Derap langkah yang terdengar mendekatinya membuat Rani mengangkat kepala. Air mata sedari tadi jatuh membasahi wajah cantiknya. Ingatan bahwa dia pernah merasakan perasaan takut seperti ini saat Deeva divonis mengidap kanker darah enam tahun yang lalu membuat perasaanya tak karuan. Dengan cepat, dia berdiri dan merasakan pelukan Alfian yang kini melingkupi tubuhnya untuk memberikan ketenangan. “Tadi… Bianca…” ucap Rani tersendat membuat Alfian semakin mengeratkan pelukannya. “Ssttt… Bianca nggak bakalan apa-apa. Percaya sama aku,” jawab Alfian menghentikan ucapannya. Rani terdiam merasakan getaran dari suara Alfian. Dia tau suaminya itu mencoba untuk tegar. Mereka duduk bersama. Rani menghentikan tangis lalu menatap ke arah suaminya yang menatap langit-langit. Tangannya terlihat meremas

