Aku menunggu di luar UKS. Aku sudah tidak peduli saat siswi yang lain memandangku aneh saat ini. Biar saja, aku memang sudah aneh sejak awal, kok. Aku jauh lebih peduli dengan keadaan Deeka. Sungguh.
"Nara, lo mau masuk?" tanya Roni tersenyum tipis, saat ia keluar dari UKS.
"Boleh?"
"Boleh, lah. Tapi, jangan nanya yang aneh-aneh ke Deeka, ya."
Aku mengangguk, dan masuk ke dalam UKS. Walau aku berjalan dengan perlahan, tapi jantungku berdebar sangat cepat. Aku harus kuat jika melihatnya terbaring lemah dan pucat. Dia mungkin akan menjadi lebih diam, bukan? Aku jadi semakin gugup dan takut melihatnya. Bagaimana keadaan Deeka sekarang?
"s**l! Kalah lagi!"
Aku mengernyit, saat melihat Deeka duduk di ranjang UKS sambil bermain game di ponselnya. Apa-apaan itu? Ekspektasiku ternyata sangat salah dengan kenyataan. “Heh! Lo habis mimisan, kan. Istirahat, dong!"
"Gue udah lumayan sehat. Jangan khawatir gitu ah, Beruang." Deeka tetap memandang layar ponselnya dengan serius. “Gue cuma mimisan.”
"Mana bisa gue nggak khawatir?! Lo tiba-tiba jatuh, terus mimisan!"
"Tadi, kaki gue keram, jatuh, terus hidung gue nyium lapangan. Mimisan, deh. Tamat." Deeka menyengir, melirikku. Deeka bicara begitu santai, walau hidungnya sedang disumbat daun sirih yang digulung. Dasar.
Aku duduk di kursi dekat ranjangnya. "Lo yakin, kejadiannya kayak gitu?"
Deeka mengangguk. "Iya, lah. Memang menurut lo, kejadiannya kayak gimana?"
Aku memperhatikan hidungnya dengan serius, lalu jari telunjukku menyentuh ujung hidung mancungnya. "Hidung lo nggak kelihatan habis nyium lapangan. Nggak luka ataupun patah."
Deeka tersenyum miris, lalu tiba-tiba tertawa. "Oke, Sherlock. Menurut lo, hidung gue kenapa tiba-tiba mimisan?"
"I have no idea." Aku menggeleng pelan. “Harusnya, lo yang lebih tahu dibanding gue.”
"Oh, Nara. Jangan takut, gue masih punya banyak waktu, kok." Deeka lagi-lagi tersenyum jail.
"Deeka, lo sebenernya kenapa?" Perkataannya malah semakin membuatku takut.
Deeka terkekeh. "Gue baik-baik aja. Lo kenapa nanya itu mulu, sih? Gue sampai hafal, nih.”
"Nggak tahu, gue cuma merasa kalau lo nyembunyiin sesuatu dari gue. Jujur sama gue, Dee. Apa yang lo sembunyiin? Kenapa gue nggak boleh tahu?”
Wajah Deeka terlihat menegang. Ia meraih tanganku, dan menggenggamnya erat. "Gue nggak nyembunyiin apa pun. Gue ini kayak buku yang terbuka, harusnya lo tahu itu, Nara."
Aku menggeleng. "Lo memang kayak buku yang terbuka. Tapi, buku asing yang bahasanya nggak gue ngerti."
Deeka malah terkekeh. “Bahasa apa, menurut lo? Apa Bahasa alien?”
Aku mengernyit, ingin sekai mencubit pinggangnya biar dia tahu rasa. “Iya, Bahasa alien. Gue mana bisa Bahasa alien?”
“Belajar, dong.”
“Ogah.”
Deeka tertawa, mengacak rambutku. Dia malah menawarkanku untuk mencoba game yang ia mainkan di ponselnya. Aku mendengus, tentu saja menolak karena aku sama sekali tidak jago bermain game. Dia menyebutku payah, dan aku berakhir hanya meperhatikannya bermain game. Dia terlihat begitu serius, tapi juga lucu di waktu yang sama. Wah, menarik.
“Bukannya udah bel? Lo mendingan balik ke kelas, Ra.”
“Gue masih mau di sini,” gumamku pelan.
“Hah? Apa lo bilang?” Deeka berhenti bermain game, memandangku bingung. “Lo masih mau di sini? Kenapa?”
“Lo salah denger. Ya udah, gue balik ke kelas duluan. Kalau lo udah lebih baik, cepet balik ke kelas. Oke?”
Deeka tersenyum kecil. Mengangguk seperti anak yang penurut. “Sip, Ra.”
“Bye,” ujarku sambil berbalik badan. Aku sungguh berat meninggalkannya. Aku masih mau menemaninya bermain game, hingga dia merasa lebih baik.
“Hati-hati di jalan, ya.”
Aku mendengus mendengar perkataan Deeka. “Ya, pasti.”
Jarak UKS dan kelas kami tidak jauh, astaga.
Aku benar. Deeka memang buku terbuka yang tidak bisa aku mengerti.
Aku menyesal, tidak berusaha mengerti saat itu. Seharusnya, aku belajar untuk mengerti dirinya.