Dalam perjalanan pulang makan malam dari rumah keluarga rekan bisnis orang tuanya. Cindy benar-benar merasa jengah dengan tingkah maminya, yang sedari tadi uring-uringan tak jelas hanya karena gagal mendapatkan menantu yang sudah berada di depan mata mereka.
"Sudahlah mi, namanya juga bukan jodoh."
"Halah, ini pasti cuma akal-akalan kamu yang seperti biasa akting di depan mami sama papi. Ya kan pi." Stefan hanya terkekeh mendengar ocehan istrinya, sedangkan Cindy benar-benar benci saat berada di situasi macam ini. Ia hanya memutar bola mata malas dan menghela nafas panjang.
Pandangannya beralih ke jendela mobil menikmati suasana jalanan kota malam ini.
"Pi... Cindy mau pulang ke apartemen saja pi." ujarnya menatap ayahnya yang sedang fokus menyetir.
"Iya sayang."
"Tuh kan... Kamu nggak ada berubahnya sama sekali. Setiap berulah pasti menghidar dari mami, membuat mami pusing saja." wanita yang melahirkan gadis itu memijat pelipisnya karena sudah tidak tahu hal apa yang bisa membuat Cindy menurut dengannya.
"Sudahlah mi, jangan terlalu menekan putri kita." ujar Stefan mencoba membujuk istrinya, ia menatap Cindy sambil mengedipkan satu matanya.
"Terserah papi saja lah."
Sebenarnya Cindy sedikit sakit hati dengan penolakan dari pihak calon suaminya.
Ayolah... Sebagai gadis yang cantik, harga dirinya terinjak-injak karena momen malam ini.
Biasanya setiap ada perjodohan yang orang tuanya rencanakan, maka Cindylah yang akan menolak ide gila dari sang mami yang ngebet pengen punya mantu.
"Cindy turun sini ya sayang..." Stefan menghentikan laju mobilnya setelah ia menepi di pertigaan jalan raya menuju apartemen putrinya.
"Kenapa nggak di antar sampai depan sana sih pi."
"Tuuuhh.. " Stefan mengendikan dagunya ke samping mobilnya, terdapat dua gadis yang nampaknya sengaja menanti putrinya.
"Ck, bocah tak berpendidikan itu lagi."
"Mami...!" seru Cindy menegur Via sang mami.
"Apa? Kenyataannya memang begitu kan...?" ujarnya sewot hingga membuat Cindy semakin sebal dan menutup pintu mobil begitu kencang.
"Mami jangan begitu donk."
"Biarin, salah dia aja yang nggak bisa memikat calon mantu mami."
Seperti inilah watak keras kepala seorang istri. Dalam otak Stefan, wanitalah sang maha benar. Lelaki paruh baya itu hanya menghela nafas panjang dan melajukan mobilnya pulang ke rumah mereka.
"Cie yang habis jadi mbak Siti, Siti Nurbaya kaleee."
"Kenapa tu muka? Kusut banget."
"Ah kalian berdua, diem!" Cindy masuk ke dalam mobil Lili tanpa mempedulikan sikap terkejut mereka.
"Dia kenapa Man?"
"Tau...." Amanda mengendikan kedua bahu, menyusul Cindy masuk ke dalam mobil.
"Mereka berdua sudah gila kali ya, yang punya mobil kan gue." gerutu Lili yang akhirnya masuk dan duduk di balik kemudi.
"Jadi ada yang ingin lo ceritain?"
"Jalan!"
"Apa?"
"Jalanin mobilnya..."
"Kemana?" tanya Lili.
"Apartemen dia kali." sahut Amanda.
"Ke Venus."
"Buset nggak ke jauhan Ndy?" pekik Amanda membuat keduanya memutar bola mata malas.
Lili melajukan mobilnya, menuju ke tempat yang sahabatnya inginkan. Rupanya ada yang di tolak oleh pangeran, hingga dirinya menginjakkan kaki di tempat laknatt.
"Kita ngapain disini buk?" ujar Amanda yang menyusul langkah keduanya.
"Bukannya Venus itu kudu naik pesawat luar angkasa ya...?"
"Ih ni bocah bego banget sih."
Saking sebalnya dengan sahabatnya yang selalu telat mikir, Lili pun menarik kerah bajunya agar Amanda mengikuti langkahnya yang sudah ketinggalan jauh dari Cindy.
Lihatlah...
Gara-gara sahabatnya yang satu ini, Lili sampai melongo melihat Cindy sudah duduk manis di depan bartender dengan beberapa gelas yang sudah kosong membuat dirinya was-was.
"Lo sih, lelet...!"
"Kok gue?" ujar Amanda sambil menunjuk diri sendiri.
"Ya gara-gara ini otaknya lelet Man." seru Lili sambil menonyor pelipis Amanda.
"Ih, apa salah gue..." ujarnya tak terima, "Lagian bisa nggak sih jangan panggil gue Man, manggil yang lengkap bisa nggak?"
"Emangnya kenapa?"
"Ya lo manggil Man gitu, kayak lagi manggil si Manto."
"Emang nama lo Manto." geram Lili, lantas meninggalkan Amanda yang melongo melotot melihatnya berlalu.
"Ndy, udahan. Jangan banyak-banyak, ntar lo mabok." Cindy mendecak sebal matanya melirik tajam sambil menegak minumannya.
"Mana Amanda?"
"Gue di sini..."
Cindy menoleh ke arah samping kiri lalu kembali menegak minumannya sambil tersenyum sinis.
"Kalian berdua pulanglah, gue pengen sendiri." ujarnya lalu menyodorkan gelasnya ke bartender lagi.
"One more."
Lili gelisah melihat sahabatnya yang tak biasa, ia melirik Amanda yang sepertinya masih marah saat dirinya mengatai nama panggilannya.
"Gue telpon Dion aja, biar lo nggak macam-macam di sini."
"Wuah lo gila, kakak gue bisa ngamuk kalo lihat gue di sini dodol." Lili melotot mendengar usulan Amanda yang lagi-lagi kurang peka dengan kondisi lingkungan sekarang ini.
"Terus kita nemenin dia mabok sampai pingsan gitu? Yang ada malah bokap gue ngamuk ntar." ujarnya sengit langsung menyomot kentang goreng pesanannya.
"Lo boleh pulang kok Man, kalo lo keberatan nemenin dia."
"Gue nggak keberatan..."
"Apaan, lo baru aja bilang ogah."
"Gue cuma nggak mau dia ngrepotin nantinya Li." jelasnya masih memasang wajah sewot, "Lagian lo kenapa sih, kayaknya nggak seneng banget sama gue. Gue bilang jangan manggil gue Man lagi, budeg lo ya."
Lili melongo, nafasnya memburu. Dadanya naik turun dengan wajah yang sudah memerah karena emosi dengan sikap egois sahabatnya yang satu ini.
"Lo kalo-"
"Stop...! Kalo kalian berisik lagi di hadapan gue, gue yang pergi." sela Cindy yang menengahi keributan kedua gadis gila di sebelahnya.
Keduanya pun langsung diam seribu bahasa, bahkan sekarang mereka ikut menikmati minuman laknat tersebut hingga Lili dan Amanda tak kuat lagi mengangkat kepalanya.
"Bang... Bang...!" panggil Cindy kepada bartender club malam tersebut.
"Ya, ada apa?"
"Abang ada kenalan atau apa yang bisa nganterin mereka dengan selamat ke alamat apartemen gue?" Roy meringis ikut menatap kedua sahabat Cindy yang sudah teler tak berdaya.
"Ada, tapi mahal."
"Nggak papa bang, yang penting mereka selamat sampai tujuan dan nggak di apa-apain ama orangnya abang."
Roy terkekeh pelan mendengarnya, club malam yang berada di bawah naungan Leo, tidak akan ada yang kurang ajar kalau dia tidak ingin mendapat imbasnya dari hukuman bos besar mereka.
"Kamu tenang aja, pasti aman." Cindy mengacungkan jempolnya lantas menikmati minumannya kembali.
Setelah memastikan kedua sahabatnya aman saat seseorang mengantarkan mereka, Cindy kembali merenungi nasibnya yang tadinya sudah terpesona dengan lelaki yang akan menjadi calon suaminya itu.
"Buset... Apa gini rasanya di tolak." gumamnya murung, ia tak henti-hentinya menegak minumannya.
"Rasanya...." menghela nafas sejenak dan kembali menegak isi gelasnya, "Benar-benar sakit."
"Sayang...." suara mendayu serta menggoda, begitu menarik atensi Cindy. Ia menoleh ke arah sepasang manusia yang nampak si pria terlihat datar, sedangkan wanitanya gelayutan seperti orang utan.
"Kamu kenapa sih... Aku kan udah pesen disana." Cindy ikut menoleh ke arah ruangan yang di tunjuk wanita tersebut, nampaknya dia ingin pacarnya masuk ke sana.
Entah kenapa, Cindy penasaran dengan reaksi pacar si wanita tersebut. Ia bahkan menegak kembali isi gelasnya dengan mata tak beralih sama sekali di wajah sang pria.
"Cowok tampan dan dingin seperti itu, memang membuat sakit." cemoohnya yang bicara sendiri.
Saking asiknya memperhatikan drama yang berada di depan matanya, Cindy tak sadar dirinya benar-benar penasaran dengan perangai pria itu.
"Sombong amat sih... Ck, untung tampan." Ia menggerutu, hingga bartender yang menuangkan minuman ke dalam gelasnya ikut menoleh ke arah pandangannya.
"Dia seorang dokter muda yang di puja banyak wanita, kalo perlu kamu tau." Cindy terkejut mendengar sahutan itu, ia meringis karena kepergok memperhatikan sepasang manusia itu.
"Ah masak sih, apa istimewanya coba?" Roy tersenyum menatap Cindy, " kamu tau wanita yang berada di dekatnya?" Cindy menggelengkan kepala.
"Dia salah satu wanita ONS dokter William." ujarnya membuat Cindy semakin penasaran.
"Apa hebatnya? kan cuma partner doang bang."
"Dia tidak akan menyentuh wanita yang terang-terangan menggodanya." Cindy menoleh menatap lagi pria yang masih saja memasang wajah dingin.
"Cih, sombongnya. Dimata gue, dia cuma cowok biasa."
"Susah ngomong sama kamu, karena ia bukan lelaki gampangan." ujar Roy yang berlalu meninggalkan Cindy nampak semakin penasaran sama William.
"Loh cewek yang tadi mana? Kok udah ganti lagi?" kepalanya celingukan mencari-cari tapi tak kunjung ketemu.
Luar biasa gilanya mata dia penasaran dengan sosok pria tadi, hingga tak terasa hampir setengah jam Cindy memperhatikannya, dan benar saja berkali-kali William tak mempedulikan godaan wanita cantik bahkan sudah menyentuhnya sana sini.
"Ih, abang itu salah tebak kali. Kenapa dalam kaca mata baca gue malah kayak ngeliat tu orang nggak normal ya." Cindy bergidik ngeri membayangkan sosok yang begitu sempurna itu bahkan hampir bisa di kata penyuka sesama jenis.
"ONS apaan? Orang dia lebih suka pisang..." Cindy terkekeh dengan perkataannya sendiri, ia kembali menikmati minumannya yang entah sudah berapa gelas yang masuk ke dalam perutnya.