Suara desahan dan janji Arif pada Fira di kamar mereka tadi masih terngiang-ngiang seperti kaset rusak yang menyayat otaknya.
Rumah dengan pagar putih ini akan jadi rumah kita nanti. Ze cuma numpang bayar saja sekarang.
Kalimat itu adalah vonis mati bagi sisa-sisa empati Ze. Ia menyuruh supir taksi mengarah bukan ke kantor, melainkan ke sebuah gedung perkantoran tua di sudut kota yang rimbun.
Ze menganggap semua yang dilakukan Arif dan Fira sudah tak bisa dimaafkan lagi, ini sudah cukup menyakitkan bagi Ze, karena mendengar secara langsung suaminya b******a dengan wanita lain.
Rasanya sakit dan sakitnya seolah menguliti semua dagingnya dan menyisahkan hanya tulang.
Di lantai tiga gedung itu, terdapat sebuah papan nama kecil dari kuningan.
LBH & Rekan: Spesialis Hukum Keluarga
Ze melangkah masuk. Aroma kertas tua dan kopi pahit menyambutnya. Ia tidak lagi menangis.
Wajahnya sedingin porselen. Di hadapannya, seorang pengacara wanita paruh baya bernama Ibu Sarah menatapnya dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung.
"Jadi, Ibu Zenata, apa yang bisa saya bantu?" tanya Ibu Sarah lembut namun tegas.
Ze menarik napas panjang. Ia mengeluarkan map biru yang tadi ia ambil dari rumah, map yang sebenarnya berisi fotokopi bukti transfer, kuitansi kuliah Fira, foto-foto catatan belanja Bu Ratri, dan yang paling penting, bukti cicilan rumah dan mobil atas nama Zenata.
"Saya ingin bercerai, Bu," ucap Ze. Suaranya tidak bergetar.
“Ya tentu, Ibu kemari sudah pasti mau bercerai.”
"Tapi saya tidak ingin keluar dari rumah itu dengan tangan hampa. Saya ingin suami saya keluar dari sana tanpa membawa satu sen pun dari aset yang saya bayar."
Ibu Sarah membuka map itu, membalik halaman demi halaman dengan teliti. Keheningan di ruangan itu terasa begitu berat.
"Ini kasus yang menarik," gumam Ibu Sarah. "Suami Ibu menggunakan skema yang sangat rapi. Memasukkan selingkuhannya sebagai guru les adalah cara untuk melegalkan keberadaan orang ketiga di dalam rumah. Tapi dia ceroboh soal bukti finansial. Dia menggunakan uang Ibu untuk melunasi gaya hidup mereka."
"Dia menjanjikan rumah itu untuk wanita itu, Bu," sela Ze, suaranya tajam seperti belati.
“Terus?”
"Dia bilang saya cuma numpang bayar. Saya ingin dia tahu rasanya numpang hidup di jalanan."
Ibu Sarah tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah sering melihat medan perang di pengadilan agama. "Kita punya dua jalur, Ibu Ze. Jalur cepat atau jalur menyakitkan. Jika Ibu ingin dia hancur, kita harus menggunakan jalur kedua. Kita tidak akan melayangkan gugatan cerai sekarang."
Ze mengernyitkan dahi. "Kenapa?"
"Karena sekarang dia masih merasa aman. Stiker kuning dari bank itu adalah keuntungan bagi kita. Biarkan dia kelabakan mencari uang. Biarkan dia meminjam ke sana-kemari. Sementara itu, kita akan mengalihkan kepemilikan aset secara diam-diam jika memungkinkan, atau setidaknya membuat perjanjian utang-piutang yang menjeratnya."
Diskusi itu berlangsung selama tiga jam. Ze belajar banyak hal tentang hukum harta gana-gini dan bagaimana pengkhianatan bisa dikonversi menjadi kerugian materi yang bisa dituntut.
Saat ia keluar dari kantor Ibu Sarah, matahari sudah mulai terbenam, memberikan warna jingga yang dramatis pada langit.
Ze tidak langsung pulang. Ia pergi ke sebuah kafe kecil, memesan makanan yang paling mahal di menu, dan menikmatinya sendirian. Ia merasa seperti seorang jenderal yang baru saja menyelesaikan peta p*********n.
Ze tidak akan pelit pada dirinya sendiri lagi, Ze tidak perlu lagi berhemat demi biaya hidup keluarganya, karena Arif sudah menyatakan perang dengannya.
Dua tahun Arif selingkuh dengan Fira, tapi tetap menjadi suami yang baik, itu sudah menjadi kehancuran bagi Ze, tapi Ze tak akan hancur sendirian, selagi proses itu berjalan, ia akan tetap menjadi istri yang baik yang mengurus suaminya.
***
Malam harinya, Ze sampai di rumah. Suasana tampak sangat tenang, terlalu tenang. Arif sedang duduk di ruang tamu, tampak gelisah. Begitu Ze masuk, Arif langsung berdiri.
"Sayang, dari mana saja? HP kamu nggak aktif. Aku khawatir," ucap Arif. Ada nada kepura-puraan yang kental dalam suaranya.
Ze tahu, Arif bukan khawatir padanya, tapi khawatir jika Ze melakukan sesuatu yang membahayakan posisinya.
Ze tersenyum manis, senyum yang sekarang menjadi topeng permanennya. "Maaf, Mas. Tadi rapatnya panjang banget, terus HP-ku mati kehabisan baterai. Aku mampir makan dulu sebentar karena lapar banget."
"O-oh begitu ya," angguk Arif tampak lega.
“Iya, Mas. Emang ada apa? Tumben kamu telepon? Biasanya juga nggak.”
"Ze, soal rumah, aku udah coba hubungi teman-temanku, tapi belum ada yang bisa pinjamkan uang sebanyak itu. Kamu ... beneran nggak punya simpanan lain?"
Ze berjalan mendekati Arif, membelai lengannya dengan lembut, sebuah sentuhan yang membuat Ze sendiri merasa ingin muntah. "Mas, aku punya ide. Gimana kalau kita buat perjanjian tertulis? Aku akan coba pinjam ke koperasi kantor, tapi aku butuh jaminan. Mas mau tanda tangani surat yang menyatakan kalau cicilan rumah ini sepenuhnya tanggung jawabku dan jika Mas gagal bayar, hak asuh dan aset sepenuhnya jatuh ke tanganku?"
Arif terdiam. Ia tampak berpikir keras. "Surat apa itu? Kedengarannya kok resmi banget?"
"Cuma formalitas buat koperasi, Mas. Supaya mereka percaya aku punya kontrol atas aset ini. Kan Mas sendiri yang bilang, Mas lagi susah. Ini satu-satunya cara supaya stiker kuning di pagar itu dicabut. Mas mau kita malu terus sama tetangga?"
Arif melirik ke arah luar, membayangkan stiker kuning itu. Gengsinya yang setinggi langit akhirnya mengalahkan logikanya. "Ya udah. Buat saja suratnya. Besok aku tanda tangani. Yang penting rumah ini aman, Ze."
Ze mengangguk, matanya berkilat di balik kegelapan ruang tamu.
‘Ya, rumah ini akan aman, Mas. Aman darimu.
Di sudut lain, Bu Ratri keluar dari kamarnya dengan wajah masam. "Baru pulang sudah bikin ribut soal surat. Ze, kamu itu harusnya carikan solusi, bukan bikin ribet anak Ibu!"
Ze menatap mertuanya dengan tatapan sedih yang sangat meyakinkan. "Ibu, aku justru lagi cari solusi. Ze mau pinjam uang besar demi rumah ini. Ibu mau rumah ini disita?"
Bu Ratri bungkam. Beliau tahu posisi mereka sedang di ujung tanduk. Beliau masuk kembali ke kamar dengan membanting pintu.
Fira muncul dari lorong, membawa segelas air putih. Ia menatap Ze dengan pandangan yang aneh, campuran antara takut dan iri.
Ze memperhatikan perut Fira yang sedikit lebih menonjol di balik daster longgarnya.
"Bu, baru pulang?" tanya Fira lirih.
"Iya, Fira. Kamu belum tidur? Jangan capek-capek ya, nanti kesehatanmu terganggu," ucap Ze dengan penekanan pada kata kesehatan.
Fira tersentak, hampir menjatuhkan gelasnya. Ia segera berlalu masuk ke kamar tamu. Fira memang sering menginap di sini, lalu larut malam, Arif akan pindah ke kamar tamu dan b******a dengan Fira, sungguh itu menjijikkan.
Ze tahu semuanya, namun ia tetap bertahan demi masa depan putrinya, ia tidak mau mengambil tindakan gegabah yang bisa menghancurkan rencananya.
Ze berjalan menuju kamarnya sendiri. Ia melihat tempat tidur yang tadi siang menjadi saksi bisu pengkhianatan suaminya.
Ze mengambil sebotol cairan disinfektan dari lemari, lalu menyemprotkan seluruh permukaan tempat tidur itu dengan kalap sampai baunya menyengat.
Arif masuk ke kamar dan mengendus udara. "Bau apa ini, Ze?"
"Bau busuk, Mas," jawab Ze tenang sambil meletakkan botol itu.
“Busuk?
"Iya, Mas. Aku merasa kamar ini bau busuk banget tadi. Mungkin ada bangkai yang tersembunyi?"
Arif pucat pasi. Ia tidak berani bertanya lebih lanjut. Ia segera berbaring di sisi tempat tidur yang jauh dari Ze.
Ze berbaring, menatap langit-langit. Ia merasa seperti sedang berada di dalam sebuah film horor, di mana ia adalah karakter yang baru saja menyadari bahwa hantunya ada di dalam rumah.
Tapi hantu ini berdarah dan berdaging, dan Ze akan memastikan hantu itu lenyap dari hidupnya selamanya.
Malam itu, di bawah atap yang sama, empat orang tidur dengan pikiran yang berbeda-beda. Arif bermimpi tentang rumah yang ia kuasai bersama Fira. Bu Ratri bermimpi tentang cucu laki-laki.
Fira bermimpi tentang pernikahan yang sah. Dan Ze? Ze tidak bermimpi. Ia sedang terjaga, menghitung hari sampai seluruh perangkapnya tertutup sempurna.
Pagar cat putih itu masih berdiri di luar, memeluk stiker kuning yang mulai mengelupas terkena angin malam. Tapi di dalam, pondasinya sudah hancur lebur, dan Ze adalah satu-satunya orang yang tahu kapan semuanya akan runtuh.