Bab 10. Papa Embun Sudah Di Tangan

1089 Words
Bab 10. Papa Embun Sudah Di Tangan ***** “lho, kamu kok, enggak marah?” tanya Mama tiba-tiba tersadar. “Ngapain marah? Mereka cuma iseng, begitu kata mereka, kan, Ma? Lalu kenapa aku marah?” “Tapi, matamu berair? Kamu nangis?” “Oh, enggak, ini karena aku tertawa tadi, abis, mama lucu, orang iseng dianggap serius.” “Iya, sih. Tapi, si Sandra keterlaluan, Dia sedang berusaha merayu suamimu.” “Enggak akan tergoda suami saya, Ma. Mas Ray itu, suami paling setia. Percaya, deh!” “Bagus kalau kamu percaya padanya. Tapi, mengenai pembantu-pembantumu itu, Mama enggak yakin! Bagaimana kalau pas kamu enggak di rumah, atau di malam hari, saat kau tertidur, dia main gila dengan Ray? Kamu pulangkan aja, deh. Biar Mama yang bayar ganti rugi ke yayasan.” “Ih, Mama, ponaan sendiri dicurigain, kek gitu?” “Mama serius, Embun, udah, biar Mama yang bicara dengan mereka, ya?” Wanita itu berdiri. “Stop, Ma!” teriakku tegas. Dia terkejut. “Kamu berani berteriak sama Mama?” tanyanya tak percaya. Kuulas senyum semanis mungkin. “Maaf, enggak sengaja teriak, tapi, Embun mohoooon banget, tolong Mama pulang aja! Jangan campuri urusan rumah tangga saya, ya!” ucapku mendorong tubuhnya keluar. Senyum manis masih tersungging di bibirku. “Sekarang kau malah ngusir Mama?” sergahnya semakin kaget. “Eh, iya. Embun ngusir Mama, karena Embun mau pergi ke kampus, terus ke salon.” “Kamu tetap mau kuliah lagi?” “Iya, dan terima kasih atas komentar Mama tentang penampilan saya. Karena dengan komen Mama, aku jadi terpikir deh, mau ke salon, mau permak penampilan,” ketusku. “Embuuuun! Kau memang keras kepala!” “Maaf, Ma. Taksi pesanan saya udah datang, tuh. Maaf, ya, Ma. Lain kali kita sambung ngobrolnya!” kudorong dia menuju mobilnya. Mobil dari hasil perusahaan Mama kandungku tentu saja “Raya! Mama pergi, ya, Nak! Kalau nanti Papa tanya Mama ke mana, bilang Mama ke salon, ya!” teriakku. *** POV Siska Gila tuh anak, kenapa si Embun bisa berubuh begitu ya? Tiga tahun ini dia nurut aja semua yang kami perbuat. Begitu menikah dia langsung bisa kami kuasai. Ray begitu pintar, dia berhasil membuat Embun langsung hamil. Perempuan itu sibuk dengan masa mabuk dan ngidam. Begitu melahirkan, dia sibuk mengurus bayi. Sengaja aku tak mengizinkan dia menggunakan jasa pembantu. Kutakut-takuti dia dengan banyaknya kasus pembantu selinguh dengan majikan. Perempuan lugu itu pun percaya. Kulakukan itu agar dia tidak punya waktu untuk memikirkan perusahaan miliknya. Ya, sebetulnya aku menyesal menikahi papanya. Kukira dia Bos Tajir. Tak tahunya Bodong. Ternyata bukan dia pemilik perusahaan besar dan terkenal itu. Melainkan milik mantan istrinya. Perempuan yang telah kusingkirkan dengan sangat manis. Ah, tidak usah diingat masalah kematian perempuan itu, aku jadi merasa berdosa. Ngeri membayangkan dosa yang harus kupikul nanti. Jadi, gak usah dipikiran aja. Bila nanti tujuanku sudah tercapai, baru aku akan bertobat. Banyak-banyak istiqfar dan berbuat amal, hehehehe …. Secara, nanti hartaku kan udah banyak, jadi aku bisa beramal sebanyak-banyaknya untuk menebus dosa-dosaku, iya, kan? Tetapi, sepertinya sekarang usahaku agak terhambat. Embun kembali menjadi penghalang. Kenapa anak itu selalu menghalangi tujuanku? Hah, rasanya sudah bosan aku menunggu. Tiga tahun, lho. Tiga tahun sudah aku mengabdi kepada si Rahmad, suami enggak guna itu. Tapi yang kudapat apa, hah! Sekarang Embun mulai bertingkah lagi. Ngambil pembantu empat di rumahnya, mau kuliah segala lagi. Apa tujuannya, coba? Pasti dia mau terjun ke kantor, kan? Gawat, dong! Ray bisa tak berkutik kalau istrinya terjun ke perusahaan. Ray, juga lemot banget jadi suami. Kenapa dia tak bisa menaklukkan hati istrinya? Eh, bukankah selama ini Ray sudah berhasil menaklukkan Embun? Dia bisa merubah perempuan itu menjadi istri sejati. Hari-harinya disibukkan dengan mengurus rumah dan dua orang anak. Lalu, kenapa sekarang Embun berubah? Ada apa sebenarnya? Malam ini, semoga Ray berhasil menjalankan tugasnya. Semoga dia berhasil membuat Embun hamil lagi. Hanya itu jalan satu-satunya untuk menaklukkan kembali perempuan itu. Ray … kerja keras, ya, Nak! Bujuk istrimu yang sesungguhnya perempuan bodoh itu, ya! “Sayang … kenapa dari tadi melamun aja?” Aku tersentak, Mas Rahmad menepuk bahuku dari belakang. “Eh, Mas … maaf, aku enggak sadar kalau Mas udah selesai mandinya,” sahutku sambil memandangi pantulan tubuh lelaki tua ini di cermin, di depanku. Daging berlebih di tubuhnya menggelantung di sana sini. Perut bengkak seperti balon, pipi, mata, hidung, alis, ah … semuanya sudah jelek. Tak ada lagi sesuatu yang menarik di tubuh tua ini. Apalgi penyakit gula dan riwayat sakit jantung yang di deritanya. Sebenarnya, kalau tujuanku sudah tercapai, aku ingin segera mengakhiri pernikahan menyebalkan ini. Lihat diriku, aku memang sudah berumur, empat puluh tahun usiaku. Tapi, penampilanku masih wah! Tubuhku seksi, wajah cantik. Pemuda setampan apapun masih bisa kudapat kalau aku mau. Ngapain aku berlama –lama bersandiwara di depan laki-laki ini? Pura-pura cinta, pura-pura sayang, pura-pura setia. Kalau bukan demi hartanya. Susah payah aku melenyapkan istri tercintanya, supaya bisa menjadi istri satu-satunya. Ternyata aku sial. Harta itu semuanya ternyata milik istrinya. Entah bagaimana bisa, semua sudah diwariskan kepada Embun. Tidak ada cara lain, selain segera melenyapkan Embun juga, bukan. Tapi, niat itu tak terlaksana. Si Ray tiba-tiba datang memohon-mohon agar jangan ganggu Embun. Dia cinta mati sama perempuan itu. Terpaksa aku mengalah. Harapanku, dia bisa aku peralat. Kupaksa dia menguasai dan membuat Embun menurut padanya. Awalnya berhasil, sebulan lagi, perusahaan besar itu akan jatuh ke tangan Ray, keponakanku. Ray yang memimpin perusahaan, tapi di bawah kendaliku. Sebulan lagi, lho. Eh, tiba-tiba Embun berubah. Perempuan itu memang belum mengatakan apa-apa. Dia masih saja tersenyum dan berkata dengan sopan dan halus. Tapi, kehadiran empat pembantu di rumahnya, keinginannya untuk kuliah lagi? Wah, ini benar-benar signal yang tidak bagus. “Siska, Sayang. Masa, Mas dibiarkan telanjang seperti ini, bisa masuk angin, lho! Mana piyama tidurku, em?” Kembali Mas Rahmad mengagetkanku. Tangan lembeknya kini mengalung di leher. Wajah itu menempel di kepala, menciumi rabut dan tengkuk. “Oh, iya, Mas. Lupa, sebentar,” ucapku melepas tangannya dengan lembut. Aku harus bersikap hati-hati. Jangan sampai dia tersinggung sedikitpun. Meski aku tak suka, pura-pura baik-baik saja. “Ini, Sayang, pakailah! Terus, kita minum obat, ya! Aku tungu di meja makan,” titahku sembari berlalu setelah meraih ponsel di atas meja rias. Suami tuaku yang penyakitan memang harus rutin minum obat. Obat gula dan jantung. Aku tak ubahnya seperti perawat saja. Enak, ya, dia, dapat perawat cantik, bisa melayani dia dalam segala hal. Hah, aku harus bersabar, sebentar lagi, bukankah janjinya mengangkat dan menyerahkan perusahaan pada Ray sebulan lagi? ***** Mohon dukungannya untuk tape love dan follow, juga. terima kasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD