Pagi itu, rumah itu tampak cerah. Ze berdiri di depan cermin besar di ruang tamu, mematut diri dengan terusan floral sutra yang ringan dan sangat pas di tubuhnya. Rambutnya? Tentu saja tergerai indah, tergerai seolah menantang siapa pun yang melihatnya. "Lili, sudah siap, Sayang? Kita ke mal sekarang ya, kita beli mainan yang Lili mau!" seru Ze dengan nada ceria yang memenuhi seisi rumah. Lili berlari kencang dari arah kamar, wajahnya sumringah. "Beneran, Ma? Asyik! Papa ikut kan?" Arif keluar dari kamar, sudah rapi dengan kemeja polo yang baru saja disetrika oleh Ze. Aroma parfum Ze yang tertinggal di bantal tadi pagi seolah masih menempel di hidungnya, membuatnya terus-menerus mencuri pandang pada istrinya. "Ikut dong, Sayang. Papa yang setir mobilnya ya," sahut Arif sambil meraih

