Part 12. Restu Ibu

1026 Words
POV Andre Aku tidak sedang pura pura, menjelang pagi demam tiba tiba saja menyerang, tubuhku panas tetapi perasaanku sangat dingin aku menggigil. "Kamu tetap di sini ya." Medina sudah mulai bersiap untuk pergi. "Aku butuh obat" ucapku pelan. "Aku cari sarapan dan langsung belikan kamu obat" Medina mengelus wajahku lalu mencium dahiku, wangi tubuhnya hampir memenuhi ruangan. "Jangan lama lama baby!" seruku, di balas dengan lambaian tangan dari Medina saat dia sudah menutup pintu kamar. Sepeninggalan Medina aku berusaha memejamkan mata untuk tidur sejenak, mengistirahatkan tubuhku yang lelah dan kepalaku yang pusing karena kurang tidur. *** Pukul 10.30 pagi menjelang siang, aku terbangun karena dingin yang kurasakan semakin menjadi, tubuhku menggigil Hebat. kalau aku terus berada disini aku pasti akan mati jadi kuputuskan untuk pulang kerumah karena sebentar lagi Andin pasti pulang dia bisa mengurusku. Kupaksakan kaki melangkah meskipun lututku bergetar kemudian memantau keadaan di luar rumah, aku tidak ingin siapapun melihatku keluar dari rumah Medina pasti aku akan di curigai. Untung saja keadaan sekitar rumah sepi mempermudah langkahku untuk pulang kerumah, tubuhku yang lemah langsung aku baringkan di tempat tidur, tidak lama kemudian aku mendengar pintu utama kami di buka dan dapat kupastikan Andin sudah pulang. Melihat kondisiku Andin langsung panik, aku tau itu, andin segera mengompres, memberiku sedikit makan dan memaksaku minum obat, setelah itu membiarkan aku tidur. "Mas." suara Andin kembali membangunkanku. "Hmmmmm." "Bangun, sudah sore, kamu makan dulu" Aku membuka mata, tubuhku tidak menggil lagi, badanpun sudah kembali ke suhu normal. "Dimana ponselku?" aku bersandar pada tempat tidur sambil mencari ponselku yang ku letak di atas nakas. "Aku pinjam tadi, buat nelpon ibu kamu" Andin menunjuk pada ponselku yang sedang di charging. "Apa? menelpon ibu? kenapa tidak izin dulu?" aku langsung panik, pasti Andin telah memeriksa ponselku. "Kamu sedang tidur mas." "Tapi kamu tidak boleh menyentuh barang pribadiku andin" aku kembali membentak Andin dengan cukup keras, sebagain bentuk peringatan. "Kenapa mas? kamu takut ketahuan telah selingkuh karena aku memeriksa ponsel milikmu?" Deg, jantungku terasa berhenti berdenyut mendengar ucapan Andin. "Hahaha." Andin lalu tertawa, membuat rasa takutku bertambah. "Wajah kamu berubah jadi pucat lho mas, kamu beneran selingkuh?" Andin bertanya seolah olah dia tidak mengetahui apapun, Andin benar benar tidak bisa di baca membuat aku bingung untuk bersikap seperti apa. "Andin, ibu masuk ya." suara ibuku tiba tiba terdengar di depan pintu kamar. "Ibu?" aku meminta jawaban kepada Andin. "Sudah ku bilang aku yang telpon" jawab Andin tenang. "Hei, sudah bangun nak? gimana perasaan kamu? sudah enakan?" Aku mengangguk. "Kamu habis ngapain sih sampai demam hah? ibu lihat banyak tanda merah merah pada leher kamu dan d**a kamu?" ucapan ibu membuatku langsung meraba bahagian leher dan dadaku, baru ku sadar bajuku telah berganti. "Aa-aku habis eh, anu" "Sudahlah jangan ngeles kamu Andre, kamu habis gitu gituan kan sama istri kamu" goda ibuku yang sama sekali tidak lucu menurutku. "Ibu, mas Andre jangan di goda, lihat tu dia jadi malu" sela Andin. "Makanya, kamu kalau mau gitu gituan sama suami lihat kondisi fisik suami kamu dulu donk, lihat Andre sampai sakit begini" ibu bicara apa lagi, setiap ibu bicara pasti Andin memandangku seolah ingin membaca raut wajahku yang memang seperti orang ketakutan. "Udah, udah Bu! Bicaranya jangan ngelantur, aku sedang pusing!" aku mencoba mencari alasan agar ibu dan Andin berhenti berbicara padaku. "Keterlaluan kamu Andre, orang tua ngomong kok di bilang ngelantur" ibu tidak terima dengan ucapan ku lalu meninggalkan aku dan Andin dikamar. Kini giliran Andin yang mendekatiku, setiap langkah Andin bagaikan sakaratul maut bagiku, tubuhku yang sudah mulai normal berangsur dingin kembali, Andin sepertinya ingin mengucapkan sesuatu padaku tetapi aku sangat takut, jantungku berdebar tidak karuan menunggu kalimat yang akan Andin keluarkan dari mulutnya. "Mas! jangan lupa buburnya di makan, setelah itu minum obat ya." ucap Andin lembut penuh perhatian. Setelah Andin keluar dari kamar aku bisa bernafas lega walaupun aku masih sangat bingung dengan apa yang telah terjadi, aku hanya berpikir Andin adalah wanita bodoh yang tidak bisa memahami sesuatu secara cepat, buktinya sudah secara jelas aku selingkuh dan dia bisa saja memeriksa seluruh isi ponselku saat tidur tapi dia tidak melakukannya, dasar wanita bodoh! Awal mulanya aku sangat takut ketahuan tetapi kedepannya aku tidak akan takut lagi, karena Andin adalah wanita yang mudah di kelabui. Ibu, ya ibu, untuk apa Andin memanggil ibu? bukankah ini kesempatan bagus, aku akan berbicara kepada ibu untuk merestui hubunganku dengan Medina, ibu pasti setuju. "Ibu, kenapa ibu datang kesini mendadak?" aku menemui ibu yang sedang duduk di teras rumah. "Lho! kata istrimu kamu yang minta ibu datang" "Aku memang ingin mengatakan sesuatu pada ibu." "Katakan saja!" "Aku ingin menikah lagi." aku menggenggam tangan ibu meminta restu. "Tunggu dulu, kamu mau menikah lagi? hahahaha, jangan ngigau kamu Andre, punya istri satu aja gak keurus gitu" sindir ibu sambil menarik tangannya dari genggamanku. "Kalau Andin tidak terurus bukan salah aku, itu salahnya sendiri tidak mau ngurus diri" aku membela diriku. "Emangnya kenapa mau menikah lagi? Andin anak orang kaya, bagian warisannya pasti banyak, kamu menyesal kalau menikah lagi" "Bukan Andin yang kaya Bu, tapi orang tuanya malahan hingga sekarang aku tidak dapat apa apa, makin kesini ibu Andin semakin membenciku" aku berbicara apa adanya pada ibu, karena selama ini aku menutupi hal yang sebenarnya dari ibu namun demi sebuah restu untuk menikah lagi aku putuskan untuk mengatakan yang sesungguhnya, aku tau setelah ini ibu yang semulanya sangat menyayangi Andin pasti akan berbalik membenci Andin sama seperti yang di lakukan oleh ibunya Andin. "Jadi Andin tidak dapat apa-apa? orangtuanya sama sekali tidak memberinya apapun?" ibu bertanya dengan antusias. Aku mengangguk. "Kecuali rumah ini" aku menjawab jujur. "Cih, percuma Andin melahirkan banyak anak laki laki tapi tidak mendapatkan apapun dari orangtuanya" umpat ibu kesal, aku tau setelah ini Andin pasti akan menjadi bulan bulanan ibu. "Jadi gimana Bu? boleh aku menikah lagi? ibu pasti akan setuju jika melihat wanita yang akan aku nikahi" Ibu diam, sepertinya dia sedang memikirkan ucapanku. "Terserah kamu, yang penting ibu tidak mau jatah bulanan ibu jadi berkurang gara gara kamu menikah lagi" ucap ibu ketus sambil berlalu sepertinya dia akan langsung menemui Andin dan aku tidak tau apa yang akan di bicarakannya pada menantu kesayangannya itu, yang jelas restu dari ibu sudah kudapatkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD