Terlihat seorang gadis yang tengah mengerjapkan matanya. Gadis bermata fanta itu mulai menatap ke sekitarnya yang terasa tak asing. Beberapa waktu kesadaran nya mulai pulih.
"Bukannya ini kamarku dulu?" Monolog gadis yang tak lain adalah Gwen itu pada dirinya sendiri.
Kamar yang lusuh, namun bersih karna Nana selalu membersihkannya. Matanya membelalak kaget kala tak sengaja menatap kaca, disitu terlihat tubuh mungil yang di baluti dress pink. Ini adalah gaun yang selalu dia kenakan dulu.
"Astaga! Apa aku hidup kembali?" Pekik Gwen.
Seketika pintu terbuka menampilkan sosok wanita muda yang sangat Gwen rindukan, Nana. Nana berlari menuju Gwen, wajahnya terlihat khawatir.
"Astaga nona, apa nona baik-baik saja?" tanya Nana sedikit panik.
Gwen terpaku, tanpa sadar airmata meluncur dari pelupuk matanya. Gwen sangat merindukan Nana.
"Nanaaa!" Gwen menghambur ke dalam pelukan Nana. Gadis muda ini sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.
Nana sedikit terkejut namun tetap membalas pelukan Gwen. "Tenang nona, saya disini."
"Aku sangat merindukanmu Nana!" Ujar Gwen di sela tangisnya.
"Kita hanya tidak bertemu selama satu hari nona dan nona sudah merindukan saya? Nona lucu sekali." Kekeh Nana.
Gwen ikut terkekeh.
'Andai kau tau Nana, aku ini adalah jiwa baru. Aku hidup kembali." Batin Gwen.
"Nona, sebaiknya sekarang nona bersiap karna yang mulia Valeno akan datang kemari." Ucapan Nana membuat Gwen sedikit kaget.
"Ayah? Mengapa dia datang kesini?" tanya Gwen namun hanya di balas senyum manis oleh Nana.
"Saya permisi nona." Nana lalu keluar dari kamar Gwen.
Gwen berlari menuju jendela kamarnya, ini pemandangan yang sama saat- oh astaga!
"Ini adalah waktu dimana ayah akan menjodohkan ku dengan Leon!" Pekik Gwen.
Memikirkan Leon membuat ingatan malam itu kembali lagi, Leon dan gadis itu.
"Apa sekarang aku di beri kesempatan untuk merubah takdir?" Monolog Gwen.
Gadis itu lalu tersenyum manis, "Baiklah, akan ku lakukan." Riang nya selayaknya anak umur 7 tahun.
Tak lama pintu terbuka menampilkan sosok berperawakan tinggi dengan wajah datar namun tegas, Valeno.
"Siapkan barangmu, karna kamu akan segera pergi dari sini." Valeno tak ingin basa basi.
Gwen menatap sendu ke arah ayahnya, jujur saja Gwen merindukan sosok pria di depannya ini, namun sikap ayahnya yang seperti ini mulai membuat sisi kemanusiaan Gwen terasa sedikit membeku.
"Baik." Hanya itu yang Gwen ucapkan, gadis itu lalu berjalan menuju lemari dan mengemasi barangnya.
Valeno sedikit terkejut dengan jawaban Gwen namun setelahnya dia tersenyum sinis dan berlalu pergi.
____
Hari yang ditunggu telah tiba, hari pernikahannya. Rasanya Gwen tak sabar untuk bertemu dengan Leon. Gwen berjanji akan memperbaiki semuanya, Gwen akan membawa kebahagiaan untuk mereka berdua.
Upacara pernikahan antara Gwen dan Leon akan berlangsung. Wajah Gwen di tutup dengan veil.
Upacara berlangsung khidmat, setelah upacara pernikahan selesai, Gwen langsung diantar oleh Nana menuju kereta kuda yang telah di siapkan oleh Antoni.
Yang ditunggu oleh Gwen akhirnya tiba, Leon masuk ke dalam kereta kuda. Wajah nya masih sama, imut dan juga tampan seperti dulu.
Mereka saling tatap, jika dulu Gwen akan mengalihkan pandangannya maka sekarang Gwen tersenyum manis pada Leon membuat pipi laki-laki kecil itu semakin bersemu merah.
"Haloo suami!" Pekik Gwen sambil tersenyum manis.
Leon sedikit tersentak namun akhirnya tersenyum canggung, "S-suami?" beonya.
Gwen mengangguk antusias sambil tersenyum, "Ya, tentu saja. Kita sudah menikah, aku istri dan kamu suami!" Ujar Gwen.
Lagi-lagi pipi chubby itu bersemu merah, Leon tak mampu menyembunyikan senyum manisnya.
"B-baik istri." Jawab Leon malu-malu.
Argh! rasanya Gwen ingin sekali menggigit pipi chubby itu. Mengapa Gwen tidak mendekati Leon dari dulu? Padahal suaminya ini sangat menggemaskan.
Gwen dan Leon sebenarnya memiliki kesamaan, mereka sama-sama tak diinginkan.
Jika Gwen di benci karna tompel kecil di pelipis nya, maka Leon di benci karna memiliki wajah imut dan memiliki sifat cengeng dan juga di manja oleh ibunya. Sangat sepele.
"Leon, apa kamu pernah merasa jatuh cinta?" tanya Gwen.
Leon mengerjapkan mata lucu, lalu mengetuk-ngetuk hidungnya dengan jari telunjuk, tampak berpikir.
"Apa itu jatuh cinta?"
"Nana bilang, jatuh cinta itu seperti sinyal yang akan di rasakan oleh tubuh." jawab Gwen seadanya. Hei, meskipun sudah hidup selama 20 tahun, Gwen itu suka mengurung diri di kastil, kerjaannya hanya melukis dan berlatih memanah, hanya itu.
"Sinyal?" Beo Leon. Laki-laki kecil itu kembali tampak berpikir.
"Oh aku tahu! Sekarang aku merasakan sedikit sakit di perutku, bukankah itu artinya aku jatuh cinta?" Ujar Leon polos.
Gwen lalu mengangguk antusias. "Ya, mungkin kamu benar. Aku juga merasa kepala ku sedikit pusing, itu artinya aku juga sedang jatuh cinta." ujar Gwen lalu tersenyum.
Keduanya sama-sama memegang puncak sakit yang mereka rasa, lalu saling pandang dan tersipu malu.
"Aku jatuh cinta pada mu."
"Aku juga." Balas Leon.
Awal yang sempurna untuk pertemuan mereka, Gwen akan selalu berusaha untuk membangun kerajaan kebahagiaan mereka sendiri walaupun mungkin mereka di benci banyak orang, Gwen tidak peduli. Selama Leon bersamanya, Gwen akan kuat.
Sibuk bercerita, keduanya mulai terlelap. Perjalanan menuju kastil baru itu bisa di bilang sangat jauh, membutuhkan waktu sekitar sehari bahkan lebih.