Was wrong

1283 Words
"Gadis bodoh..." "Buka pintunya..." Tok... Tok... Tok... "Mau sampai kapan mengurung diri di dalam?" Cindy menghentikan tangisnya, ia seperti mendengar suara di balik pintu ruang kerjanya. "Cindy...!?" seru seseorang di balik pintu. "Kamu nggak mau ketemu sama saya?" Gadis itu mengusap airmatanya lantas segera beranjak dari tempatnya untuk memastikan siapa yang memanggilnya. Pintunya terbuka matanya yang sebam mengerjap polos menatap seorang lelaki yang tersenyum lebar padanya. "Dasar cengeng." lelaki itu berdecak kesal sambil mendorong pelan kening gadis yang berdiri di ambang pintu. Cindy belum sepenuhnya menyadari kenapa lelaki itu malah tersenyum mengejeknya. "Kenapa kakak di sini?" ujarnya sedikit heran sambil mengerutkan alis menatapnya. "Bukannya harusnya kakak di Jogja?" "Baru sampe, dan langsung mampir sini." jawabnya. Lelaki itu menggandeng jemari Cindy agar ikut keluar dari ruangannya. "Sudah makan?" Cindy menggeleng. "Mau makan bareng saya nggak?" Cindy menatap lelaki itu penuh intens, andai saja sosok yang di hadapannya ini adalah Mario. Alangkah bahagianya Cindy. "Tapi-" "Udah ayok." ujarnya sambil menyeret sedikit tubuh Cindy agar mengikuti langkahnya. "Tenang saja dia sudah pergi." Melihat langkah ragu-ragu Cindy, Bimo sangat memahami perasaan gadis itu sekarang. "Huh?" Cindy sedikit relax mendengar itu. "Darimana kakak tau?" "Saya yang mengusirnya." ujarnya enteng.. "Kenapa kakak mengusirnya?" lagi-lagi ia mendadak jadi orang dungu. Bimo berhenti melangkah, ia melepas genggaman tanganya lantas mengacak rambut Cindy. "Gadis bodoh, bisa-bisanya jatuh cinta dengan pria beristri. Apa sebegitu putus asanya saya tolak jadi kamu mau dengannya?" Cindy cemberut mendengarnya. "Yey... Mana aku tau kalo dia suami orang." elaknya sewot, ia paling sebal di tuding sebagai pelakor. Di saat posisinya waktu itu dirinya benar-benar tak mengetahui latar belakang Mario. "Dia anak dari kolega papa, jadi saya tau siapa dia." jelasnya. Kedua pundak Cindy meluruh, dengan langkah gontai dirinya melewati tubuh tinggi Bimo dan berjalan mendahuluinya. "Ayo makan, kebetulan dari tadi pagi aku belum sarapan." seru gadis itu tanpa menoleh ke arahnya. Bimo tersenyum tipis lantas menyusul langkah Cindy, ia duduk di balik kemudi dan melajukan mobil ke salah satu restoran Padang kesukaan gadis yang lagi dilanda sedih itu. "Sejak kapan kamu berhubungan dengannya...?" "Sebenarnya kita baru putus dua bulan lalu." "Oh ya? Berarti bertepatan di hari perjodohan kita donk!?" Cindy mengangguk lemah. "Woah..." Bimo sedikit terkejut dengan fakta ini. "Om Stefan tau nggak kalo kamu berhubungan dengan bajiangaan itu?" Cindy mendelik mendengar Bimo mengolok-olok Mario, ada sedikit dalam dirinya tak terima dengan umpatan Bimo tadi. Gadis itu hanya menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Bimo tadi. "Terus apa yang membuat kalian putus?" "Aku lihat dia bersama wanita lain sedang begituan di mobil." Bimo mengangguk-angguk paham. "Untung nggak sama kamu begituannya, ya kan...?" Cindy melempar pandangannya keluar, hatinya terasa sakit bila mengingat semua ini. "Kalo boleh jujur, sebenarnya Mario selalu bilang ingin melindungiku sampai kami menikah. Jadi hubungan kami hanya sebatas jalan dan makan saja." ujarnya. "Hebat juga dia, mampu menahan hasratnya kepada cewek cantik kayak kamu..." "Mario dia..." ucapannya berhenti sejenak. Cindy menghela nafas panjang sambil tersenyum tipis menatap Bimo. "Dia tulus dan berhati lembut." Cindy mengatakan itu seolah merasa hatinya seperti ada yang meremasnya kencang. "Dia benar-benar menjagaku dengan baik." ujarnya lirih hingga Bimo menoleh sekejap dan kembali fokus menatap jalanan. "Woaah, ternyata seorang Cindy bisa sakit hati karena seorang pria." ujar Bimo antusias, seolah dia kagum dengan perangai gadis yang duduk di sampingnya. "Padahal malam itu, saya berharap kalo wanita pilihan mama sakit hati karena penolakan dari seorang Bimo." Bimo terkekeh dengan ucapannya sendiri, seolah menegaskan bahwa dia adalah lelaki yang sangat narsis dan penuh percaya diri. Apalagi melihat Cindy seakan malas mendengar bualan Bimo, lelaki itu semakin tergelak. "Memang kenyataannya begitu kan Ndy?" Gadis itu hanya mengendikan kedua bahunya, hari ini ia malas untuk membahas hal-hal yang tak penting. Otaknya terlalu pusing mendengar dan melihat drama yang berkeliaran di depan matanya. "Turun..." "Ah, kak Bimo rese banget sih." gerutunya sambil merapikan rambut yang baru saja di acak-acak lelaki di sampingnya. "Habisnya di panggil dari tadi diem aja, turun!" Cindy menghela nafas panjang, ia melepas sabuk pengaman dan turun dari dalam mobil melangkah di belakang Bimo. "Di sini cocok untukmu kan?" "Ya..." jawabnya singkat. "Hey, come on... Wajahnya jangan di lipet terus kayak gitu, bikin nafsu makan saya hilang saja." "Belum juga makan..." gerutu Cindy berdecak sebal. "Makanya itu, senyum donk... Iiiiii..." Bimo memperagakan senyum lima jari ke gadis di hadapannya, dan ternyata itu ampuh. Cindy pun mengikuti gerakan Bimo hingga mereka berdua sama-sama tertawa, sampai siapa saja yang menatap keduanya terheran. Tapi tak sedikit juga yang ikut tertawa melihat kebahagian sepasang anak manusia itu. "Nah gitu donk..." Bimo merangkul pundak Cindy layaknya saudara perempuannya tanpa merasa canggung sama sekali. Merekapun masuk bersama-sama ke dalam dan menikmati makan siang menjelang sore begitu nikmat. Setelah kepergian Bimo dan Cindy dari rumah makan sederhana itu, Mario yang sedari tadi duduk di dalam mobilnya dan membuntuti keduanya. Ia merasa sesuatu hal yang cukup membuatnya terkesan. Dirinya melihat sosok wanita yang juga membuntuti mobil Bimo dari belakang, dan dia menyadari itu. Awalnya Mario merasa bahwa wanita itu termasuk salah satu selingkuhannya atau siapapun itu yang hendak menyakiti Cindy. Tapi setelah melihat wanita itu mengumpat memaki dan bersumpah serapah menyebut nama Bimo membuat Mario menyeringai. Lelaki itu berjalan mendekatinya. "Hai..." sapanya. Namun tampaknya wanita itu enggan di ganggu. "Apa anda mengenal Bimo?" ujarnya seolah dia bisa membaca pikiran wanita asing itu. "Siapa kau?" "Saya Mario..." ujarnya mengulurkan tangan sebagai perkenalan. Wanita itu tak menggubrisnya, ia beranjak dari hadapan Mario begitu saja. "Saya bisa membantu anda mendapatkannya kembali." serunya, membuat wanita itu sontak menatapnya. "Apa maumu sebenarnya?" tanyanya tanpa basa-basi. Mario menyeringai, mereka akhirnya berbincang-bincang dan melakukan sebuah kesepakatan yang menurut keduanya menguntungkan masing-masing kedua belah pihak. ***** Wanita yang di temui Mario tempo hari adalah Ranti, sosok wanita yang pernah hadir dalam kehidupan Bimo di saat lelaki itu terpuruk atau merasa keadaannya sedang memburuk. Dia salah satu pengedar narkoba yang menjerumuskan Bimo ke dalam dunianya, menjadi lelaki selalu kecanduan obat terlarang itu dan membuatnya berimajinasi. Tapi Ranti tak pernah berhasil membuat Bimo mampu meniduri dirinya. Lelaki itu bersedia mencumbunya, berciuman bahkan sama-sama make out. Anggota tubuh Bimo seakan menolak secara alamiah untuk melakukan penetrasi dengan wanita itu. Dan hal itu membuat Ranti muak, dirinya merasa bahwa Bimo hanya mencari keuntungan saja. Meskipun Ranti bersedia senang hati melakukan itu. Asal Bimo mau menerimanya di saat sadar, dan menganggapnya seorang wanita bukan alat atau penghibur kala dirinya kacau saja. Benar-benar lelaki berengsek... Umpatnya. Dan malam ini, Ranti menjalankan rencana yang sudah di susun rapi olehnya bersama Mario. Dia menjebak Bimo, yang katanya adalah calon pengantin Cindy. Berarti besok adalah hari dimana Cindy menjadi milik orang lain, Mario tak akan membiarkan itu. Dengan memanfaatkan amarah dalam diri Ranti, ia mengacaukan sebuah hubungan yang baru saja sah menjadi seorang suami istri. Namun fakta mengejutkan lainnya, Ranti kembali dengan wajah paniknya. Wanita itu mengatakan bahwa istri Bimo bukanlah gadis yang baru saja di tunjukan oleh Mario saat mereka sama-sama keluar dari acara pernikahan Bimo. Lalu siapa pengantin wanita Bimo? Mario pusing memikirkannya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menunggu Cindy pulang ke apartemennya. Lelaki itu duduk terkulai di depan pintu, sampai Cindy terkejut melihat dirinya di sana. "Mario? Apa yang kamu lakukan di sini?" pekiknya. "Cindy... Cindy... Aku mohon maafkan aku sayang..." racau Mario yang memang setengah sadar karena alkohol yang sudah terlalu banyak masuk ke dalam tubuhnya. "Bangun, apa yang terjadi padamu?" Cindy terlalu khawatir dengan keadaannya, hingga dirinya memapah lelaki itu masuk kedalam apartemennya. Lelaki itu terus saja menangis dan meminta maaf kepadanya, membuat hati Cindy sakit. Ia mengusap sekujur tubuh Mario dengan handuk hangat dan membantunya mengganti baju karena lelaki itu memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya. "Kenapa kamu selalu begini? Jangan membuatku merasa berada di dalam posisi yang salah." gumamnya, hingga ia duduk terlelap diatas sofa bersama Mario tertidur dengan kepala dalam pangkuannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD