Bergelut dengan seseorang yang masih perawan sudah pernah William rasakan, tapi ini? Dirinya bahkan tak memiliki rasa belas kasihan sama sekali untuk Cindy yang kesakitan karena belum terbiasa dengan berbagai gaya.
Bagaimana tidak? Semua ini adalah pertama bagi gadis itu.
Semua pertama, ciuman pertama, pelukan pertama, jatuh cinta pada pandangan pertama, bahkan ia menjadi seorang penggoda pada laki-laki pertamanya yang merenggut keperawanannya meskipun itu karena sikap sok tahunya dan sok beraninya menantang seorang pria dewasa berpengalaman yaitu William.
Bahkan William sendiri merasa takjub dengan Cindy yang sedari tadi di bolak-balik menjajal berbagai gaya apapun tak membuatnya mudah mendapat pelepasannya.
Sialan, ini seperti sebuah penghinaan untuk William. Disaat dirinya benar-benar menikmati semua ini, tapi gadis yang di hadapannya merupakan lawan yang seimbang karena sudah hampir satu jam, Cindy tak menunjukan tanda-tanda akan orgasmee.
"Mengagumkan..." gumam William yang masih saja menumbuknya dari belakang.
"Apakah ini nikmat untukmu?" Cindy kembali meracau tak jelas.
"Tentu saja nikmat, karena bercinta dengan lawan jenis lebih normal ketimbang sesama pisang." ia terkekeh di sela-sela desahannya membuat William geram.
William menyentaknya kasar, ia melepaskan penyatuannya yang hampir saja membuatnya menyemburkan benih unggulnya.
"Kau sungguh cerewet nona." William mengikat tangan dan kaki Cindy, sehingga gadis itu tak berdaya dengan posisi tengkurap.
Aaahhh.... "Apa yang kau lakukan?" pekik Cindy yang terkejut karena William memanggulnya bak karung beras di pundaknya.
"Bersenang-senang tentunya." William menghempaskan tubuh Cindy di meja kerjanya yang berada di dalam kamarnya. Ia menyingkirkan semua hal yang menghalanginya lantas mengangkat kaki Cindy agar melingkar di pundaknya.
Ahhh... ouhhh... "Kau senang rupanya, apa milikku begitu memuaskan kau tuan?"
William tak menjawabnya, ia menjilati liang surgawi Cindy mencecap dindingnya yang sudah basah dan basah. Ujung lidahnya bergerak menggoda biji kacang yang sudah merah merekah nampak bengkak mungkin karena selaput daranya yang baru saja pecah karenanya.
"Ouuhhh... Ini benar-benar gila." William menyeringai mendengarnya.
"Karena vaginaa milik wanita lebih nikmat dari pada pisang, aaahh...aahh...aaahh..." ceracaunya.
Sial, William murka mendengar itu. Ia tak lagi melanjutkan kesenangnyanya pada Cindy dan pergi entah kemana, hingga tak lama kemudian membawa sebuah sapu tangan kecil lalu menyumpalkan di mulut Cindy.
"Jangan mengoceh, kau benar-benar berisik." ujar William senang saat Cindy meronta-ronta tak mampu mengeluarkan suaranya lagi.
"Mengganggu kesenanganku saja."
William lantas menurunkan Cindy, dan mendorong punggungnya agar berdiri menungging lantas memasukan pusakanya di milik Cindy.
"Oh yeaahhh, you are so tight babe." William menumbuknya semakin keras, semakin kencang saat milik Cindy berkedut seolah memijatnya.
Akhirnya kau kalah nona, batin William yang masih betah menumbuknya.
William kembali membopong tubuh polos Cindy dengan tangannya yang masih terikat. William merebahkannya terlentang dan kembali menumbuknya tanpa membiarkan istirahat sejenak setelah pelepasannya.
Mmmhh..mmmhh...mhh....
Desah Cindy yang terhalang karena mulut masih tersumpal kain.
"Yaaahhhh, ssshhhh.... Mendesahlah, karena mulutmu lebih terdengar merdu saat mendesah karenaku... Ouuhhh...." ujar William, lantas mengerang dan mempercepat goyangannya serta memperdalam tumbukannya.
"Aaahhh..ooohhh...yaaahhh... Arrghhh, huffhhh haaaaahh.. haaaahh..." William mencapai puncaknya, ia membiarkan pusakanya menyembur membasahi dinding rahim Cindy begitu banyak. Nafas mereka terengah-engah karena setelah dua jam lebih William menyelesaikan permainannya.
William melepaskan ikatan tangan Cindy, mengambil sumpalan yang berada dalam mulutnya, lantas mengecup kening gadis itu begitu dalam dan memeluk tubuh polos Cindy dari belakang.
"I love you..." ujarnya detik berikutnya keduanya terlelap tanpa melepaskan penyatuannya.
Keesokan harinya.
Tidur Cindy terasa terganggu karena ada sesuatu yang menyedot kuat p****g susunya. Otaknya seolah terdapat hantaran listrik karena sesuatu juga bermain menggoda memutar di ujung kacangnya.
Matanya berat untuk terbuka, tapi mulutnya sudah mendesah karena miliknya kembali basah saat dirinya mencapai pelepasannya di pagi ini.
"Ouhh...." desahnya.
Apa ini? Kenapa begitu nikmat? Batinnya tanpa mau melihat sesuatu terjadi di luar kesadarannya.
"Aahh.. aahh... aaahhh..." tubuhnya tersentak-sentak saat sesuatu yang tadi mengganjal di lubang miliknya bergerak maju mundur memompanya.
Bodohnya Cindy, ia bahkan tak membuka matanya saat rahimnya pagi ini kembali di sirami bibit unggul dari spermaa milik William.
"Bangunlah kerbau betina, ini sudah hampir siang. Hrrrmmm.." ujar William saat mencabut pusakanya dari lubang liat itu.
Cindy langsung membuka matanya lebar-lebar, dirinya seperti di dalam mimpi karena pandangan pertama yang di lihat adalah seorang pria tampan telanjang dan tersenyum melihatnya.
"Anda siapa? Kenapa anda tak memakai baju?"
William terkekeh pelan mendengar pertanyaan bodoh Cindy, ia pun beranjak dari hadapan Cindy dan masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah mandi, William masih melihat Cindy sangat terlihat sedang bingung memandangi seluruh isi ruangan.
Menatap tubuh polosnya sendiri, menatap bajunya yang berserakan di lantai. Dan mungkin ia mengingat sebagian aksi gilanya yang menggoda serta menghina William pria normal yang perkasa itu adalah lelaki gay.
Terserahlah, haha. Batin William lalu masuk ke dalam walk in closet memakai bajunya lantas keluar kembali menghampiri Cindy yang masih belum sepenuhnya sadar.
"Minum ini." Cindy kembali menatap William tak mengerti, tapi ia menurut meminum pil yang William berikan padanya.
"Apa yang kita lakukan semalam?"
"Having sex...!" ujar William lugas, lantas melempar handuk bersih ke pangkuan Cindy.
"Kamu mandi, setelah itu makan diluar denganku. Dan aku antar kamu pulang."
Cindy masih betah dengan kelinglungannya, tapi dia menurut dan akhirnya mereka keluar makan berdua di salah satu restoran yang katanya milik sahabatnya.
"Nama anda siapa?"
"Willam, William Adi Tjandradjaya." ujarnya sambil menyuapkan nasi goreng favoritnya.
"Kamu?"
"Huh?"
Tuk...
"Aoucth, sakit." seru Cindy sambil mengusap dahinya yang telah di getok menggunakan sendok makan.
"Masih belum sadar juga?"
"Apanya?" ujarnya sewot.
"Pil tadi yang kamu minum, masih belum bisa membuatmu sadar dari alkohol?"
Cindy mendeham setelah menyadari kekonyolannya yang berfikiran kemana-mana saat berhadapan dengan William.
"Sudah. Bahkan sangat sadar dan mampu merasakan sakit, betapa sakitnya efek pukulan benda keras di kepala." ujarnya lantas memakan mie goreng ala ndeso pesanan miliknya tanpa menghiraukan William lagi.
"Ndy.....!!!!" seru seseorang sambil menepuk keras punggungnya.
"Uhukk, uhhuk, uhhuk..."
"Kamu nggak papa? Ini minum dulu." William nampak khawatir saat melihat gadis yang sedang makan dengannya tersedak saat mengunyah makanan.
"Ndy lo nggak papa?"
"Apa-apaan kalian? Yang kalian lakukan itu berbahaya!?" bentak William menatap tajam kedua sahabat Cindy yang tadi menepuk dan mengejutkannya. Hal itu membuat Lili dan Amanda mengkerut, nyalinya ciut tak berani menatap William.
"Ma-maaf..." ujar keduanya serempak yang menunduk bak murid yang sedang di hukum gurunya.
"Uhukk... Saya, uhhuk.. Baik-baik saja tuan." ujarnya sambil mengontrol nafasnya yang masih terengah-engah.
"Kalian mau bikin dia tersedak lalu mati, hah?" Cindy melambaikan tangan di hadapan William, ia lantas menggenggam kepalan tangan William yang nampaknya sangat emosi.
"Saya tidak apa-apa, mereka teman saya. Jadi jangan di ambil hati." pinta Cindy yang memohon padanya.
"Ya tapi-"
"Saya mohon."
"Haish terserah kau sajalah." William beranjak dari duduknya lantas meletakan sendoknya dengan kasar, ia ingin pergi ke kamar mandi sebelum tangannya menghajar kedua gadis sahabatnya Cindy.
"Lo bedua apa-apaan sih?"
"Maaf Ndy, kita nggak nyangka nemuin lo di sini."
"Lagian lo kemana aja sih semalam, udah nggak pulang ke apart lagi." gerutu Lili menatap tajam Cindy.
"Gue, ekhem..." matanya menatap William yang berjalam mendekati meja mereka.
"Aku tunggu di mobil, kalian bicaralah." ujar William yang sudah berubah manis tak segarang tadi, meninggalkan Cindy yang terpesona dengan senyum ramahnya.
"Siapa dia?" tanya Amanda sambil merapat ke bahu Cindy, matanya tak beralih sama sekali dari punggung lebar nan kokoh itu.
"Iya siapa dia?" Lili pun merapatkan tubuhnya ke bahu satunya, kini Cindy memandangi kanan kirinya bertingkah seperti 'meerkat' karena kepalanya menoleh berkali-kali kanan kiri dan depan.
"Hey siapa dia?"
"Gue nggak tau...!"
"Eh kok bisa, lo bedua makan bareng begini. Mana mungkin nggak tau." ujar Amanda semakin menggencar pertanyaan kepadanya.
"Haish, udah gue bilang. Gue nggak tau!"
"Lo cepet amat move on nya." Lili pun ikut angkat bicara.
"Hah, move on apaan?"
"Ya lo kan semalem kacau banget gara-gara perjodohan lo di tolak sama keluarga Prasodjo."
Cindy melongo tak percaya dengan pemikiran Lili yang menganggapnya sedih hingga ia mabuk karena itu.
"Apanya? Gue nggak ada rasa sama sekali sama tu orang ya."
Lili dan Amanda saling pandang.
"Terus kenapa lo semalam minum banyak?"
"Gue cuma kesel sama nyokap gue Li, dia nggak ada henti-hentinya mengolok-olok gue tak bisa menggaet keturunan Prasodjo itu." seru Cindy yang kemudia diam seketika saat William sudah berdiri di sampingnya, menatapnya datar.
"Tu-tu-tuan, sejak kapan anda berdiri di sana?" William tersenyum tipis lantas meraih kunci mobilnya yang terletak di meja.
"Aku mau ambil ini." ujarnya sambil mengangkat sedikit kunci yang berada dalam genggamannya.
"Apa kalian sudah selesai?" William menatap satu persatu ketiga gadis itu, tapi lucunya kepala mereka menggangguk kompak.
Ia terkekeh lantas berdeham menatap Cindy.
"Kalo begitu kita pulang sayang." Cindy melotot mendengar ucapan William, sedangkan kedua sahabatnya itu melongo tak percaya.
"Ndy, lo?" Amanda menunjuk Cindy dan William bergantian sambil menatap kedua jemari mereka yang kini sudah bertautan dan berdiri begitu rapat.
"Kita pulang dulu ya, kalian boleh makan apa saja. Nanti saya yang bayar." William memanggil salah satu waitress agar menghidangkan menu spesial buat kedua sahabat Cindy itu.
"Apa anda gila?" ujar Cindy yang sudah duduk di sebelah William yang sedang menyetir mobilnya.
"Aku? Gila? Nggak juga sih." ujar William enteng.
"Apa maksud anda tadi? Anda benar-benar membuat kepala saya pusing." ujar Cindy yang sudah memijat pelipisnya, ia mengatur nafasnya berkali-kali karena sikap William yang biasa saja setelah mengatakan hal omong kosong di depan kedua sahabatnya.
"Tunggu ini bukan jalan menuju apart saya."
"Memang." Cindy menatap William tak percaya.
"Apa yang anda inginkan sebenarnya?"
"Aku ingin seks..."