Medina membaca list agendanya satu persatu hari ini. Sambil duduk di balik meja kerjanya dalam kamar. Dari sini Medina bisa sambil sesekali melihat ke arah halaman rumah dari jendela kaca di kamarnya yang terletak di lantai dua. Ia akan bisa langsung tahu jika Natasha datang menjemputnya.
Cukup banyak kegiatan di luar. Sepertinya ia tidak akan bisa ke outlet hari ini.
Pertama Medina akan ada pemotretan untuk endorse baju. Lokasi sudah di tentukan. Citra sang juru kamera kesayangan Medina sudah akan bersiap mengambil gambar untuk endorse kali ini. Citra bukan hanya sekedar juru kamera. Perempuan penuh talenta itu sudah setahun terakhir menjadi sahabat Medina.
Kedua, Bram akan datang untuk menjemput Medina. Mereka berdua akan ada pemotretan di sebuah studio milik fotografer ternama. Dari sana Medina akan ada pertemuan dengan seorang produser film.
Agenda terakhir adalah yang paling Medina tunggu-tunggu. Ia mendapatkan tawaran untuk bermain film bersama Bram. Siapa yang tidak senang bisa bermain satu film dengan kekasihnya sendiri? Pasti akan menyenangkan.
Sementara tengah sibuk berkhayal soal film yang akan ia mainkan bersama Bram, Ummi sudah berteriak memanggil Medina.
“Medina! Udah ditunggu temenmu diluar! Katanya kamu mau ada pemotretan.”
Medina memang sebenarnya sudah menunggu kedatangan Natasha dari tadi.
“Iya, Ummi. Medina turun.”
Medina melongok ke arah jendela kaca kamarnya, memang betul Natasha sudah terlihat di depan pagar rumahnya. Medina melambai ke arah Natasha yang sudah siap dengan motor dan helmnya.
Tas yang sudah disiapkan sedari tadi di meja, digamit oleh tangan Medina. Ia berlari kecil keluar kamar dan menuruni tangga.
Ummi sedang membereskan meja makan. Melihat putri sulungnya berlari-lari kecil untuk mencium tangannya dan berpamitan.
“Nanti, Ummi mau bicara sama kamu setelah semua kerjaan kamu selesai, Medina.”
“Bicara apa, Ummi?”
Kening Medina berkerut. Perasaannya berubah tidak enak. Biasanya kalau gelagat Ummi seperti ini Medina bisa jadi baru saja membuat kesalahan.
“Ya sudah nanti saja. Kasihan temenmu udah nungguin.”
Medina mencium tangan Ummi, kemudian mengucap salam.
“Assalamu’alaykum, Ummi.”
“Wa’alaykum salam.”
***
Kafe bergaya vintage yang sangat instagramable ini baru saja dibuka. Otomatis belum banyak pengunjung yang datang. Media sepakat memilih kafe ini karena memang sedang viral sekali di i********:. Ini akan jadi konten yang sempurna untuk endorse.
“Ayo, Natasha buruan!”
Natasha melepas helmnya. Rambut pirangnya terurai panjang dan wangi.
Disebabkan macet dan harus mencari jalan tikus, Medina sudah telat dari waktu yang ia janjikan untuk bertemu dengan Citra. Ia tidak ingin membuat Citra menunggu lebih lama lagi. Sekaligus tidak ingin menerima omelan sahabatnya itu.
“Iya, duh. Sebentar sih.” Natasha menyibakkan rambutnya kemudian membenahi rok selututnya yang agak miring setelah dipakai untuk mengendarai motor.
Dua orang itu bergegas masuk ke dalam area kafe. Memasuki area dalam kafe, Medina dan Natasha sempat disapa oleh pelayan kafe, namun keduanya melambaikan tangan.
Kafe ini terdiri dari area outdoor dan indoor. Ketika turun dari kendaraan yang sudah terparkir maka otomatis pengunjung sudah berada di depan kafe. Area depan dan samping adalah area indoor. Resepsionist table ada di area ini.
Dinding-dinding kafe dihiasi oleh beberapa pajangan yang mengutip quote beberapa tokoh terkenal di dunia. Quote mengenai kehidupan dan kopi. Juga beberapa pajangan barang-barang antik yang menambah suasana vintage menjadi semakin terasa.
Area outdoor berada di bagian belakang. Disetting dengan pemandangan taman yang indah. Jika malam hari berada sini akan terasa indah sekali karena dihiasi banyak lampu kuning yang kelap-kelip dan bisa langsung menatap ke langit. Di area inilah, Medina akan mengambil gambar untuk foto endorsenya. Di sana Citra sudah menanti kedatangan Medina dengan secangkir kopi.
“Citra, maaf telat!” Medina agak ngos-ngosan.
“Aduh, Medina! Kamu lama banget sih. Aku abis ini masih ada pemotretan lagi nih di kawinan temen aku. Aku udah ditelponin dari tadi.”
Ya. Seperti yang sudah diduga dari awal. Citra akan mengomel.
“Iya, Citra. Maaf banget!”
Medina menangkupkan kedua tangannya sebagai tanda penyesalan.
“Tadi macet banget. Jadi harus cari jalan tikus dulu.”
Citra menoleh ke arah Natasha, “Pasti gara-gara dia kan!”
Medina baru saja akan membuka mulutnya untuk membela Natasha, tetapi orang itu justru sudah menyasar Citra dengan jawabannya sendiri.
“Iya gara-gara gue. Kenapa lu? Nggak terima?”
Medina memegang tangan Natasha. Memohon agar Natasha mau mengalah.
“Dasar penghambat!” gumam Citra, namun jelas sekali terdengar sampai ke telinga Natasha.
“Nggak usah bisik-bisik lo! Ngomong yang jelas.” Natasha maju tidak terima.
Medina memeluk Natasha dari samping agar ia tidak menyerang Citra.
“Apa lo? Emang iya kan?”
“Udah dong! Jangan berantem. Kita kan disini mau kerja!” Medina meninggikan nada bicaranya.
Beberapa pengunjung sudah mulai melihat ke arah mereka. Membuat khawatir Medina kalau saja ada yang mengambil gambar mereka dan menjadikannya viral. Akan sangat tidak lucu.
“Kalau elu bukan temennya Medina. Udah gue remas mulut lo!”
Citra menatap sinis ke arah Natasha.
Natasha menghela napas seolah ingin mengeluarkan rasa sebalnya bersama dengan hembusan napasnya. Natasha segera membantu merapikan dandanan Medina.
Tema make up kali ini memang agak bold. Fashion yang dikenakannya adalah sweater tebal berwarna merah. Ripped jeans berwarna navy. Sepatu sneakers putih. Masing-masing fashion yang digunakan adalah endorse dari 3 store yang berbeda.
Medina sudah siap dengan posenya yang kemudian diambil dalam bentuk gambar oleh kamera Citra. Beberapa jepretan sudah diambil. Biasanya setelah selesai diambil gambar, Citra akan mengedit lebih dahulu untuk kemudian bisa diposting oleh Medina di social media. Selesai pengambilan beberapa gambar, Citra mengemasi kameranya sambil menjanjikan bahwa ia akan segera mengirimkan hasil fotonya.
"Aku mau ke salon saja kalau begitu.” Natasha berucap ketika Medina memberitahu bahwa Medina akan bertemu dengan Bram.
Tanpa menunggu jawaban dari Medina, tangan Natasha sudah dengan cepat menyambar tasnya di meja. Agar ia bisa segera pergi sebelum Bram datang.
Ya, begitulah Natasha. Ia sangat tidak suka dengan dua orang terdekat Medina. Bram dan Citra. Natasha selalu bilang kalau Citra itu tidak cocok untuk menjadi sahabat maupun partner kerjanya. Bram juga tidak cocok menjadi pacarnya. Entah apa alasan pastinya. Ketika ditanyakan oleh Medina, Natasha tidak pernah mau memberikan alasan.
Sementara dari sisi Citra dan Bram, mereka juga kompak tidak menyukai Natasha. Tetapi bagaimanapun Natasha adalah sahabat baik Medina. Ia banyak berjasa untuk Medina. Lebih dari setengah perjalanan sebagai selebgram seperti saat ini, Natasha berperan banyak di dalamnya.
“Hei, kok ngelamun?”
Sentuhan lembut terasa di bahu Medina. Ia menoleh untuk tahu siapa yang datang.
Bram. Ia datang dengan senyuman lembut. Laki-laki yang berpenampilan sangat modis dan perawakannya model banget, itu sudah datang.
“Yuk. Ke studio foto sekarang?”
Medina mengangguk.
Seperti yang sudah dijadwalkan Medina akan melakukan pemotretan bersama dengan Bram kemudian akan bertemu dengan produser untuk membahas proyek film mereka.
***