bab 20. mulai muak

1380 Words
Di saat Ze sedang menyusun puing-puing kehancuran rumah tangganya, takdir justru mempertemukannya dengan potongan masa lalu Arif yang paling berkilau. Sore itu, Ze baru saja keluar dari kantor pusat perbankan di kawasan Sudirman. Ze baru saja mengurus pemindahan rekening gajinya ke bank lain, sebuah langkah taktis agar Arif tidak bisa lagi memantau atau menebak jumlah saldo yang ia miliki. Saat ia melangkah keluar dari lobi gedung pencakar langit yang dilapisi kaca antipeluru itu, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depannya. Seorang pria keluar dari pintu belakang. Perawakannya tegap, mengenakan setelan jas navy yang dipotong sempurna. Wajahnya tegas, namun ada gurat kesedihan yang tenang di matanya. "Zenata?" suara bariton pria itu memecah lamunan Ze. Ze menoleh, mengerutkan dahi. Ia merasa mengenali wajah itu dari foto-foto lama di album kuliah Arif atau dari cerita-cerita sombong suaminya tentang teman suksesnya. "Jeva? Jeva Mahera?" Ze bertanya ragu. Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang sopan namun berjarak. "Lama tak bertemu. Terakhir kita bertemu di pernikahanmu dengan Arif, bukan? Berapa tahun yang lalu?" Ze tertegun. Jeva Mahera. Nama yang sering disebut Arif dengan nada iri sekaligus bangga. Pemilik jaringan ritel terbesar di negeri ini dan pemegang saham mayoritas di bank tempat Ze baru saja mengurus rekeningnya. Jeva adalah definisi sukses yang sering dijadikan standar oleh Arif, meski Arif sendiri tak pernah mencapainya. "Iya, Jeva. Apa kabar? Aku tidak menyangka bertemu denganmu di sini," ucap Ze, mencoba bersikap senormal mungkin meski hatinya sedang gemuruh. "Kabar baik. Kebetulan ini kantorku," ujar Jeva menunjuk ke arah gedung megah di belakang mereka. "Kamu sendiri? Ada urusan perbankan?" Ze mengangguk pelan. "Hanya urusan kecil. Pemindahan akun." Jeva memperhatikan Ze dengan teliti. Sebagai pria yang terbiasa membaca angka dan orang, ia menangkap ada yang berbeda dari Ze. Wanita di depannya ini tampak lebih kurus, matanya menyimpan rahasia yang berat, namun polesan lipstik merahnya menunjukkan sebuah perlawanan. "Arif apa kabar? Dia beruntung memilikimu," ucap Jeva. Kalimat itu terdengar tulus, namun bagi Ze, itu seperti sembilu. "Dia ... baik. Sangat baik," jawab Ze dengan nada yang sulit diartikan. Jeva terdiam sejenak. Ia teringat kabar duka yang menimpanya setahun lalu. Istrinya, satu-satunya wanita yang ia cintai, meninggal karena komplikasi kesehatan. Sejak saat itu, Jeva menjadi duda kaya raya yang menutup diri dari hiruk-pikuk asmara, fokus sepenuhnya pada ekspansi bisnis perbankannya. "Kamu mau minum kopi sebentar? Kebetulan jadwalku kosong tiga puluh menit sebelum rapat berikutnya," tawar Jeva. Ze sempat ragu. Namun, ia menyadari bahwa Jeva mungkin bisa menjadi sumber informasi atau bahkan sekutu tanpa pria itu sadari. “Baiklah. Kebetulan hari ini aku memang kerja di luar,” angguk Ze. Keduanya lalu duduk disebuah kafe eksklusif, di lantai dasar gedung tersebut. Suasananya sunyi, hanya ada denting sendok perak dan musik jazz lembut. "Aku turut berduka soal istrimu, Jev. Aku baru dengar beberapa bulan lalu," ucap Ze membuka percakapan. Jeva menatap cangkir espressonya. "Terima kasih, Ze. Kehilangan dia adalah lubang terbesar dalam hidupku. Kami belum sempat punya anak, dan sekarang ... rumah terasa sangat luas sekaligus sangat kosong." ‘Aku mengerti. Rumahku juga terasa kosong, Jeva. Kosong dari kejujuran,’ batinnya. "Lalu, bagaimana pernikahanmu? Arif masih di perusahaan distribusi itu?" Jeva mencoba mengalihkan topik. Ze menyesap tehnya perlahan. Ia memutuskan untuk memberikan umpan kecil, tanpa membongkar rahasianya. "Iya, dia masih di sana. Baru saja menjadi ketua tim. Tapi, ekonomi sekarang sedang sulit, bukan? Kami bahkan sempat berurusan dengan bank soal cicilan rumah." Jeva mengerutkan dahi. "Oh ya? Setahuku Arif punya aliran dana yang cukup stabil. Dia beberapa kali berkonsultasi padaku soal investasi ritel. Dia bilang dia sedang menguliahkan saudara jauhnya dan itu memakan biaya banyak." Jantung Ze berdegup kencang. Saudara jauh? Jadi itu alasan yang dipakai Arif pada teman-temannya. "Saudara jauh, ya? Mas Arif memang sangat dermawan," ujar Ze tersenyum pahit, sebuah senyum yang membuat Jeva menyipitkan mata. "Ada yang salah, Ze?" Jeva bertanya langsung. Ketajaman nalurinya sebagai bankir tidak bisa dibohongi. Ze menatap Jeva lurus-lurus. Ia melihat kejujuran di mata pria itu. Jeva adalah orang yang sangat menghargai kesetiaan, karena itulah ia tetap sendiri setelah istrinya tiada. "Jev, boleh aku bertanya sesuatu sebagai teman?" Ze merendahkan suaranya. "Tentu." "Jika ada seseorang yang menjanjikan sebuah aset yang dibayar oleh orang lain kepada pihak ketiga, menurut hukum perbankanmu, apakah itu bisa digagalkan?" Jeva terdiam. Ia meletakkan cangkirnya. Pertanyaan itu terlalu spesifik untuk disebut sekadar obrolan ringan. "Tergantung siapa pemegang hak tanggungan dan atas nama siapa aset itu terdaftar, Ze. Dalam dunia perbankan, kepemilikan adalah hukum tertinggi. Niat atau janji lisan tidak berarti apa-apa di depan sertifikat." Ze mengangguk paham. "Terima kasih. Itu informasi yang sangat berharga." Pertemuan itu tidak berlangsung lama. Jeva harus kembali ke ruang rapatnya. Saat mereka berdiri di lobi, Jeva memberikan kartu namanya, sebuah kartu nama berwarna hitam dengan tulisan emas yang hanya diberikan kepada orang-orang penting. "Jika kamu butuh bantuan soal urusan perbankan atau ... apa pun yang mengganggumu, jangan ragu hubungi aku. Arif adalah teman lamaku, tapi aku menghargai wanita yang tahu cara berjuang untuk haknya," ucap Jeva. Ze menerima kartu itu. "Terima kasih, Jeva." *** Ze pulang ke rumah dengan perasaan yang lebih kuat. Bertemu Jeva memberinya perspektif baru. Jika Arif merasa hebat karena berteman dengan orang seperti Jeva, maka Ze akan menunjukkan bahwa ia bisa berdiri di level yang sama, bahkan lebih tinggi. Sesampainya di rumah, Ze mendapati mobilnya yang dibawa Arif sudah terparkir di garasi. Di ruang tamu, Arif sedang tertawa bersama Fira sambil menunjukkan sesuatu di tabletnya. Bu Ratri duduk di samping mereka, tampak sangat menikmati kebersamaan itu. "Eh, Ze sudah pulang? Sini, Ze. Lihat ini, Fira baru saja pilih model tempat tidur bayi yang lucu sekali. Dia bilang mau beli buat keponakannya di kampung nanti," ucap Bu Ratri tanpa rasa berdosa. Ze melangkah masuk, mencium tangan Bu Ratri, lalu tersenyum pada Arif. "Oh ya? Bagus itu. Fira memang punya selera yang bagus." Arif menatap Ze, sedikit heran melihat istrinya tampak begitu segar dan tenang. "Kamu habis dari mana? Kok kelihatannya senang sekali?" Ze meletakkan tasnya, lalu sengaja meletakkan kartu nama Jeva Mahera di atas meja, seolah-olah tak sengaja jatuh. Arif melihat kartu nama itu. Matanya membulat. "Ini ... ini kartu nama Jeva? Kamu ketemu Jeva?" "Oh, iya. Tadi nggak sengaja bertemu di bank, Mas. Dia mengajakku minum kopi sebentar. Dia titip salam buatmu, Mas. Katanya, dia kagum kamu masih sempat membantu saudara jauhmu kuliah di tengah cicilan rumah yang berat," ucap Ze dengan nada paling polos yang pernah ada. Wajah Arif seketika pucat pasi. Ia melirik Fira, lalu kembali ke Ze. Lidahnya jadi kelu. "J-jeva bilang begitu?" "Iya. Dia pria yang sangat baik ya, Mas. Sayang istrinya sudah meninggal. Dia bilang padaku, kesetiaan adalah segalanya. Aku sangat setuju dengannya," ujar Ze tersenyum manis, lalu mengusap kepala Lili yang baru saja lari menghampirinya. Fira menunduk dalam, tangannya meremas daster. Ia merasa aura Ze hari ini sangat mengintimidasi. Bu Ratri pun tampak bingung, merasa ada sesuatu yang tidak beres namun tidak bisa menjelaskan apa itu. "Aku ke kamar dulu ya, Mas. Mau bersih-bersih. Oh iya Fira, kalau kamu butuh rekomendasi perlengkapan bayi, tanya saja padaku. Aku punya banyak kenalan di dunia ritel sekarang," ucap Ze sambil berlalu. Di dalam kamar, Ze menarik napas panjang. Ia tahu ia baru saja menanam benih ketakutan di hati Arif. Dengan menyebut nama Jeva, ia menunjukkan bahwa ia memiliki akses ke dunia yang Arif kagumi, dan ia tahu kebohongan yang Arif ceritakan pada teman-temannya. Ze duduk di tepi tempat tidur. Ia tidak jatuh cinta pada Jeva, dan ia tahu Jeva pun tidak padanya. Tapi kehadiran Jeva di hidupnya sekarang adalah sebuah pion baru yang sangat kuat. Jeva adalah simbol dari apa yang tidak akan pernah dimiliki Arif jika ia terus mengkhianati Ze, kehormatan dan kesuksesan yang murni. "Pelan-pelan saja, Arif," bisik Ze pada bayangannya di cermin. "Biarkan ketakutan ini memakanmu dari dalam, sementara aku tetap menjadi istri terbaikmu di depan semua orang." Malam itu, Ze menyiapkan makan malam yang paling mewah. Ia menyajikan udang besar, sup asparagus, dan buah-buahan segar. Ze melayani Arif dengan sangat telaten, bahkan menyuapi Lili dengan penuh kasih sayang. Bu Ratri tampak sangat bahagia, merasa rumah tangga anaknya sudah kembali ke jalan yang benar. Namun, di bawah meja, tangan Arif gemetar saat memegang sendok. Ia terus memikirkan apa saja yang Ze bicarakan dengan Jeva. Ze merasa pagar cat putih rumahnya mulai terasa panas, seolah-olah ada api yang diam-diam membakar pondasinya, dan api itu dipicu oleh senyuman manis istrinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD