Sayup-sayup, terdengar suara ketukan di pintu. Brina menggeliat lalu kembali membenarkan selimut. Terlalu mengantuk untuk membuka mata. Tapi suara itu kembali terdengar dan Brina pun membuka mata. Dia pun bergegas menyalakan lampu tidur yang ada di atas nakas di samping tempat tidur. Mengerjap untuk menyesuaikan cahaya lembut yang menerpa wajah, dia menoleh ke samping. Melihat Brian masih tertidur pulas dengan badan menelungkup dan mata terpejam rapat. Brina tersenyum, dia sudah bisa menerima Brian tidur di sampingnya tiap malam. Toh pria itu kalau sudah tertidur pasti tak akan bergerak. Terlalu pulas. Suara ketukan itu kembali menyapa telinga. Brina beralih menatap jam yang menempel di dinding. Keningnya berkerut ketika melihat jam menunjukkan angka dua dini hari. Bulu kuduknya langsung

