Steve berjalan maju ke depan menuju Sia. Mata pria tersebut menatap arah Seyna sejenak.
Sia mnelihat sepintas bibir Steve tersenyum simpul. Sia sedikit tertegun, dia mulai curiga jika Steve memiliki sesuatu yang berbeda di sini. Entah apa itu? Sia penuh dengan tanda tanya untuk pria satu ini.
“Apa sudah siap,?”
“Sebentar lagi, para pelayan sedang menyiapkan segalanya, aku ingin pesta yang sempurna,
Dika mengambil mikrofon, dan gitarnya,.
“Red cups and sweaty bodies everywhere, Hands in the air like we don't care 'Cause we came to have so much fun now, Got somebody here might be the one now.”
Melihat Dika yang terus tersenyum ke arahnya Sia pun mendekati suaminya,
“If you're not ready to go home, Can I get a "Hell, no!"? (Hell no) 'Cause we're gonna go all night 'Til we see the sunlight, alright,”
“So la da di da di, We like to party, Dancing you and me, Doing whatever we want, This is our house, This is our rules, And we can't stop, And we won't stop, Can't you see it's we who own the night? Can't you see it's we who 'bout that life,?” (song. we can't stop bea miller ft boyce avenue)
Dari jauh Lily melihat mereka, wanita tua ini sudah tahu apa yang harus dia lakukan, tidak mungkin dia menyerah dengan mudah untuk keluarganya. “Remember Only God can Judge,”
“Mereka benar-benar bahagia.”
“Alex, kapan kau tiba,” Lily bertanya tanpa berbalik sama sekali.
Mereka berdua sama-sama memandang ke arah halaman rumah dari lantai tiga. Dika bernyanyi dengan penuh semangat bersama Sia, seolah tak ada lagi waktu untuk besok. Mereka tersenyum dengan sangat manis seolah tak ada lagi waktu untuk besok, pandangan mereka juga saling memuji seolah tak ada lagi waktu hingga besok.
Mereka melakukan semuanya seolah tak ada waktu lain,
“Nyonya, ayo,”
“Sera,”
Dia berlari memeluk Lily dari belakang, lalu menatap ke arah Alex.
“Papi kapan tiba?!"
Alex tersenyum sembari mengecup kening Sera, “Siapa yang bisa menghindari pesta,”
Sera pun menarik Alex dan Lily hingga kedua manusia tua itu tertatih,
Steve tersenyum ke arah Lily saat melihat dia sudah ada di halaman, pria itu sedang memegang mikrofonnya, bergantian dengan Dika. Steve berjalan ke arah Lily, sembari menyanyikan lagi OMG What's Happening - Ava Max “Look what you,ve done,? Look what you,ve done, to me,? I got everything I wanted, but you’re everything, you’re everything I need, Oh my God, what’s happening,”
“Apa kau menyanyikan ini untuk Seyna,”
Steve tersenyum, musik yang menghentak begitu semarak. Jujur saja Lily tak pernah melakukan hal seperti ini sepanjang hidupnya di rumah. Semua orang mengambil pasangannya. Kecuali Lily dan Selvia, mereka berdansa dengan hentakan musik yang kuat. Sungguh hal yang tak biasa, senyum mereka membuat Lily ingin menangis, mata wanita itu basah,
“Maukah Nyonya berdansa,? saya akan menganggap nyonya adalah dia, dan Nyonya boleh menganggap saya adalah Tuan, sejujurnya saya tak pernah menari dengan musik disko,” Selvia menahan senyumnya.
Bibir Lily merekah, dia menyambut tangan Selvia, nasib wanita yang ada di hadapannya lebih menyedihkan. Dia bertahan dengan satu cinta di hatinya, hingga hari ini.
“Ceritakan kisahmu, sedikit saja,” ucap Lily pada Selvia,
Wanita tua itu tersenyum,
“Hari itu mabuk, saya yang akan pulang baru saja menuruni lift. Saat dia masuk, Tuan Arya langsung mencium saya dengan panas, tentu saja saya terkejut. Tapi saya terlalu gila untuk hal ini, saya menekan kembali lift itu menuju lantai atas. Karena saya takut ada yang melihat kondisi Tuan Arya,” jawab Selvia tersipu malu.
“Kau mengambil kesempatanmu,?”
Dia mengangguk,
“Saya mengambil kesempatan itu karena terlalu lama mengagumi beliau, dia sangat tampan, seperti Dika, kulitnya kuning, matanya berwarna amber seperti Nyonya Caren, senyumnya tipis, bibir bawahnya terbelah, lesung pipinya membuat saya terpesona. Beliau tak pernah tersenyum pada wanita lain kecuali orang-orang Naga Hitam. Mereka bilang Tuan Arya telah di tipu cinta pertamanya, saya ingin cinta itu untuk saya, tapi nyatanya hari itu adalah hari terakhir saya bertemu beliau sebelum meninggal dunia. Saya berangkat ke paris dan 47 hari berikutnya peristiwa itu terjadi,”
“Kau bahkan menghitung harinya,”
Air mata Selvia menetes, “Anda sangat paham perasaan saya, karena kita sama-sama mencintai pria dengan tulus, Nyonya,”
Lily pun menepis air matanya dengan telunjuk,
“Aku adalah ranjang terakhirnya, dan kau adalah ranjang pertama dan terakhir Arya,”
Bibir Selvia bergetar dengan hebat menahan air mata, “Saya mencintainya,”
“Permisi, bisakah saya menari bersama Nyonya Selvia,” Dika melihat sejak tadi Mommy-nya menangis,
Lily membalas senyum Dika, memberikan tangan Selvia pada putranya,
“What if we rewrite the stars? Say you were made to be mine, Nothing could keep us apart, You'll be the one I was meant to find, It's up to you and it's up to me, No one could say what we get to be, So why don't we rewrite the stars? And maybe the world could be ours tonight,”
Selvia menangis dalam pelukan Dika saat anaknya menyanyikan lagu yang sering dia gunakan untuk mengingat Arya selama ini, (Anne-Marie & James Arthur - Rewrite The Stars)
“Apa aku sangat terlihat mirip dengannya,”
“Hanya fisiknya saja, selebihnya kau mirip denganku,”
“Peluk aku yang erat Mam, aku akan mengikuti semua yang kau katakan, walaupun pandangan mata ini melihat hal yang beda, aku akan tetap setia, agar Daddy bangga padaku,”
“Oh Dika,”
Selvia semakin menyembunyikan wajahnya di d**a pria tersebut.
Dika membuka satu tangannya lagi agar Sia masuk ke dalam pelukannya, “Aku mencintai kalian semua,”
Sia mengepalkan tinjunya, dia tak akan biarkan keluarga ini runtuh, anak-anaknya tidak boleh kehilangan keluarga ini,
“Ah, si sial itu bawa lagu apa?!" umpat Dika pada Steve yang suaranya sangat tidak enak,
Selvia dan Sia terkekeh,
“Like magnets, Oh my God, what’s happening, Look what you,ve done,? Look what you,ve done, to me, I got everything I wanted, but you’re everything, you’re everything I need,”
“Aku mencintaimu,” bisik Steve pelan di telinga Seyna.
Dia tertunduk senang, tapi Nadia langsung menyentak tangannya. Mereka masih saling memandang meski Steve sudah berada dalam pelukan Nadia.
Hari semakin malam, musik semakin menghentak, benar-benar malam yang penuh dengan gairah kaula muda.
“Ah,”
Suara desahan terdengar di sudut taman yang penuh dengan bunga. Di antara Bunga yang tumbuh meninggi, Seyna dan Steve tengah menderu dengan napas yang enggan terputus. Mereka saling melumat dan mengucap kata cinta.
Tangan Steve sudah berada di dalam pakaian Seyna, meremat kedua buah dadanya, memainkan ujung ranum dengan lidahnya hingga Seyna mendesah tak tertahan. Untunglah semua ini tertutupi dengan musik yang ada di halaman.
“Seyna, Seyna,”
Akh, mereka berdua menderu saat pisang Steve masuk ke dalamnya.
“Ah,. aku mencintaimu,” Seyna menggeliat dengan penuh gairah saat keringat membasahi tubuh mereka.
Dia mengangkat sedikit pinggulnya agar Steve bisa masuk dengan sempurna,
“Oh my God, what’s happening,”
“Lagu itu sangat cocok untukmu, Seyna,” jawab Steve saat Seyna mengulang lirik lagu yang dia bawakan tadi.
Seyna sangat terkejut saat Steve menarik tangannya hingga mereka berada dalam posisi duduk,
“Katakan padaku yang sebenarnya terjadi. apa yang kalian tutupi?!"
Steve menggeleng,
“Hanya saja kau ternyata kau lebih baik dari Nadia saat bergoyang seperti ini. Aku suka sekali,”
Seyna sudah tahu jika itu semua adalah kebohongan,
“Kau berbohong padaku?!"
Ah, Steve masih di guyur oleh keringat, begitu juga dengan Seyna, suara Dika, mengisi sound bercinta mereka,