Aku berjalan cepat menuju pintu yang baru tadi subuh aku tutup. Begitu kubuka dan berjalan masuk ke dalam, Admiral dengan gusar bangkit dari sofa. Matanya mencetak segala perasaan takut, cemas, dan antisipasi. Aku merasa sedang melihat orang asing, bukan Admiral Putranto si plontos narsis yang aku tahu selama sepuluh tahun ini. Langkahku terseok mendekatinya. “Sejak kapan lo tahu ada Ola?” tanyaku lirih. Belum pernah aku dibuat sangsi oleh persahabatan kami. Ketika hari ini tiba, aku seperti memperoleh tamparan bolak-balik. “Belum lama,” jawab Admiral sama lirihnya. “Dan Pepep, apa dia bilang siapa ayah kandung Ola?” Ini pertanyaan terberat hingga napasku tercekat di pangkal tenggorokan. Admiral menggeleng sekali tanpa melepas pandangannya dariku. Sungguh ini konyol. Berada di satu tem

