Brina melirik kesal dua orang yang tengah berdiri agak jauh darinya. Menyendok es krim yang sudah meleleh di tangan dan tak peduli wajahnya sekarang seperti apa. “Tenang, Honey, aku bisa mengatasi ini. Kamu tunggu di sini, ya,” bisik Brian ketika Brina hendak melemparkan kata pedas untuk gadis yang baru saja datang dan langsung merebut perhatian suaminya. Sebelum Brina membuka mulut, Brian sudah melesat menuju tempat gadis yang dipanggil Rani itu berdiri. Dan secepat kilat Brian langsung merangkulkan lengannya di bahu gadis itu, mengajaknya keluar dari dapur. Tentu saja awalnya Brina tak peduli dan tetap bergeming di dapur, mencari makanan dan air minum. Tapi setelah dua puluh menit berlalu dan Brian belum juga kembali, dia merasakan himpitan perasaan yang aneh. Merasa curiga akan ap

