Angkot itu melaju dengan kencang karena jalanan sudah mulai sepi. Lagipula supir itu tidak mau terlampau malam balik lagi ke kota. Suara Azan Magrib berkumandang sayup–sayup lalu menghilang. Deretan lampu dari perumahan warga yang membantu menerangi jalan mereka juga semakin jarang. Si bapak supir semakin berkonsentrasi lantaran di kanan kiri jalan kini hanya terlihat siluet pemandangan pohon–pohon hitam dalam kegelapan.
Setelah hampir satu jam berada di jalur utama kabupaten, mobil mulai berbelok menyusuri jalanan yang belum diaspal. Beberapa kali mobil menari bergoyang menghindari kontur jalan yang bergelombang dan berlubang. Suasana semakin mencekam. Alisa mulai berpikir negatif bisa saja mereka berdua dirampok di tengah jalan. Alih–alih bukan hanya harta benda mereka yang diambil, bahkan bisa lebih dari itu termasuk nyawa. Kalaupun mereka mau teriak meminta tolong juga percuma karena tidak akan ada yang datang mendengar.
“Sa ...,” panggil mama lembut mencoba menyadarkan Alisa sekaligus menutupi kecemasan dirinya juga.
Ah benar, daripada melamunkan hal–hal yang mengerikan lebih baik dia mengingat-ingat kenangan dulu ketika tinggal bersama nenek.
Alisa tidak ingat jalan menuju rumah nenek akan seperti lorong gelap yang tidak berujung ini. Mungkin juga karena mereka sudah kemalaman. Kalau tidak seharusnya mereka bisa menikmati pemandangan dari balik pepohonan itu. Seandainya sampai di siang hari, sesekali bisa terlihat birunya pantai Laut Selatan yang indah. Seharusnya kedatangan mereka disambut dengan lambaian daun pohon kelapa dan desiran ombak yang mengulung. Tapi kini penglihatan mereka hanya sebatas terangnya lampu kendaraan yang ditumpanginya.
Baiklah pikirnya. Sekarang Alisa coba mengingat sosok neneknya biar agak menyambung sewaktu diajak mengobrol. Sudah sekitar 12 tahun mereka tidak pernah bertemu. Entah mengapa mama membawanya pergi dari situ saat usinya baru menginjak 7 tahun dan belum pernah kembali. Hari ini menjadi pertemuan pertama Alisa dengan neneknya lagi. Entah neneknya masih mengenali dirinya lagi atau tidak. Begitu pun Alisa juga takut tidak mengenali neneknya lagi. Walaupun dalam bayangannya penampilan orang berumur biasanya tidak banyak berubah, hanya soal uban dan keriput.
Satu hal yang menjadi kenangan manis Alisa, neneknya sangat sayang kepada cucu tertuanya itu. Alisa ingat setiap tengah hari sering diajak neneknya mengumpulkan lamun, sejenis ilalang laut, untuk ditumis. Biasanya kalau ketemu yang berbuah maka nenek menyuruh pilih yang lebih muda karena terasa lebih manis. Sejak keluar dari rumah neneknya, dia tidak pernah makan lamun laut lagi. Bahkan kalaupun sengaja mencari tidak ada (belum ketemu) yang menjual di Jakarta. Kini Alisa sudah bisa sedikit tersenyum. Besok siang dia berencana pergi ke pantai mencari lamun laut atau sekedar bermain air.
Ah, Alisa berpikir lagi, masa iya neneknya sedang sakit keras, tetapi dia masih sempatnya memikirkan diri sendiri bersenang–senang. Kalau saja minggu lalu tidak ada telepon berdering dari warga situ, mungkin mereka tidak akan pernah berkumpul kembali. Mama terlihat gelisah sehabis menutup pembicaraan di telepon. Besoknya mama mengajak Alisa ikut menengok nenek di kampung. Kata mama mungkin 1-2 minggu mereka akan tinggal di sana, mumpung kampus semester ketiga juga belum masuk.
Selanjutnya Alisa mencoba mengingat penghuni lain di rumah itu. Neneknya sangat sayang hanya kepada Alisa, sedangkan seingatnya hubungan dengan mama dan penghuni rumah lain tidak terlihat mesra. Nenek sangat memanjakannya, sering membelikan boneka sehingga Alisa tidak perlu meminta, tetapi selalu tersedia duluan. Sebaliknya, mama dan adik perempuan mama, Sanita, suka diinterogasi kalau pergi dan pulang dari mana. Kalau sudah begitu, ujungnya bisa terjadi pertengkaran. Entah mereka ada salah apa sebelumnya kepada nenek, sehingga nenek tidak percaya kepada anak–anaknya lagi.
Alisa juga masih mempunyai dua sepupu laki–laki kembar yang (saat itu) berusia balita. Hanya nenek tetap bergeming dari pendiriannya untuk menyayangi cucu perempuanya saja. Tapi kini dia tidak tahu lagi apakah bibinya mempunyai anak lain yang bisa menggeser posisinya.
Sebenarnya (Alm) Papa dulu juga pernah tinggal di sana. Saat itu Alisa masih balita jadi tidak banyak kenangan yang bisa diingatnya bersama ayahnya.
Kalau ditanya, mama hanya bilang, “Papa sudah lama meninggal, sudah tenang di sana. Jangan dibahas lagi.”
Mama hanya bilang papa sakit keras dan terlambat mendapat pertolongan, tetapi tidak pernah diceritakan bagaimana kronologinya. Menurut Alisa, mama bermain aman dengan bilang papa kena serangan jantung. Dan akhirnya itu menjadi kesepakatan bersama tanpa Alisa tahu kebenarannya.
Menurut Alisa agak janggal karena mama tidak mau membicarakan kenangannya bersama papa, seperti waktu mereka pertama ketemu, berpacaran, menikah, sampai akhir hayat papa. Apakah mama demikian trauma itu hanya karena papa meninggal mendadak akibat penyakit jantung. Belum lagi mama sampai sekarang memutuskan hidup seorang diri merawat seorang anak tanpa suami baru. Tapi untunglah pikirnya dia tidak perlu bergulat dengan masalah ayah tiri seperti yang dibaca di berita-berita.
Kalau mau jujur, Alisa sudah tidak ingat wajah papanya. Bahkan ketika Alisa coba membayangkan wajah itu selalu kabur. Tetapi dia masih bisa mengingat perawakan papanya yang gagah dan sering mengangkat tubuh mungil Alisa dalam pelukannya. Bahkan mama tidak menyimpan satu pun foto kebersamaan mereka sebagai keluarga utuh di rumah itu. Hanya ada beberapa foto papa dalam KTP dan dokumen–dokumen lain yang tetap disimpan (atau tidak disingkirkan) oleh mama. Membayangkan itu tidak terasa air mata Alisa mulai membasahi pelupuk matanya.
“Sa, Kamu kaya sedih. Bentar lagi kita sampai.” Mama bingung dengan hati anaknya yang pilu.
“Nggak, Ma.” Alisa buru–buru menyembunyikan raut wajahnya supaya mama tidak bisa membacanya lebih dalam lagi.
Bapak supir masih serius memandang lurus ke depan menjagai mobilnya supaya tidak cepat rusak. Sampai akhirnya dia boleh bernapas lega karena sudah sampai di depan pagar halaman rumah nenek. Alisa sudah tidak ingat apakah ini alamat yang benar, tetapi mama bilang benar. Walaupun jalan setapak di depan mereka tampak gelap, rupanya mama masih bisa mengenali karena cahaya yang datang dari rumah nenek. Sekelilingnya bahkan tidak terlihat apakah berupa taman atau kolam.
Supir angkot itu menurunkan koper-koper penumpangnya, lalu buru–buru kabur meninggalkan mereka dalam kegelapan lebih dalam. Sorot lampu mobil sudah semakin menjauhi mereka. Alisa hanya takut terperosok atau kesandung.
Dari luar rumah nenek tidak banyak berubah. Di teras masih tersusun satu kursi bambu panjang di sebelah meja bundar kecil berbahan kayu. Satu kursi lagi di sudut ruangan untuk duduk si empunya rumah. Semua kursi menghadap halaman yang luas. Lampu gantung berwarna kuning menyala sebagai panduan mereka berdua menuju.
Rumah nenek hanya satu lantai, tetapi di dalamnya lega. Luas bangunan itu bisa mencapai 500 meter dan terdiri dari banyak kamar yang dipisahkan oleh sekat. Sedangkan dinding luar semuanya sudah memakai batu bata, tidak ada lagi kayu atau bambu. Pun jendela juga sudah dipasang teralis besi. Dari situ terlihat remang cahaya lampu menembus tirai menunjukkan penghuni rumah belum tidur.
Akhirnya mereka berdua sampai di depan pintu dari kayu jati berukiran itu. Motif bunga dan daun tergambar jelas. Nenek memang termasuk keluarga orang kaya di daerahnya, sehingga banyak uang untuk membuat detail ukiran seperti itu di pintu, pilar teras, dan beberapa sekat kayu. Mama mengetok pintu.
Baru ketokan ketiga terdengar bunyi anak kunci membuka pintu. Alisa berdiri di belakang mama sehingga pandangan ke dalam agak terhalang. Dia hanya melihat sosok wanita bersanggul muncul dari terang lampu neon di belakangnya.
Satu kata yang terucap dari mulut mama, “Bunda.”