Part 8. Tak sengaja Bertemu

1141 Words
POV Andre Aku dan Medina sekarang berada di sebuah cafe untuk menikmati makan siang, ini entah kali keberapa aku makan bersama Medina, tertawa bersama dan membahas hal hal yang terkadang tidak penting, entah mengapa semakin lama aku semakin nyaman berdekatan dengan Medina. "Jadi si Andin seperti ondel ondel pagi ini?" tanya Medina di sela tertawa kami yang menggelegar, beberapa pengunjung kafe melirik kearah kami tetapi kami tidak peduli akan hal itu. "hahahaha aku sebenarnya masih marah kepada Andin tetapi aku tidak bisa menahan diriku untuk tertawa ketika melihat wajahnya yang putih karena bedak dan bibir yang merah merona, kamu bisa bayangin deh" "Kamu ada ada aja mas, bisa bisanya kamu menghina istri sendiri, nyatanya setiap malam kamu tidur juga dengannya" Medina mengerucutkan bibirnya saat Andre menceritakan prihal Andin. Andre terdiam menatap wajah Medina, tubuhnya sedikit di condongkan kedepan tangannya menyentuh dagu Medina "kamu cemburu?" Medina menepis tangan Andre "buat apa aku cemburu, kamu itu suami orang" Medina menjauhkan sedikit wajahnya dari hadapan Andre. "Tapi sekarang aku adalah miliku" dengan beraninya aku menggenggam tangan Medina, menatap matanya yang bulat dan indah memberikan senyuman termanis untuk meyakinkan ucapanku. "Tetapi kita sama sama terikat mas, aku tidak akan bisa memiliki dirimu sepenuhnya" "Ikatan tidak menghalangi kamu memilikiku seutuhnya" obrolan kami semakin dalam dan penuh makna. "Kamu menyukaiku mas?" "Lebih dari sekedar suka, aku bahkan mengagumimu hingga Tampa sadar tidak pernah sedetikpun aku tidak memikirkanmu dan aku menyimpulkan aku telah jatuh cinta kepadamu Medina, maafkan aku telah mengungkapkan perasaan ku secara nyata, jika kau tidak nyaman kau bisa melupakan semua ucapanku" sengaja aku mengungkapkan semua rasa di dalam hati ini, aku tidak ingin hubunganku dan Medina abu abu, hanya sebatas teman atau apapun itu, aku menginginkan hubungan yang jelas kepada istri orang yang ku genggam tangannya saat ini. "Bagaimana mungkin aku melupakan ucapan cintamu mas, ucapan yang selama ini ku nanti nantikan, bahkan rasaku melebihi apa yang kamu rasakan mas, aku bahkan mengagumimu sejak pertama melihat mu" mata Medina berkaca kaca, aku bisa merasakan getaran getaran cinta yang ada di antara kami, getaran cinta antara insan yang telah memiliki pasangan. "Berdosakah kita karena cinta yang hadir?" tanyaku kepada Medina dengan suara pelan. Medina menggelengkan kepala "tidak ada orang berdosa karena cinta mas" Aku tersenyum, mungkin ada beberapa pasang mata menatap kepada kami, dan Tampa sengaja aku melihat sepasang mata milik istriku juga menatap aku dan Medina, segera aku melepaskan tangan Medina yang berada di dalam genggamanku. "Kenapa mas?" tanya Medina kaget karena aku melepaskan tangannya secara cepat. "Qda Andin di sini." jawabku sepelan mungkin, napas Medina berhembus kasar lalu menyandarkan punggungnya kesadaran kursi. Seperti bisa membaca otakku Andin berjalan mendekatiku, jantungku sepertinya berpacu dengan cepat berdetak mengikuti langkah kaki andin, aku terus mengikuti tubuh Andin yang bergerak menuju kearah kami, wajahnya merah dan matanya berkilat menandakan Andin sedang dalam keadaan marah. Habislah aku, aku sudah tertangkap basah telah berselingkuh dengan tetanggaku dan Andin pasti akan melabrak kami, menampar wajahku kiri dan kanan serta menjambak rambut Medina yang indah, aku dan Medina pasti akan di permalukan disini dan kami pasti akan di pecat dari pekerjaan kami mengingat aku dan Medina adalah abdi negara dan masih memakai seragam. Habislah aku, Habislah aku. "Hai mas, kamu makan siang disini?" sapa andin ramah. "I-iya.. Andin" aku sedikit canggung menjawab pertanyaan Andin yang sederhana. "Hai mbak Medina, mbak di sini juga?" Mendapat pertanyaan dari Andin Medina menoleh kepadaku lalu mengalihkan pandangannya kepada Andin kemudian tersenyum dan mengangguk canggung. "Kebetulan mas kita bertemu disini, aku lupa bawa dompet, kamu bisa kan tolong aku bayar tagihan makan kami" Andin kembali memberikan senyuman di wajahnya, sepertinya Andin tidak curiga kepada kami, aku bersyukur Tuhan menyelamatkan aku. "B-baik-lah! " aku masih gagap saat berbicara dengan Andin karena aku masih merasakan gugup. "Kamu kenapa terlihat gugup mas? apa kamu keberatan?" tanya Andin. "Tidak. aku akan membayar tagihannya, dimeja nomor berapa?" aku berusaha bersikap sesantai mungkin. "Itu! meja nomor 4" tunjuk Andin kearah depan, aku mengikuti arah telunjuk Andin. "Ada mereka juga di sini?" tanyaku saat melihat ketiga anakku yang sedang bersenda gurau di temani oleh seorang wanita cantik. "Seharusnya kamu menyadarinya dari tadi mas. tapi mungkin karena obrolan kamu dan mbak Medina begitu asyik kamu mengabaikannya." Deg, jantungku kembali terasa heboh, Andin sedang menyinggungku! "Mas. kok bengong sih?" Andin menepuk bahuku membuat aku sedikit kaget. "Eh iya maaf" "Kamu tidak mau menyapa anak anak?" tanya Andin yang seperti sebuah perintah buatku, dalam keadaan parnoan seperti ini aku tidak bisa mengatakan tidak. "Mau, aku mau" kini mataku kualihkan pada Medina yang masih terpaku menatap dan mendengarkan obrolan aku beserta istriku. "Ayo!" Andin menarik pergelangan tanganku untuk berdiri. "Medina eh... maksudku mbak Medina bagaimana???" aku tidak ingin mengabaikan Medina, meninggalkan dirinya sendiri. "Kalian kesini tidak bareng kan? hanya kebetulan bukan? mbak Medina bisa pulang sendiri, lagi pula tempat kerja kalian bukankah berbeda arah?" Andin begitu mudah menyimpulkan bagaimana aku dan Medina bisa sampai di cafe ini, padahal aku yang menjemput Medina untuk makan siang di sini. tetapi prasangka Andin membuatku sedikit lega, berarti Andin tidak berpikiran buruk tentang aku dan Medina. "Oke oke aku juga sangat rindu dengan mereka, belum sempat ngajak jalan jalan dan makan di luar" aku harus bisa membuat Andin lebih percaya jika keberadaan aku dan Medina di sini hanya sebatas bertemu karena kebetulan. "Sampai jumpa mbak Medina.. assalamu'alaikum" ucap Andin sambil menyeret tanganku menuju keberadaan anak anakku, aku hanya mampu memandang Medina dan memberikan bahasa isyarat lewat mata minta maaf telah meninggalkannya sendiri. "Hore ada ayah!." Faiz menyambutku girang, wajahnya tampak bersemangat dengan kehadiranku. "Ayah, duduk sini" Abi putra keduaku menepuk kursi kosong yang ada di sebelahnya. Aku tersenyum memandangi wajah polos anak anakku. "Kalian makan apa? kayaknya enak sekali?" tanyaku kepada mereka yang sedang menyantap makan siang, dzaki masih menggunakan seragam TK begitupun dengan Abi yang masih menggunakan seragam paud, itu menandakan mereka dari sekolah tidak pulang kerumah tetapi langsung kesini. "Ayam pop ayah, disini enak sekali ayam popnya" jawab Faiz sambil mengunyah. "Nanti setelah makan antar kami pulang ya mas" Andin menyela pembicaraan kami. "Lho, emangnya kalian kesini menggunakan apa?" kini pandanganku tertuju pada Andin. "Aku ikut Jessi mas, perkenalkan dia ini temanku sewaktu sekolah" Wanita yang duduk di sebelah Andin membuatku menelan Saliva, dia sangat sexy, wajahnya yang cukup sensual dengan mata sayu, hidung Bangir dan bibir bervolume dengan warna pink muda. Aku sungguh tertegun melihatnya, jika Medina adalah angka 11 maka wanita yang duduk di samping Andin adalah angka 12. "Hai Jessi" yah wanita yang membuatku tertegun menyodorkan tangannya yang jenjang kehadapanku. "Andre.." Kini pandanganku beralih pada Andin, wajahnya tidak ada lagi riasan menor yang di gunakanya pagi tadi, tapi tetap saja pemandangan dua wanita yang ada di depanku ini bagaikan bumi dan lagit. Tuhan! kenapa baru membuka mataku sekarang! kenapa dulu aku melihat Andin begitu cantik diantara wanita lain!. apakah kau menutup mataku selama ini, hingga aku memiliki anak yang banyak dari wanita yang tidak enak di pandang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD