Saat pelajaran Fisika, entah takdir atau kebetulan, aku mendapat kelompok berdua bersama Deeka. Ah, aku ingat. Sistem pemilihan kelompoknya ditentukan oleh guru Fisika. Dan guruku itu menganut prinsip Yang pintar harus membantu yag kurang pintar. Jadilah aku mendapat kelompok bersama Deeka.
Aku sebenarnya lumayan senang. Itu artinya aku bisa menghabiskan waktu yang cukup lama bersama Deeka. Kapan lagi coba?
"Ra, kita satu kelompok. Lo tahu, itu artinya apa?"
Aku menghela napas, pura-pura tidak senang. "Lo bisa mengganggu gue sepuasnya."
"Tepat. Seratus buat lo, Beruang!" Deeka merangkulku tanpa dosa sambil tertawa puas. "Kerja kelompoknya di rumah lo, 'kan?"
Aku mengangguk malas. "Kenapa?"
"Nggak apa-apa, gue cuma... baru dapat ide cemerlang."
"Lo bikin gue takut, Dee." Serius, aku merinding melihat senyum miringnya yang seperti pemain antagonis. Apa yang dia rencanakan?
Deeka tersenyum miring. "Well, lihat aja nanti!"
Aku naik motor dibonceng olehnya. Ini adalah pertama kalinya aku dibonceng oleh Deeka. Biasanya, aku selalu naik angkot. Aku sangat gugup, bahkan aku takut berpegangan padanya. Aku hanya berpegangan pada ujung jaketnya. Aku juga tidak mau dibilang modus, walau beberapa kali Deeka menoleh ke belakang dan menyuruhku pegangan yang benar. Aku merasa sudah benar berpegangan pada jaketnya, kok. Benar untuk kesehatan jantungku. Deeka tidak akan mengerti.
Sesampainya di rumahku, Deeka bersalaman dengan Mama dan tersenyum sopan. Aku senang melihatnya tersenyum seperti itu. Dia terlihat seperti anak baik-baik. Well, dia memang baik, tapi dia sedikit nakal dan aneh. Makanya, aku bilang saat ini dia terlihat seperti anak baik-baik. Mamaku mungkin tidak tahu kalau Deeka mendapat peringkat terbawah.
"Sore, Tante. Saya Deeka, pacarnya Nara," ujar Deeka setelah mencium tangan Mama.
Mataku langsung melotot. Apa tadi dia bilang? Pacar?!
"Bohong, Ma! Deeka bohong!"
Mama hanya tersenyum, lalu mengajakku bicara di kamarnya. Benar saja, aku langsung diceramahi habis-habisan. Mama melarang keras aku pacaran. Katanya, aku boleh pacaran jika sudah lulus kuliah dan punya pekerjaan. Astaga, lama sekali! Mamaku memang sedikit kuno, tapi aku tahu itu semua untuk kebaikanku.
"Gimana? Nyokap lo ngerestuin kita, nggak?" tanya Deeka jail, setelah melihatku keluar dari kamar Mama dengan wajah ditekuk. Dasar nyebelin!
"Puas?" Aku bertanya ketus. "Nggak lucu, Dee. Lo bukan pacar gue. Jangan suka bohong."
Senyuman Deeka perlahan pudar. "Lo marah?"
"Banget!"
“Jangan marah, gue kan cuma bercanda, Beruang.” Deeka mulai memasang wajah memelasnya. “Iya, deh, gue emang keterlaluan. Tapi, gue kira nyokap lo nggak akan marahin lo. Kenapa nyokap lo nggak ngizinin lo punya pacar?”
Aku tiba-tiba bingung menjawab pertanyaannya. “Karena … takut ganggu nilai gue di sekolah, mungkin. Entahlah, yang pasti itu demi kebaikan gue juga. Iya, kan?”
“Hmm, gitu. Jadi lo nggak boleh pacaran, ya?”
“Boleh, asal gue udah lulus kuliah.”
Deeka malah terkekeh. “Ah, sayang banget. Gue nggak yakin waktu gue selama itu.”
“Hah? Maksud lo?” Aku cukup bingung dengan kata-katanya.
“Nggak, kok. Intinya, kita nggak jadi bisa belajar bareng. Sayang banget.”
“Iya, besok aja, tapi di perpustakaan. Jangan di rumah gue, deh.”
"Ya udah, gue pulang, ya. Tapi, kalau lo butuh gue... panggil aja nama gue tiga kali."
"Nggak akan." Untuk apa aku memanggil namanya tiga kali? Ada-ada saja.
[]
Deeka, Deeka, Deeka.
Katanya, jika aku membutuhkanmu, aku hanya perlu memanggil namamu tiga kali.
Dan saat ini, aku membutuhkanmu.
Tapi, sayangnya kamu tidak akan datang....