Tebie menyunggikan senyumnya, wanita ini siap memberikan kejutan untuk Tuan Enso. “Nyonya,” “Lebih baik tidak kita bicarakan lagi, aku lebih siap daripada mereka.” “Tapi-” “Jangan pikirkan apapun, percayalah padaku,” Tebie memainkan kalung bermata zamrud miliknya. Panggilan telepon tersebut berakhir, Tebie duduk di sofanya. “Sejak kapan kalian di sini?!" Dua orang pria berpakaian hitam maju, “Sejak kau membuka batu tersebut dan meniupkannya,” “Aku hampir saja mengunjungi kalian jika tak datang dalam waktu dekat,. aku sudah melihat catatan rahasia keluargaku, ada dana yang berjumlah cukup besar di salurkan di sebuah desa yang berada pada kaki Akaishi Mountain. Aku yakin itu adalah kalian,” “Kami tak perlu di cari karena kesetiaan mendatangi TUAN-nya,” Tebie masih menatap lurus ke

