BAB III : TENTANG MEREKA 2

1164 Words
*Semua tidak pernah untuk mereka ataupun tentang mereka. Tetapi semua selalu untuk kita dan tentang kita.* Semua sedang berkumpul di meja makan saat Medina pulang. Ada Abi, Ummi, Aisha, dan si kecil. Mereka terlihat sedang tengah bercanda di tengah-tengah “Duduk dulu, Medina. Ikut makan.” Pinta Ummi dengan lembut. “Medina tadi abis makan sama Bram, Ummi.” Semua hening mendengar nama Bram disebut. Ummi menatap Abi yang terlihat seolah tidak mendengar apa-apa. Memilih untuk fokus pada makanannya. Di sisi lain meja makan, Aisha sudah melotot dari tadi. Seolah berparagraf-paragraf omelan siap menyerang Medina yang sudah over confident menolak ikut makan malam bersama Abi dan Ummi. Pakai menyebut nama Bram pula! Abi pasti sebenarnya sudah sangat marah.  “Ummi baru bikin cumi asam manis, Kak Medina. Kakak cobain dulu!” Aisha berucap lembut meski matanya sudah melotot lebar. Berusaha memberi kode Medina untuk ikut duduk di kursi makan. Sadar suasana langsung berubah, Medina menurut. “Wah pasti enak nih.” Medina langsung duduk meski merasa canggung. Meja makan penuh dengan makanan. Tema makan malam kali ini sepertinya seafood. Ada cumi asam manis kesukaan Medina. Udang tepung yang dari tampilannya saja sudah dapat dipastikan crunchy sekali. Bahkan Ummi juga memasak salmon kesukaan Aisha dan Lukman. “Medina, besok pengajian rutin bulanan ada di rumah Budhe Salamah. Kamu bisa datang kan?” Medina mengambil satu centong nasi dan beberapa sendok cUmmi asam manis. Sementara yang lain menunggu jawaban Medina. “Besok Medina ada pemotretan buat endorse, Ummi.” “Memang tidak bisa kamu tunda dulu?” Tanya Ummi. “Iya, Kak. Paling acaranya cuma sejam atau dua jam.” “Banyak jadwal yang harus di atur ulang kalau Medina tunda, Ummi.” Abi yang sedari tadi menunduk menatap makanannya kini menatap putri sulungnya. Tatapan tajam yang sebenarnya membuat Medina agak ngeri juga. “Mau sampai kapan kamu mengecewakan Abi?” Medina menghela napas. “Maaf, Abi kalau Medina memang selalu mengecewakan Abi. Maaf juga untuk kesekian kali kalau Medina belum bisa memenuhi harapan-harapan Abi seperti Aisha ataupun Lukman!” Medina meninggalkan makanannya di meja makan. *** Pintu kamar diketuk. Satu kali ketukan, dua kali ketukan, tiga kali ketukan. Tidak ada sahutan karena memang Medina sedang tidak ingin menyahut. Ia masih tidak ingin menemui siapapun. Tidak untuk dirayu ataupun dibujuk. Tapi pintu masih juga diketuk kemudian suara lembut adik perempuannya memanggil dari balik pintu. “Kak, boleh masuk ya?” “Aku lagi pengen sendiri!” “Berarti boleh ya?” Justru kesimpulan sebaliknya yang Aisha ambil. Bukan Aisha namanya kalau tidak mengeyel. Aisha benar-benar masuk. Membuat Medina menyesal karena lupa mengunci pintu. Pintu kamar Medina dibuka. Aisha muncul. Mendekat lalu duduk di kursi busa berbentuk bundar. Kini posisi gadis yang manis karena mewarisi kecantikan Umminya itu menghadap ke Medina. Sedang si Kakak yang tetap tidak bergerak dari posisinya yang sedang menatap jendela kaca. “Kak Medina inget nggak waktu kecil kita saling berkompetisi untuk dapet nilai tinggi?” Medina tidak menjawab. “Siapa yang dapat nilai paling tinggi, dia yang dapat hadiah paling besar. Waktu itu kak Medina minta dibeliin sepeda baru. Waktu itu Aisha juga tetep ngotot minta dibeliin sepeda baru. Padahal nilai Aisha nggak bagus-bagus amat.” Aisha memberikan jeda pada ceritanya. “Seperti itulah kasih sayang Abi dan Ummi untuk kita, Kak. Semua tidak pernah untuk mereka ataupun tentang mereka. Tetapi semua selalu untuk kita dan tentang kita. Abi hanya meminta kita untuk belajar dengan rajin. Sedangkan yang kita dapat? Nilai tinggi. Jadi juara, banyak mendapat pujian dari guru dan teman. Hadiah sepeda baru. Sedangkan apa yang Abi dapat? Tidak ada, selain ikut berbahagia untuk kita. Dan apakah karena nilai Aisha yang tidak sesuai dengan keinginan Abi lalu Abi tidak menuruti kemauan Aisha untuk dibelikan sepeda baru? Tidak. Abi tetap berikan karena Abi juga sayang dengan Aisha sama seperti Abi sayang dengan kak Medina.” Medina menunduk dan mulai memikirkan perkataan adiknya. “Kalau memang kak Medina belum bisa menuruti maunya Abi yang menurut Kakak masih sangat berat untuk dilakukan, setidaknya ayolah kita bahagiakan Abi dengan permintaan-permintaan sederhananya. Pengajian rutin kita kan nggak lama Kak. Paling sejam dua jam, tinggal duduk diam biarkan waktu berlalu. Begitu Abi dan Ummi sudah senang, Kak.” Medina mengangguk mengiyakan. Ia paham betul yang dimaksud Aisha dengan hal yang Abi minta tapi masih sangat berat untuk Medina lakukan, yaitu berhijab dan tidak berpacaran. “Hmmm, jadi besok agenda apa yang bisa Aisha bantu supaya kakak bisa agak longgar untuk ikut pengajian di tempat budhe Salamah?” Medina tersenyum bangga dengan adik perempuannya yang sebenarnya dalam kesehariannya selalu saja usil dan hobi mengajak berantem Medina, tetapi di saat seperti ini ia bisa selalu jadi bijak dan tidak menggurui. Medina dan Aisha mulai mendiskusikan tentang daftar kegiatan Medina yang memang cukup padat besok. *** Medina segera mengemasi barang-barangnya selesai photoshoot untuk endorse produk kecantikan. Kali ini bukan Citra yang menggambil gambar. Natasha yang melakukannya. Medina memajukan jadwal pengambilan foto untuk endorse membuat Citra tidak bisa mengambil gambar untuknya. Janjinya untuk bertemu dengan Bram sore ini, sudah ditunda. Aisha benar. Setidaknya ia harus sedikit saja menuruti permintaan Abi. Setidaknya selama ini Abi sudah mulai melunak terhadap pilihan berkarir Medina sebagai selebgram dan pebisnis yang pada awalnya ditentang penuh oleh Abi. Begitu juga hubungannya dengan Bram. Meskipun belum direstui oleh Abi, setidaknya Medina juga sudah tidak dilarang secara keras lagi oleh Abi. Karena itu tidak ada salahnya kalau Medina sedikit saja mulai menuruti keinginan Abi. Toh ikut pengajian rutin tidak begitu buruk meskipun agak membosankan bagi Medina. “Apa agendamu selanjutnya? Jadi mau kencan sama pacarmu itu? Ketemu dimana?” Natasha mengajukan tiga pertanyaan sekaligus dalam satu helaan napas. “Aku pending dulu ketemu sama Bram. Aku ganti baju dulu sebentar.” “Ngapain pakai ganti baju segala?” Medina tidak menjawab pertanyaan Natasha. Dibawanya tas rasel berisi baju ganti ke toilet café untuk berganti baju supaya pantas digunakan untuk ke tempat budhe Salamah. Sepuluh menit kemudian, Medina sudah keluar dari toilet dengan mengenakan baju muslimah. “Let’s go!” Medina memberikan kode pada Natasha yang sibuk bermain ponsel untuk segera bergegas mengantarkannya. Natasha melongo melihat Medina yang sudah rapi dan cantik menggunakan baju muslimah. Rok rample berwarna light brown, inner baby pink dan outer panjang berwarna maroon. Rambut hitamnya ditutup dengan jilbab pashmina senada dengan warna roknya. “Cucok meong deh. Kita mau photoshoot buat endorse baju muslimah?” Tanya Natasha. “Assalamu’alaykum, akhi.” Medina menangkupkan kedua tangannya didepan dadanya sambil menunduk dan menahan tawa. “Akhi?” alis Natasha berkerut. Medina tentu tidak menjawab apa itu arti akhi, karena sudah pasti Natasha akan mengomel berparagraf-paragraf kalau mengetahui bahwa akhi digunakan untuk sapaan bagi lak-laki. “Ukhti Medina mau pengajian dulu.” Medina tertawa membayangkan dirinya sendiri mengikuti gaya wanita muslimah. Sekaligus mentertawakan Natasha yang masih memasang wajah bertanya-tanya dengan penampilan Medina kali ini. “Udah buruan anterin aku.” “Mau foto di masjid mana? Tunggu eike cyint!” Natasha mengejar Medina yang sudah beberapa langkah di depannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD