“Maukah menjadi temanku seumur hidup?”
Lamaran itu tentu saja membuat Sabrina Azzahra terdiam. Pria yang berdiri di depannya ini adalah seorang karyawannya. Tentu saja Sabrina bingung. Dia menatap sekeliling ruangan tempat dia duduk saat ini, tak menyangka akan dilamar oleh seorang pria yang tak begitu dikenalnya. Setahunya, Febriano Andromeda atau yang lebih akrab disapa Brian itu adalah seorang karyawan bagian administrasi di divisinya. Sedangkan Sabrina sendiri merupakan seorang General Affair atau biasa disebut Manajer bagian umum yang membawahi; staf administrasi, front office, office boy, bagian keamanan, cleaning service, dan supir.
Dalam usianya yang menginjak tiga puluh tahun, Sabrina memang masih lajang. Dia sudah mengambil langkah yang tepat untuk tidak segera menikah. Terlalu lama hidup mandiri, membuatnya tak bisa menerima setiap pria yang menyatakan cinta kepadanya. Padahal dia tahu kalau itu salah. Kedua orangtuanya bahkan sudah mendesaknya untuk menikah, lantaran dirinya sebagai anak tunggal yang sangat diharapkan keturunannya oleh mereka. Tapi Sekali lagi, Sabrina sudah tak mempercayai pria sebagai seorang yang bisa setia mendampingi hidupnya. Berkali-kali patah hati karena jadi korban selingkuh, membuang rasa percaya itu. Bahkan calon suaminya satu tahun yang lalu tega meninggalkannya demi mengejar gadis yang lebih muda dari usianya. Semua itu sudah cukup bagi Sabrina untuk merasakan rasa sakit dan tak ingin mengulang lagi.
Alis Sabrina terangkat, menatap pria yang baru saja meletakkan sebuah cincin di depannya. Brian memang tidak menonjol, bahkan Sabrina tidak akan pernah mengenalnya kalau saja waktu meeting membahas keuangan perusahaan kemarin, Brian tidak maju untuk melakukan presentasi. Harusnya itu tugas Pak Haris sebagai kepala bagian administrasi. Tapi saat itu Pak Haris berhalangan hadir dan digantikan oleh Brian. Pria dengan kacamata minus itu kini menatapnya dengan mantap. Dan Brina tahu, kalau pria ini benar-benar melamarnya.
“Ini masih jam kerja, tak bisakah kita membicarakan ini di waktu lain?” Brina kini menatap jam yang bertengger di atas meja kerjanya. Lalu kembali menatap pria yang masih duduk diam di depannya. Penampilan pria ini memang rapi dan bersih. Dengan kemeja warna biru lautnya, Brina bisa melihat kalau Brian adalah orang yang teratur. Meski wajahnya juga tak bisa dikatakan jelek. Tapi pria ini memiliki karismatik tersendiri. Dengan rambut hitam serta alis tebal, yang menegaskan kalau Brian adalah laki-laki tegas.
“Ini masih waktu istirahat dan saya tak melanggar waktu kerja.”
Jawaban Brian yang lugas membuat Brina terdiam. Sekali lagi dia menatap pria yang masih bergeming di tempat duduknya.
“Jadi maksud kamu apa menanyakan ini padaku?” Masih dengan sikap dinginnya, Brina menatap Brian yang menunggu jawabannya.
Lalu dia melihat pria itu membenarkan kacamata sebelum menatapnya tepat di wajah.
“Karena saya tahu, Ibu Sabrina membutuhkan teman hidup untuk selamanya. Saya bisa menjadi teman ibu atau ehm ... Sabrina kalau boleh saya panggil begitu. Saya juga butuh istri dan tentu saja menikah lebih baik daripada berpacaran. Jadi, saya Febriano Andromeda menawarkan diri untuk menjadi teman seumur hidup.”