Bab 20. Rani Korban Obat Perangsang Suamiku ***** Tanpa ragu, kutukar gelas yang disediakannya untukku dengan gelas miliknya. Untunglah dia berakting adegan nangis segala. Jadi, aku berkesempatan melancarkan aktingku juga. “Makanya saya memberanikan diri mengetuk pintu kamar Ibu, maaf, ya, Bu.” Jangan-jangan anak ini memang pemain. Pasti dia mencuri perhatian Mas Ray pertama kali dengan cara seperti ini. Pura-pura bersedih untuk mencari simpati. “Terus, saya bisa bantu apa?” tanyaku merenggangkan pelukan. “Saya pinjam duit, Buk. Saya bayar tiap gajihan, potong aja separuh gaji saya. Boleh, ya, Bu?” “Ok, besok pagi saya transfer, ya.” “Benaran, Buk?” “He-em.” “Makasih, Buk, ayuk, kita minum dulu!” Kami minum bersama, tapi dengan gelas yang sudah tertukar. Kuteguk minuman di gel

