Bab 5: Retakan Pertama

1453 Words
POV : Hara Supermarket Kemang Village pada hari Selasa sore biasanya sepi, tapi hari ini terasa seperti labirin yang berputar-putar tanpa ujung. Aku berdiri di lorong perawatan tubuh, menatap deretan botol shampo dengan mata kosong, seperti turis yang tersesat di negara asing tanpa bisa membaca petunjuk arah. Ada daftar belanja di tanganku—tulisan Reo yang rapi—tapi huruf-hurufnya seolah menari-nari di atas kertas. Shampo, sabun mandi, pasta gigi. Kata-kata yang sudah kukenal sejak kecil tiba-tiba terasa asing, seperti bahasa yang pernah kupelajari tapi sudah lama tidak digunakan. Berapa lama aku sudah berdiri di sini? Seorang ibu dengan anak balita melewatiku, si anak menatapku dengan mata besar yang penasaran. Ibunya cepat-cepat menarik anaknya menjauh, tapi aku masih bisa mendengar bisikannya: "Jangan natap-natap orang, sayang." Aku tersenyum, berusaha terlihat normal, meski dalam hati bertanya-tanya apa yang mereka lihat dariku hingga perlu dihindari. Shampo untuk rambut berminyak, shampo untuk rambut kering, shampo anti ketombe. Mengapa ada begitu banyak pilihan? Dulu aku selalu mengambil yang sama—yang botol biru dengan tulisan putih. Tapi sekarang semua botol terlihat sama. Biru yang mana? Tulisan putih yang mana? Jantungku mulai berdetak lebih cepat. Ini shampo, bukan soal hidup mati. Kenapa aku tidak bisa memutuskan hal sesederhana ini? "Hara?" Suara Reo membuyarkan lamunanku. Ia berdiri di ujung lorong dengan keranjang belanja di tangan, alisnya berkerut khawatir. Berjalan mendekatiku dengan langkah hati-hati, seperti mendekati binatang liar yang bisa lari kapan saja. "Sayang, kamu kenapa? Aku cari kamu tadi." "Aku..." Aku menatap daftar belanja di tanganku, kemudian ke rak shampo. "Aku lupa shampo yang biasa kita pakai." "Yang botol biru, yang ini." Reo mengambil satu botol dan menunjukkannya padaku. Botol yang sama yang sudah kami beli berbulan-bulan, yang ada di kamar mandi kami setiap hari. "Kamu oke?" Tidak. Aku tidak oke. Tapi bagaimana cara menjelaskan bahwa otakku terasa seperti radio yang sinyal-nya tidak stabil? Kadang jernih, kadang penuh static, kadang sama sekali tidak menangkap siaran apapun. "Berapa lama aku berdiri di sini?" Reo menghela napas perlahan. "Sepuluh menit. Aku lihat kamu dari ujung lorong tadi, tapi kupikir kamu sedang membandingkan produk." Sepuluh menit. Sepuluh menit aku berdiri seperti orang linglung di tengah supermarket, menatapi shampo seperti sedang memecahkan teka-teki filosofis. Tawa getir keluar dari mulutku. "Ini terlalu cepat, Reo." "Tidak apa-apa. Ini normal—" "Normal?" Aku berbalik menghadapnya, suaraku lebih keras dari yang kuinginkan. Beberapa orang menoleh, tapi aku tidak peduli lagi. "Normal buat siapa? Buat penderita Alzheimer? Buat orang yang otaknya mulai meleleh seperti es krim di bawah matahari?" "Hara, pelan-pelan. Kita pulang dulu, ya?" Tapi aku sudah terlanjur larut dalam spiral panik. Daftar belanja jatuh dari tanganku, kertas putih melayang ke lantai yang dingin. Tanganku bergetar ketika berusaha mengambilnya, tapi jari-jariku tidak mau menurut. Koordinasi sederhana yang selalu kuanggap remeh tiba-tiba terasa seperti tugas yang mustahil. Reo berlutut, mengambil kertas itu untukku. Ketika berdiri lagi, matanya basah meski ia berusaha tersenyum. "Ayo pulang. Kita bisa beli ini lain kali." Di perjalanan pulang, aku duduk diam di kursi penumpang, menatapi jalanan Jakarta yang macet tanpa benar-benar melihat. Reo sesekali melirikku, tangannya yang bebas beberapa kali hampir meraih tanganku tapi kemudian ditarik kembali. Ia tahu aku sedang tidak ingin disentuh, tidak ingin ditenangkan dengan sentuhan fisik. Yang aku inginkan adalah mundur waktu. Kembali ke tiga minggu lalu ketika shampo masih terlihat seperti shampo, bukan hieroglif yang tak terpecahkan. Di apartemen, Reo langsung menyalakan kamera—reflek yang sudah menjadi kebiasaan kami. Hari ke-23, seharusnya hari biasa untuk dokumentasi cinta kami. Tapi tidak ada yang biasa dari hari ini. "Aku tidak mau direkam," kataku sambil langsung menuju kamar tidur. "Hara, tunggu." "Aku bilang tidak mau direkam!" Tapi Reo tidak mematikan kamera. Ia mengikutiku ke kamar, lensa masih menghadap ke arahku. Mungkin secara profesional—kalau ini benar-benar film dokumenter—ini adalah momen yang harus diabadikan. Momen ketika penyakit mulai menunjukkan taringnya. "Kenapa kamu masih rekam?" Suaraku pecah. "Karena ini bagian dari cerita kita juga." "Bagian yang jelek?" "Bagian yang nyata." Aku jatuh duduk di tepi tempat tidur, tangan menutupi wajah. Air mata mulai mengalir tanpa izin, membasahi telapak tangan yang bergetar. Tangis yang sudah kutahan sejak di supermarket akhirnya pecah, mengalir deras seperti bendungan yang jebol. "Ini terlalu cepat, Reo." Suaraku teredam oleh telapak tangan. "Ini terlalu cepat. Harusnya aku masih punya waktu. Harusnya aku masih bisa ingat hal-hal sederhana seperti shampo, seperti jalan pulang, seperti..." "Seperti apa?" "Seperti percakapan kita tadi pagi." Keheningan. Reo meletakkan kamera di meja rias, kemudian duduk di sampingku. Jarak yang cukup dekat untuk memberikan kehadiran, tapi tidak terlalu dekat hingga terasa menekan. "Percakapan apa?" tanyanya pelan. "Entahlah. Aku ingat kita bicara tentang sesuatu waktu sarapan, tapi... aku tidak ingat tentang apa. Apakah itu penting? Apakah aku melewatkan sesuatu yang penting?" Reo diam sejenak, dan di keheningan itu aku bisa merasakan dia sedang memutuskan seberapa jujur ia akan menjawab. "Kita bicara tentang mau makan apa untuk makan malam. Kamu bilang ingin masak sup kimchi, aku bilang kita tidak punya kimchi. Kamu tertawa dan bilang kita bisa beli di supermarket." Jeda. "Makanya kita pergi ke supermarket tadi." Sup kimchi. Percakapan sepele tentang makan malam. Tapi bagiku, kehilangan memori tentang hal sekecil itu terasa seperti kehilangan sepotong jiwa. "Bagaimana kalau suatu hari aku lupa percakapan penting? Bagaimana kalau aku lupa saat kamu melamarku? Bagaimana kalau aku lupa hari pernikahan kita?" "Maka aku akan menceritakannya lagi. Berkali-kali kalau perlu." "Tapi itu tidak sama, kan? Cerita ulang tidak sama dengan ingatan asli." Reo menghela napas, tangannya bergerak pelan mengelus rambutku. "Tidak sama. Tapi tetap indah. Seperti... seperti membaca ulang buku favorit. Meski kamu sudah tahu endingnya, tetap ada keajaiban di setiap halaman." Aku mengangkat kepala, menatapnya melalui air mata yang membiaskan cahaya. "Kamu tidak marah karena harus menjadi perpustakaan hidupku?" "Marah?" Ia tersenyum, senyum yang penuh dengan kesedihan dan cinta sekaligus. "Hara, aku merasa terhormat." Malam harinya, setelah aku tertidur dengan bantuan obat penenang yang diresepkan dokter, Reo duduk sendirian di ruang tamu dengan laptop terbuka. Kamera sudah dimatikan, tapi laptop menampilkan folder video kami—file demi file yang menyimpan memori bahagia tiga minggu terakhir. Aku tidak tidur sepenuhnya. Seperti tidur di pesawat—sadar tapi tidak terjaga, mengambang di antara mimpi dan kenyataan. Dari posisiku di tempat tidur, aku bisa melihat punggung Reo yang tegang, cahaya layar laptop menerangi wajahnya yang fokus. Ia sedang menonton video kami dari hari pertama. Video dimana kami masih canggung dengan kamera, masih tertawa karena tidak tahu harus bicara apa. Video dimana aku masih bisa membuat kopi tanpa berpikir, masih bisa menggambar Reo dengan detail yang sempurna, masih bisa mengingat nama-nama anak didikku tanpa harus melihat catatan. Reo menghentikan video, rewind, kemudian putar lagi. Ada bagian tertentu yang ia tonton berulang-ulang—saat aku sedang menjelaskan kenapa aku suka mengumpulkan daun untuk bookmark. Saat aku bilang bahwa setiap daun menyimpan memori tentang dimana aku ketika membaca buku tertentu. Ironi yang menyakitkan. Ia mengambil buku catatan kecil dari meja, mulai menulis sesuatu dengan tulisan tangan yang rapi. Dari jarak ini aku tidak bisa membaca apa yang ia tulis, tapi aku bisa menebak. Ia sedang membuat catatan tentang perubahan-perubahan kecil yang mulai ia sadari pada diriku. Hari ke-23: Hara bingung di supermarket selama 10 menit. Lupa shampo yang biasa kami pakai. Lupa percakapan tentang makan malam. Catatan: Mata Hara kadang kosong sejenak sebelum kembali fokus. Seperti sedang buffering. Perlu diingat: Jangan biarkan dia pergi sendirian ke tempat yang tidak familiar. Aku menutup mata, pura-pura tidur ketika Reo menoleh ke arah kamar tidur. Tapi air mata tetap mengalir ke bantal, membasahi sarung bantal yang sudah kusut karena aku gelisah sepanjang malam. Dari ruang tamu, aku mendengar suara laptop ditutup, kursi didorong, langkah kaki pelan menuju kamar tidur. Reo masuk dengan hati-hati, berusaha tidak membangunkanku. Ia duduk di tepi tempat tidur, mengamati wajahku dalam gelap. "Aku tahu kamu tidak tidur," bisiknya. Aku membuka mata. Dalam kegelapan, wajah Reo terlihat seperti bayangan—familiar tapi tidak sepenuhnya solid. Seperti lukisan yang mulai memudar. "Aku takut tidur," aku. "Takut bangun besok dan ada lagi yang hilang." "Kalau ada yang hilang, kita akan cari bersama." "Bagaimana kalau yang hilang adalah aku? Bagaimana kalau suatu hari aku bangun dan tidak tahu lagi siapa Hara?" Reo berbaring di sampingku, tubuhnya hangat di atas selimut dingin. "Maka aku akan mengenalkanmu pada dirimu sendiri. Setiap hari kalau perlu." "Berjanji?" "Berjanji." Tapi di kegelapan kamar itu, kami berdua tahu bahwa ada janji-janji yang tidak bisa ditepati hanya dengan keinginan kuat. Ada hal-hal yang berada di luar kendali cinta, di luar kendali kesetiaan, di luar kendali janji-janji yang diucapkan dengan tulus di tengah malam. Retakan pertama sudah muncul. Dan seperti retakan di kaca, ia akan terus menyebar, tidak peduli seberapa hati-hati kami memperlakukannya. Yang bisa kami lakukan hanyalah berharap kaca itu bertahan cukup lama untuk menampung semua cinta yang masih ingin kami bagikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD