Dirga melepaskan perban pada kakinya dengan meringis samar masih merasa perih. Pemuda jangkung itu berdiri dengan berusaha berjalan normal namun kakinya masih belum bisa ia fungsikan dengan baik. Karena luka tusukan itu terlalu dalam sampai dijahit banyak kali, detailnya ia tidak ingat. Pikirannya hanya berfokus pada Theo yang memang terluka parah saat berkelahi dengannya. Ia berharap mantan temannya itu akan baik-baik saja. Dirga mengeraskan rahangnya, kembali mengingat ucapan anak bernama Syahid yang datang menerobos kamarnya. Omongan pemuda itu terdengar begitu meyakinkan sampai ia hampir terpengaruh. Apalagi melihat wajah memias sang papa yang seperti tertangkap basah telah melakukan kesalahan. Ia merasa ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa menemukan apa yang disembunyikan oleh papa

