ze bersikap seolah tidak terjadi apa-apa semalam. Ia menyiapkan sarapan dengan tenang. "Pagi, Mas. Pagi, Bu," sapa Ze datar saat Arif dan Bu Ratri masuk ke meja makan. Arif tampak sedikit canggung, mungkin teringat bentakannya semalam. Namun, melihat Ze yang tampak biasa saja, ia langsung merasa menang. Ia mengira Ze sudah kembali ke mode istri penurut. "Pagi, Sayang. Maaf ya soal semalam, aku cuma stres. Kamu nggak marah kan?" tanya Arif sambil mencoba meraih tangan Ze. Ze memberikan tangannya, namun dengan sentuhan yang dingin. "Enggak, Mas. Aku sadar pendidikan Lili memang penting. Maafkan aku juga ya." Arif tersenyum lebar. Ia merasa jalannya kembali mulus. Ia tidak tahu bahwa di balik senyum tipis Ze, sang istri sedang menghitung setiap langkah untuk menghancurkannya. Sore harinya, Ze pulang lebih awal. Ia menjemput Lili dari sekolah, sebuah rutinitas yang jarang ia lakukan karena biasanya Fira yang menjemput atau Lili pulang dengan antar-jemput. Di dalam mobil, mobil yang DP dan cicilan bulanannya dibayar oleh Ze, suasana terasa hening hingga Lili membuka suara. "Ma, kenapa sih Mama sama Papa suka berantem kalau bicara soal Kak Fira?" tanya Lili polos sambil memeluk tas sekolahnya. Ze tertegun. Ia mencoba mengatur napasnya. "Enggak kok, Nak. Ibu sama Papa cuma lagi diskusi. Lili masih kecil, belum paham urusan orang dewasa. Yang penting Lili belajar yang rajin sama Kak Fira, ya?" Lili terdiam sejenak, menatap keluar jendela mobil yang basah oleh sisa hujan. "Tapi, Ma ... Papa beda kalau ada Kak Fira." Tangan Ze yang memegang kemudi mengencang. "Beda gimana, Sayang?" "Papa suka senyum-senyum sendiri kalau lihat Kak Fira mengajar. Terus, Papa sering ajak Kak Fira bicara lama di taman belakang kalau Mama belum pulang kantor. Papa kelihatan bahagia banget, nggak kayak kalau bicara sama Mama yang isinya cuma soal uang dan cicilan," ucap Lili dengan kejujuran anak-anak yang menyakitkan. Ze menelan ludah yang terasa pahit. "Oh ya? Mereka bicara apa saja di taman belakang?" "Lili nggak dengar jelas, Ma. Tapi pernah sekali, Lili lihat Papa kasih Kak Fira cokelat besar, terus Papa usap-usap kepala Kak Fira kayak Papa usap kepala Lili. Papa bilang, 'Sabar ya, sebentar lagi semuanya beres'. Beres apa ya, Ma?" Ze memejamkan mata sejenak, menahan gemuruh di dadanya. Beres apa? Mungkin maksudnya adalah setelah rumah ini lunas dan Ze disingkirkan. "Terus, Lili pernah lihat Kak Fira nangis?" pancing Ze pelan. "Pernah! Waktu itu Kak Fira mual-mual di kamar mandi. Nenek juga ada di sana. Nenek kasih Kak Fira minuman hangat, terus Nenek bilang, 'Jangan sampai Ze tahu kamu muntah-muntah begini, nanti dia curiga'. Lili dengar itu dari balik pintu," cerita Lili tanpa beban. Ze merasa perutnya seperti diaduk. Jadi, kecurigaannya tentang konspirasi Bu Ratri benar adanya. Ibu mertuanya bukan hanya tahu, tapi aktif menutupi kehamilan selingkuhan anaknya. "Lili sayang sama Kak Fira?" tanya Ze lagi, suaranya hampir hilang. "Sayang, Ma. Kak Fira baik. Tapi Lili lebih sayang Mama. Lili sedih kalau Mama kerja terus sampai malam, terus kalau pulang Mama mukanya capek. Papa jahat ya, Ma? Kenapa Papa kasih cokelatnya ke Kak Fira, bukan ke Mama?" Ze menepikan mobilnya ke bahu jalan. Ia tidak sanggup lagi menyetir. Ia memeluk Lili erat-erat, menumpahkan sedikit air mata di bahu kecil anaknya. "Papa nggak jahat, Lili. Papa Cuma ... lagi tersesat. Doakan Mama ya, supaya Mama bisa jaga rumah kita ini buat Lili," bisik Ze. Malam itu, saat seluruh rumah sudah terlelap, Ze memulai misinya. Ia tidak lagi mencari di tas kerja atau saku celana. Ia mencari di tempat yang lebih cerdik. Buku Laporan Belanja Bu Ratri. Ze tahu, setiap minggu Arif memberikan uang belanja pada ibunya. Bu Ratri adalah orang yang sangat teliti, beliau punya buku catatan kecil bersampul batik untuk mencatat pengeluaran dapur. Ze menemukan buku itu di bawah tumpukan taplak meja di lemari makan. Dengan bantuan senter ponsel, Ze membalik halaman demi halaman. Senin, Bu Ratri membeli sayur - 50rb, Daging - 100rb, Vitamin F - 300rb, lalu hari Kamis, membeli s**u L - 150rb, Buah-buahan - 100rb, Klinik M.U (Cek berkala) - 1.5jt. Ze memotret setiap halaman itu dengan ponselnya. Vitamin F. F untuk Fira. Dan angka 1.5 juta untuk klinik kandungan yang tempo hari ia selidiki. Arif menggunakan ibunya sebagai perantara keuangan agar mutasi rekeningnya terlihat bersih jika sewaktu-waktu Ze memeriksanya. Tak berhenti di situ, Ze masuk ke ruang kerja Arif. Ia mencari berkas-berkas lama di laci paling bawah yang terkunci. Ia menggunakan jepit rambutnya, sebuah keahlian yang ia pelajari dari video internet demi hari ini untuk membuka kunci laci itu. Di sana, di balik tumpukan akta tanah dan asuransi, Ze menemukan sebuah map plastik bening. Isinya bukan surat berharga, melainkan Kuitansi Pembayaran Kuliah (UKT) sebuah universitas ternama. Air mata Ze tumpah begitu saja ketika melihat nama mahasiswinya. Nama Mahasiswa: Anindya Fira Az-Zahra. Nama Pembayar: Arif Rivaldi. Tanggal Pembayaran: Sejak dua tahun lalu, setiap semester, tanpa putus. Tangan Ze gemetar hebat. Dua tahun. Arif sudah membiayai hidup dan masa depan Fira bahkan sebelum ia mengenal Ze. Pernikahan mereka selama enam bulan ini hanyalah sebuah proyek pendanaan bagi Arif. Ze adalah sumber pendapatan stabil untuk membayar rumah dan mobil, sementara pendapatan Arif sendiri dialokasikan untuk keluarga rahasianya. Ze menyadari pola yang mengerikan, Arif menikahinya karena ia wanita karier dengan gaji bagus, untuk mengamankan aset rumah dan mobil, yang kedua Arif membawa Fira masuk ke rumah sebagai guru les agar ia bisa mengawasi selingkuhannya tanpa harus keluar rumah. Dan yang terakhir, Bu Ratri berperan sebagai pengawas dan penjaga rahasia. "Kalian pikir aku sebodoh itu?" gumam Ze dengan nada dingin yang menakutkan. Ia mengembalikan semua berkas itu ke posisi semula. Ia mengunci kembali laci itu. Ia menghapus jejak kakinya. Ze kembali ke kamar dan menatap Arif yang tidur dengan sangat pulas. Ia merasa jijik melihat wajah suaminya. Pria ini telah merencanakan segalanya dengan sangat rapi. Pernikahan, anak, rumah, semuanya hanyalah pion dalam permainan Arif untuk menghidupi Fira. Namun Arif lupa satu hal. Ze adalah seorang analis data di kantornya. Ia terbiasa dengan pola, ia terbiasa dengan angka, dan ia adalah petarung. "Aku akan mempertahankan rumah ini, Mas. Aku akan mempertahankan mobil ini. Tapi aku tidak akan mempertahankanmu jika kamu tetap bersama Fira," batin Ze. Ia mengambil ponselnya, membuka folder tersembunyi yang ia beri nama Sampah. Di dalamnya sudah ada foto-foto kuitansi kuliah, foto catatan belanja Bu Ratri, dan rekaman suara singkat pengakuan Lili di mobil tadi. Ini baru permulaan. Ze tidak akan meledak sekarang. Ia akan menunggu sampai Fira melahirkan, atau sampai bukti transfer itu cukup banyak untuk membuat Arif tidak berkutik di pengadilan agama nanti jika memang sudah waktunya bercerai. Ze akan memastikan bahwa saat ia melayangkan gugatan cerai, Arif akan keluar dari rumah ini hanya dengan pakaian yang melekat di tubuhnya. Tanpa rumah, tanpa mobil, dan tanpa kehormatan. Ze merebahkan dirinya di samping Arif, namun hatinya sudah berada di tempat lain. Ia bukan lagi istri yang memohon cinta. Ia adalah seorang ibu yang sedang membangun benteng untuk melindungi masa depan anaknya dari ayahnya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD