“Bu, ada yang ngajak main ke Ancol temen, gimana boleh pergi ?” El minta ijin ke ibunya.
“Nah gitu sekali-kali nyari hiburan, ibu malah seneng, sana besok berangkat.”
“Makasih Bu,” El memeluk ibunya.
“siapa yang ngajak ke Ancol nak ?” ibunya penasaran
“Temen laki-laki,” El malu tersipu..
“Ibu ga apa-apa kamu punya pacar, sekarang kamu sudah dewasa. Perlu teman untuk berbagi, ga mungkin kan urusan kuliah ngobrolnya sama ibu.” Bi Ijah terkekeh.
“Belum kok Bu, belum jadi pacar,” El merona.
Ya sudah sekarang cepat tidur biar besok segar.
“Ya Bu,” El beranjak ke tempat tidur. Ibunya keluar dari kamar.
= = = = =
Pagi-pagi, El sudah siap-siap, sengaja lebih pagi biar udara tidak terlalu panas sore hari bisa sudah ada di rumah.
El memakai celana jeans atasan tanktop di balut cardigan, sedikit berdandan, ketika touch up terakhir handphone nya berbunyi tanda pesan masuk.
Terlihat dari Gladwell
Gladwell : gw meluncur ke tempatmu.
Ellen : Ok, saya tunggu di mini market Top ujung jalan langsung pamit keluar, sedikit berlari kearah mini market Top
Ellen : sharel oc
Gladwell : ok, sebentar lagi sampai.
Tak lama menunggu, Gladwell sudah sampai, memakai celana jeans kaos fitbody dibalut jacket kulit. Kelihatan sangat keren.
Setelah El naik, mereka menuju Ancol. Ga terlalu lama diperjalanan sampai juga.
Setelah nyari parkiran, mereka beli ticket, sebelum masuk ke gerbang ticket di periksa, lengan di beri cap tanda masuk.
Betapa senengnya Ellen bisa bermain sepuasnya, Gladwell sampe terkaget-kaget melihat ekspresi wajah El bisa tertawa lepas terbahak-bahak, menjerit-jerit ketakutan, kadang melihat El
takjub pada sesuatu hal baru. Gladwell sangat menikmati kebersamaan dengan dan selalu memfoto Ellen.
Ketika di Dufan, semua wahana diikuti, banyak wahana yang memicu adrenalin. Walau takut-takut tapi penasaran ingin mencoba.
Sudah beberapa wahana yang dinaiki, seperti wahana turangga, bianglala, kora-kora, Histeria.
Gladwell ngajak istirahat dulu.
“El kamu ga haus ? kita nyari minum dulu,” Glad narik tangan El ke counter minuman.
“Aku ingin es krim,” El minta es krim,
“Kamu duduk disini, Aku belikan. Mau rasa Apa ?"
“Terserah disana adanya apa, mau jeruk, strawberry, mint. Campur juga boleh.”
Glad beranjak ke tempat es krim. Setelah dapat es krimnya kembali ke tempat dan duduk di sebelah El.
El begitu menikmati Es krim.
“Es krim nya enak banget, kamu mau nyoba ?” El nawarin.
Glad menggeleng,” kamu saja nikmatin.”
“Ayolah , kamu belinya kebanyakan,” El nyuapin Glad,
Glad kaget awalnya, tapi akhirnya menikmati. Begini rasanya kencan, bahagia banget.
Mereka banyak selfi dan wefie, terlihat gembira.
Glad minta wefie sama El, El tersenyum renyah, fotonya langsung diposting IG, langsung ramai komen yang patah hati.
Mereka kembali ke wahana, tak terlewati naik kicir-kicir, tornado yang bikin orang teriak-teriak, pontang panting, ontang anting, halilintar, rajawali, niagara sampai basah kuyup.
Setelah keluar dari dufan mereka makan siang. Lalu ke tempat lain.
Semua arena didatangi, dunia fantasi, Pasar seni, Ocean Dream Samudra, Atlantis water Adventure, SeaWorld Ancol, Pantai Carnival dan pantai Festival.
Menjelang sore, sebelum pulang mereka duduk-duduk di tepi pantai,
“Kamu pasti cape yaa ?” Glad memulai bicara.
“Banget, tapi suka sekali. Makasih ya Glad telah ngajak kemari.” El tersenyum.
“Aku juga bahagia, bisa bareng sama kamu.”
El tersipu malu wajahnya merona, membuat Glad makin gemas.
“El…” Glad sedikit ragu.
“Apa?”
“Hmmm… kamu tau, aku dari masa orientasi sudah menyukaimu, pasti kamu merasakannya.” Glad bingung memulai dari mana untuk mengungkapkan perasaannya.
“Rasanya sudah cukup buatku menyelami perasaan ini selama 1,5 tahun.”
“Akhirnya aku sadar aku mencintaimu.” Dengan mantap Glad menyatakan cinta pada El.
El bukannya tidak tau perasaan Glad tapi dia minder harus pacaran dengannya.
“Glad… bukan saya nolak, tapi rasanya kamu tidak pantas dengan aku,”
“Apanya yang tidak pantas.” Glad gemas mendapat jawaban ambigu.
“Saya orang miskin, bisa kuliah juga karena beasiswa. Saya tidak mau terganggu kuliah. Kalau sampai terganggu karena pacaran, nilai turun lalu di cabut beasiswanya, Kuliah berhenti.
Berat buat saya. Saya ingin membahagiakan orang yang merawat saya.” El menjawab dengan sedih.
“El, selama kita kuliah, ga perlu kita harus pacaran seperti yang lain, paling kita sekali-sekali saja jalan seperti ini.
Sehari-hari kita bisa belajar bersama, ke perpustakaan bersama, saya janji tidak akan nuntut kamu selalu pergi denganku.”
“Kamu tidak bisa apel ke rumah saya, karena saya numpang di rumah orang.” El memberi pengertian.
“El, saya ga akan maksa apapun, ketemu hanya di kampus pun aku rela. Saya hanya butuh status kamu pacar saya itu sudah cukup.” Glad meyakinkan El.
“Kalau begitu mari kita coba dulu.” El ragu jawab
“Berarti kita mulai pacaran ya,” Glad sangat berharap, memegang erat tangan El.
El mengangguk.
“Terima kasih El, terima kasih. Hari ini sangat spesial buat saya.”
Glad merengkuh El.
“Glad, saya anak yatim piatu, yang dipungut seorang pembantu, apa kamu ga malu menjadi pacar saya ?” El sedih.
“Tidak, aku tidak melihat kurangnya kamu, tapi aku melihat dirimu yang pintar, yang gigih yang mau bekerja.” Glad malah merasa bangga.
Akhirnya mereka berjalan bergandengan tangan menuju mobil di parkiran. Menyudahi kencan yang sangat berkesan.
Sepanjang jalan pulang mereka hanya membisu, masih canggung, Glad sengaja menyetel lagu-lagu yang telah disiapkan yang isinya mengungkapkan isi hatinya saat ini.
“Kamu dengerin ya lewat lagu-lagu ini, bagaimana perasaanku selama ini.”
El mengangguk.
mengalunlah lagu-lagu : berdua bersama (Jaz), could it be love (Raisa), aku wanita (BCL), tiba-tiba cinta datang ( Maudy Ayunda), sejuta cinta (Yovie & Nuno), cinta luar biasa (Andmesh), dengan caraku(Brisia Jodi), rindu sendiri (Iqbal Ramadhan), coklat biru (Giorgino
Abraham) dan banyak lagi.
Rasanya meleleh mendengar lagu-lagu tersebut, Glad menggenggam tangan El sepanjang jalan, hanya sekali-kali saja ketika harus belok setir dilepas sebentar. Sengaja Glad mengendara nya santai rasanya ga mau cepet-cepet sanpai.
Sepanjang mendengar lagu wajah El merona.
Akhirnya sampai juga di minimarket TOP,
“Terima kasih kamu telah menerimaku,” Glad mencium punggung tangan El.
Setelah turun El masuk ke mini market dulu yang sebenarnya ga ada yang di beli, hanya karena meredakan deburan rasa, akhirnya belanja ala kadarnya, untuk nutupin malu masa masuk
ga beli apa-apa.
Glad langsung chat di grup dengan temen-temennya,
Glad : malam ini kita kumpul.
Ben : lu ditolak,
Glad : gw lagi bahagia, kalian gw traktir.
Jason : Beneran lu diterima ?
Ben : Selamat ya lu akhirnya ga jomlo lagi.
Glad : Sialan gur jomlo lantaran milih yang terbaik, jing !
= = = =
El masuk ke rumah dengan bersenandung karena hari ini bener-bener menyenangkan.
“Wah yang seneng sudah jalan-jalan. Bagaimana kencan nya sukses ?”
Bi Ijah berusaha menjadi ibu yang pengertian.
“El hari ini seneng banget Bu,” El merona.
“Kamu jadian yaa sama dia,” Bi IJah penasaran.
El mengangguk, ”Boleh El pacaran Bu ? dia janji ga akan mengganggu kuliah El”
“Ngomong-ngomong tadi Tuan nanyain kamu, ada perlu katanya.” ucap Ibu
= = = = =
El segera ke dalam, menuju ruang tengah, terlihat Willy sedang nonton Chanel berita CNN,
“Tuan ada perlu apa ?” El langsung bertanya.
“Kamu dari mana ?” Willy bertanya dengan wajah datar.
“Dari Ancol, diajak temen.” El tersipu.
“Sama pacar yaa.” Willy penasaran.
El duduk menunduk, meremas-remas ujung kaosnya sampe melintir.
“Kok ga jawab ?”
“Tadinya tidak, hanya teman.”
“Lalu ?” Willy makin ingin tahu.
“mmmmm… Baru mencoba hari ini, dia nembak saya barusan tuan.”
Degg, Willy kalah start,
” Sialan, Gue telat sehari nih.” Rutuknya dalam hati.”peduli amatlah dia belum nikah ini.”
“Kamu bisa bantu saya kerja,”
“Maksud tuan ?” El ga ngerti.
“Begini, sekertarisku kan hamil, lagi ngidam mualnya berat, jadi ga bisa lembur, kalo saya di kantor lemburnya, dia ga enak akan maksain lembur. Jadi sisa kerjaan akan saya bawa pulang,
kamu bantu kerja.”
“Tapi saya kan kerja paruh waktu.” El bingung.
“Kasihan kalau disuruh lembur."
El menyetujui. ga enak bagaimanapun telah numpang disini, akhirnya menyetujui jam kerjanya dari jam 4 sore.
= = = = =
Setelah kumpul di Bar, Glad langsung di berondong pertanyaan.
“Lu nembak dimana.” Ben penasaran.
“Di pantai Festival Ancol ?” Glad santai jawabnya.
“Haaah, sesederhana itu ?” Jason penasaran.
“Tadinya gue ingin seromantis gimana gitu, spesial, tapi tadi gw sudah ga sabar jadi mendadak saja tanpa rencana.”
“Tapi lu untung di terima.” Sahut Ben.
“Ga juga, ditolak dulu. dia takut ganggu kuliah dan status sosial juga, tapi gw yakinkan ga akan ganggu, segalanya berjalan seperti biasa. Kalo status sosial gw ga pernah liat itu, gw kan ga mau numpang hidup dari cewek, kehidupan cewek tuh tanggung jawab cowok.” Glad berbinar.
“Jadi ga ada acara apel gitu ?”
Glad mengangguk,” Pelan-pelan sajalah, dia bukan gadis clubing banget.”
“Syukurlah ga bertepuk sebelah tangan, memalukan banget kalau sampe lu ditolak, harga diri banget seorang Glad hahahaha,” Jason meledek.
“Gue masih belum boleh datang ke rumahnya.” Glad sedikit kecewa, “Dia bilang numpang di rumah orang jadi ga enak kalo sampe pacaran.”
*****TBC
novel lain :
novel Return of Love sekuel dari The Hell of love.
Dia yang menodaiku
Terima kasih telah membaca novel saya
terima kasih juga love nya