bab 10. pertengkaran

1003 Words
Hujan mengguyur kota dengan deras sore itu, menciptakan melodi monoton yang menambah sesak di d**a Ze. Di tangannya, selembar surat peringatan dari bank terasa seperti bara api. Ini adalah surat peringatan kedua. Jika dalam tujuh hari ke depan cicilan rumah tidak segera dilunasi, prosedur penyitaan akan dimulai. Ze duduk di meja makan, menatap angka-angka yang memerah di buku catatannya. Ia sudah menghitung semuanya. Gaji Ze, sisa tabungan darurat, bahkan uang saku pribadinya sudah ia kerahkan. Hanya ada satu lubang besar yang menguras keuangan mereka, gaji Fira. Lima juta rupiah sebulan. Bagi Ze, itu adalah harga sebuah keamanan tempat tinggal. Suara langkah kaki mendekat. Arif masuk ke dapur dengan wajah segar setelah mandi, mengenakan kaos santai. Ia bersenandung kecil, seolah surat peringatan di atas meja itu tidak ada artinya. "Mas," panggil Ze, suaranya parau. Arif menoleh, tersenyum santai. "Ya, Sayang? Kok mukanya ditekuk terus? Hujan-hujan begini enaknya bikin pisang goreng, kan?" Ze tidak membalas candaan itu. Ia menggeser surat dari bank ke hadapan Arif. "Kita sudah nggak bisa begini terus, Mas. Bank sudah kirim surat peringatan kedua. Kalau minggu ini kita nggak bayar, rumah ini dalam bahaya." Arif melirik surat itu sekilas, lalu menghela napas panjang, seolah Ze baru saja merusak suasana hatinya. "Ze, kan aku sudah bilang, aku lagi usahakan. Kenapa sih kamu harus bawa-bawa surat itu ke meja makan? Jadi nggak selera aku." "Mas, kita harus realistis!" Ze berdiri, suaranya mulai meninggi. “Apa? Realistis?” "Ya. Uang yang kita pakai buat bayar Fira itu bisa buat nutupin cicilan bulan ini. Lili sudah jauh lebih baik, kan? Dia sudah bisa baca, sudah bisa hitung. Bahkan nilainya sudah membaik. Aku rasa ... untuk sementara, kita hentikan dulu les privatnya. Aku yang akan pegang Lili lagi setiap malam." Seketika, suasana di dapur membeku. Senyum di wajah Arif hilang, digantikan oleh gurat ketegangan yang belum pernah Ze lihat sebelumnya. Tatapan mata Arif yang biasanya lembut berubah menjadi tajam dan dingin. "Hentikan Fira?" tanya Arif dengan nada suara yang rendah namun sarat akan ancaman. "Iya, Mas. Cuma sementara. Sampai keuangan kita stabil lagi. Kita nggak mungkin korbankan rumah demi guru les, kan?" Arif tiba-tiba menggebrak meja makan dengan tangan kanannya. BRAKK! Bunyi itu menggema di seluruh ruangan, membuat Lili yang sedang belajar di ruang tengah terdiam, dan Bu Ratri yang sedang mencuci piring di belakang langsung menoleh. "Kamu pikir pendidikan anak itu barang yang bisa kamu pasang-lepas sesuka hatimu, Ze?!" bentak Arif. Wajahnya memerah, urat-urat di leher Arif menonjol. "Aku sudah susah payah cari guru terbaik, cari orang yang bisa sabar hadapi anak kamu yang lambat itu, dan sekarang kamu mau hentikan cuma gara-gara uang?!" Ze tersentak mundur, jantungnya berdegup kencang karena kaget. "Mas, ini bukan cuma soal uang, ini soal tempat tinggal kita! Dan jangan sebut Lili lambat, dia cuma butuh waktu!" "Oh, sekarang kamu mau jadi pahlawan? Kamu mau sok pintar?" Arif melangkah mendekat, mengintimidasi Ze dengan postur tubuhnya. “Mas, kamu kok ngomong gitu sih?” "Ke mana saja kamu selama ini? Kamu sibuk di kantor, kamu pulang malam, kamu nggak tahu betapa susahnya aku dan Ibu atur jadwal Lili. Fira itu sudah kayak bagian dari keluarga ini sekarang. Dia tahu cara pegang Lili. Kamu? Kamu cuma punya waktu sisa buat dia!" "Tapi Mas, lima juta itu—" "Cukup, Ze! Jangan pernah bahas soal hentikan Fira lagi!" potong Arif dengan suara yang menggelegar. “Mas, bisa nggak kamu dengerin aku dulu?” "Kalau kamu merasa gajimu kurang buat bayar cicilan, itu masalah kamu. Kamu yang minta kerja, kan? Kamu yang bilang mau bantu keuangan rumah tangga, kan? Sekarang mana buktinya? Malah mau korbankan masa depan anak!" Ze merasa ulu hatinya seperti dihantam benda tumpul. Pengorbanannya selama ini, lembur-lemburbahnya, keringatnya untuk membantu cicilan, seolah tidak dianggap sama sekali oleh Arif. Suaminya justru menggunakan keinginannya untuk bekerja sebagai senjata untuk menyalahkannya. Bu Ratri berjalan perlahan menuju mereka, wajahnya datar, namun matanya menunjukkan dukungan mutlak pada putranya. "Ze, Ibu nggak habis pikir sama kamu. Fira itu anak baik, dia sudah bantu banyak di rumah ini. Kenapa kamu tega mau putus rejeki orang? Apa kamu nggak kasihan sama Lili yang sudah mulai nyaman?" "Bu, ini soal rumah kita mau disita!" Ze mencoba membela diri. "Kalau rumah ini disita, itu artinya suamimu kurang kerja keras, atau istrinya yang terlalu boros!" sahut Bu Ratri pedas. “Maksudnya aku yang salah di sini?” "Lagipula, Ibu sudah cocok sama Fira. Dia sopan, nggak kayak kamu yang kalau bicara sama suami sudah berani pakai nada tinggi." Ze menatap Arif dan ibunya bergantian. Ia merasa dikeroyok di rumahnya sendiri. Arif yang biasanya terlihat sabar, kini menatapnya dengan kebencian yang nyata hanya karena Ze mengusulkan untuk menghemat uang. "Mas, jujur sama aku," ucap Ze berbisik, air mata mulai menggenang di kelopak matanya. “Jujur apa?” "Kenapa kamu begitu bersikeras mempertahankan Fira? Kenapa kamu sampai marah besar begini? Apa ada hal lain yang nggak aku tahu?" Arif terdiam sejenak. Sorot matanya goyah selama sepersekian detik sebelum kembali mengeras. "Nggak ada hal lain! Ini soal prinsip! Aku nggak mau anakku jadi bodoh cuma karena ibunya pelit! Titik!" Arif menyambar jaketnya dan keluar rumah di tengah hujan deras, membanting pintu depan dengan sangat keras. Ze jatuh terduduk di kursi, bahunya terguncang hebat. Ia menangis tanpa suara. Di ruang tengah, Fira berdiri di balik tirai, memperhatikan segalanya. Ia tidak keluar untuk menenangkan, tidak juga pergi. Ia hanya diam, menatap Ze dengan tatapan yang sangat sulit diartikan, bukan rasa kasihan, tapi sesuatu yang lebih mirip dengan pengamatan dingin terhadap korbannya. Malam itu, Ze menyadari satu hal yang sangat mengerikan. Arif bukan hanya hebat menyembunyikan kebohongan, tapi dia juga hebat dalam membalikkan fakta. Dia membuat Ze merasa bersalah atas kemiskinan mereka, padahal dialah yang membuang-buang uang entah ke mana. Ketegangan di rumah itu kini sudah mencapai titik didih. Arif yang penyayang telah menghilang, digantikan oleh pria asing yang penuh kemarahan. Dan, di sudut rumah, Fira tetap bertahta, menjadi ratu kecil yang keberadaannya tidak boleh diganggu gugat oleh Ze sang nyonya rumah yang sah. Pagar cat putih itu kini terasa seperti jeruji besi yang mengurung Ze dalam kegilaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD