New Father 2

1778 Words
"Jadi, dia papanya, Vano, Ma?" tanya bocah lelaki berusi sekitar 7 tahun lebih itu. "Uhukkk! Pa--Papa? Nay?!" Untuk pertama kali, Yasa menyebut nama Nayla karena merasa dirugikan oleh posisinya. Namun, wanita itu enggan menjawab kata. Untuk sekarang, dia melihat sisi kerapuhan seorang Nayla. "Jangan bicara sembarangan kamu, Nay. Bagaimana bisa kamu mengatakan lelaki seperti ini adalah ayah dari Devano?" "Kenapa? Apa karena pria ini tidak sesuai perkiraan Ibu yang kaya raya? Walau bagaimanapun dia tetap ayah Devano. Dan mulai sekarang, Ibu tidak lagi berhak mengatur siapa ayah yang tepat bagi anakku," kata Nayla menegaskan ucapannya. Sesaat kemudian dia melangkah dan meraih tangan kecil Devano. Lalu menarik Yasa lagi, mengajak mereka menuju lantai dua rumahnya. Yasa sendiri hanya bisa menurut saja, untuk saat ini ... lagi. Kenapa dia malah terjebak dalam keadaan dan seperti i***t yang pasrah menerima begitu saja? Dengan skill persilatan lidahnya yang tinggi, seharusnya dia bisa, ya, setidaknya menyangkal semua ucapan wanita itu. Nayla membawa keduanya ke depan sebuah kamar, tampaknya itu kamar milik Devano. Sebab, terdapat lukisan-lukisan gaya khas luar angkasa ditambah mainan kecil serupa astronot bertengger apik di lemari kaca khusus. Nayla sedikit membungkuk demi melihat wajah Devano. "Kamu tunggu di kamar dulu, ya." "Kenapa? Apa Vano gak boleh kenalan sama Papa? Kata Mama tadi Om ini papanya Vano." Perkataan polos Devano sukses membuat air mata Nayla kembali menumpuk. Dia amat paham jika selama bertahun-tahun Devano terus menanyakan siapa ayah kandungnya? Seperti apa wajahnya? Atau di mana tempat tinggalnya. Dia selalu mengatakan jika dia iri terhadap teman-temannya saat di TK dulu. Mereka semua datang dengan kedua orang tua utuh. Berbeda dengannya yang hanya ditemani Nayla atau Bu Ajeng. Nayla sendiri belum berani berkata jujur tentang siapa ayah kandungnya. Tentang si b******k yang berani menelantarkannya saat hamil. Dia sungguh tidak ingin mengingat orang itu. "Nanti kamu boleh kenalan sama Papa. Tapi, sekarang mama mau bicara dulu sama Papa, ya. Mama janji gak akan lama, kok," kata Nayla seraya mengusap puncak rambut Devano. "Janji, ya?" "Iya. Mama janji." Nayla mulai menuntun Devano masuk dalam kamarnya. Sesudah itu, dia menghela napas berat dan mengusap wajah sejenak agar air matanya benar-benar kering. Pria yang ada di belakangnya masih setia menunggu. Menunggu giliran kapan dia akan menghujat kelakuan dokternya yang semena-mena terhadap kehidupan pribadi pasien. "Ikut saya ...," kata Nayla. Dia melangkah lebih dulu menuju tempat di mana mereka akan bicara. Sebuah tempat tepat di belakang rumahnya yang terdapat satu tempat khusus seperti taman bunga mini. Dua buah ayunan sedikit bergerak mengikuti arah angin mendorongnya. Nayla mempersilakan Yasa duduk di kursi bercat putih yang bisa digunakannya untuk menghabiskan waktu bersama Devano bermain. "Lo itu dokter, Nay. Tapi sekarang lo gila apa gimana, sih? Kehabisan obat? Atau lo abis minum baygon semalem? Bisa-bisanya lo ngomong gitu di depan emak lo barusan. Lo pikir gue lelaki apaan? Megang tangan cewe aja gak pernah, pacaran juga baru sekali. Itu pun beberapa tahun lalu. Begimana bisa gue mendadak jadi bapak-bapak? Punya anak pula! Menurut lo, gue bakal nerima ini semua? Lo salah." Yasa mulai melancarkan serangan protesnya pada Nayla. "Iya, iya. Saya tahu saya salah. Dan saya minta maaf sama kamu, saya terpaksa bilang gitu karena ibu maksa saya nikah sama lelaki yang samasekali gak bisa saya terima." "Maaf, maaf. Hari ini gue sial dua kali gara-gara lo. Motor gue aja belom lo ganti, sekarang lo bikin masalah baru yang bikin gue pusing ke depannya!" Yasa memijat pelipisnya, baru kali ini dia merasakan pening tapi bukan berasal dari alkohol atau suara bising kelab malam yang sering dikunjunginya. "Trus gimana nanti urusan sama anak lo itu? Gue gak mau, ya, kesangkut jaring ikan yang lo tebar. Udah cukup kesialan gue hari ini. Gue pergi sekarang," kata Yasa lagi seraya beranjak dari kursi. Dia menelusupkan tangan di jaket agar wanita itu tidak menariknya lagi seperti kambing. Namun, tetap saja Nayla berhasil menahan langkahnya dengan menarik sudut jaket dengan cepat. "Tunggu. Saya tahu kesalahan saya berat di kamu. Tapi, Vano udah terlanjur mengira kamu sebagai ayahnya. Buat sekarang, saya mohon sama kamu supaya jadi ayah pura-puranya Vano. Atau setidaknya, dalam waktu satu bulan. Sesudah itu saya bisa memberi alasan ke Vano saat kamu mau pergi," kata Nayla. Yasa menoleh. Ditepisnya sedikit kasar pegangan Nayla sampai terlepas, air mata wanita itu jatuh. Memohon kesediaan hati agar anaknya bisa sejenak merasakan bahagianya memiliki ayah. Namun, Yasa enggan memberi harapan palsu bagi seorang anak. Jika mematahkan hati wanita saja telah dianggap keji. Bagaimana jika Devano tahu kalau dia bukan ayah biologisnya? Bagaimana perasaan anak itu dan apa jawaban yang tepat untuk menjelaskannya nanti membuat Yasa tidak ingin dicap sebagai pria terkutuk. "Sorry ... gue gak bisa," kata Yasa datar. "Yas, please. Demi anak saya. Sebentar aja." "Gue bilang gak bisa ya, gak bisa! Gak ada seorang pun yang berhak ngatur-ngatur hidup gue. Apalagi cuma buat matahin hati seorang anak." Yasa berlalu meninggalkan Nayla tanpa ingin berkata lebih banyak. Walaupun dia kasar dan tidak memiliki nilai plus dalam hidupnya, tapi dia masih cukup waras untuk tidak menyakiti hati seorang anak. Yasa menaiki anak tangga dan masuk bagian belakang rumah agar dia bisa cepat keluar dari tempat ini. Namun, langkahnya terhenti dan dia sedikit terhenyak saat melihat penampakkan kecil di balik jendela besar di depannya. "Keluar. Kamu udah ketahuan ngintip," kata Yasa setelah dia mengempas napas berat menghadapi anak itu. "Aku nggak ngintip!" Devano keluar dari balik jendela, langkah kecilnya cepat sekali menghampiri Yasa. "Aku cuma nggak sabar pengen ketemu Papa." Dia tersenyum begitu manis. Kedua lengannya melebar ingin memeluk tubuh jangkung Yasa. Namun, Yasa berhasil mundur selangkah hingga niat Devano gagal dan senyumnya mulai menipis di wajahnya. "Kenapa Papa gak mau Vano peluk? Papa gak kangen sama Vano, ya?" Yasa masih terdiam, dia mendadak dilanda dilema melihat kedua mata bulat anak itu berair. Dan seketika perasaan itu sedikit goyah melihat Bu Ajeng berdiri di belakang Devano dengan tatapan sama. Memandangnya seperti sampah menjijikan yang pantas dibuang. "Tenang aja. Saya bakal pergi dari rumah ini biar gak ganggu kehidupan kalian yang normal," kata Yasa kepada Bu Ajeng. "Bagus kalau kamu paham. Jangan pernah lagi menapakkan kaki di rumah ini dan memperlihatkan wajahmu itu." "Oma kenapa ngomong gitu ke Papa?! Vano gak mau Papa pergi!" protes Devano keras. "Mau ke mana? Vano nggak boleh kejar orang itu. Biarkan dia pergi, Vano," cegah Bu Ajeng seraya menahan gerakan Devano. Namun, tubuh kecil Devano berontak ingin terlepas. Melihat kepergian Yasa membuat air matanya deras mengalir. "Papa!" Yasa melangkah, mencoba menebalkan hati agar tak goyah mendengar tangisan bocah itu di belakangnya. Nayla yang baru saja datang menyusul sangat kaget, dilihatnya Devano berlari cepat mengejar langkah lebar Yasa. "Papaaaaa ...." "Papa ... hiks!" "Papa jangan pergi! Vano kangen Papa!" "Vano, jangan lari-lari!" Suara Nayla mencegah anaknya terdengar. "Nggak mau! Nanti Papa pergi lagi ... hiks." Devano terus berlari, melihat punggung pria itu mulai menjauh, dia semakin mempercepat larinya sampai kakinya tersandung anak tangga di depan rumah. "Vano!" Nayla tersentak. Dia bergegas menyusul Devano yang meringis memegangi lututnya sambil menangis keras di sana. Dia menghampiri tubuh anaknya dan memeriksa keadaan Devano. Terdapat luka goresan cukup luas di lututnya sampai mengeluarkan darah. Tapi, Nayla sangat paham tangisan anaknya bukanlah dari luka itu. Melainkan menangisi kepergian Yasa. "Kamu nggak apa-apa? Ayo masuk dulu, nanti mama obati lukanya di dalem, ya," ajak Nayla. Devano menggeleng keras menolak. "Aku mau Papa." "Vano, jangan gitu. Obati lukanya dulu, nanti bisa infeksi." "Aku mau Papa!" Nayla berusaha keras membujuk Devano agar dia masuk dalam rumah dan mengobati lukanya. Tapi, Devano bersikeras ingin bertahan di sana dengan tangis kencang. "Coba liat lukanya," kata seseorang yang mendadak meraih tubuh Devano hingga bocah itu berdiri. Telapak tangan besar Yasa menepuk-nepuk pelan celana Devano yang tampak kotor akibat terjatuh di depan rumah. "Yas--" "Luka begini doang. Masa nangisnya kenceng banget. Malu-maluin, jadi laki-laki itu harusnya pantang nangis. Kita harus jaga image di depan orang lain. Biar gak dianggap lemah," kata Yasa lagi. Dia juga merapikan helaian poni Devano yang sedikit berantakkan oleh keringat. Air mata anak itu terhenti walau segukkannya masih bertahan. Mata bulatnya sedikit memerah, tapi dia tersenyum setelahnya. "Gitu, ya? Tapi ini nggak sakit. Vano nangis karena Papa mau ninggalin Vano lagi. Vano nggak mau Papa pergi." Yasa mengulum senyum, sangat tipis. Merasa bodoh sekali saat langkahnya membawa ke tempat ini lagi. Padahal tadi dia berhasil melewati gerbang rumah dan ingin pergi. Dia sangat risi dengan tangisan Devano. Hati berkata tidak, tapi kakinya malah melakukan gerakan sebaliknya. Dan aneh sekali saat dia merasa tenang melihat anak ini berhenti menangis. "Papa cuma mau pulang," kata Yasa. Sebutan papa yang disematkannya sendiri terasa asing. Apakah ini keputusan terbaik? Kenapa dia malah melakukan ini? "Ke mana?" "Ke rumah papa." Devano murung lagi. "Kenapa Papa nggak tinggal di sini aja?" "Nggak bisa, Vano." "Kenapa?" "Karena—" Yasa menggantung kalimat. Dia bingung sendiri harus menjawab apa. Jelas saja dia tidak bisa tinggal di sini karena dia dan Nayla tidak ada ikatan di antara mereka. Dia menatap Nayla. Wanita itu sedikit bergerak dan mengarahkan tubuh Devano ke arahnya. Paham jika butuh satu alasan jelas agar Devano tidak menangis sekencang tadi. "Papa harus kerja, Vano," jawab Nayla lembut. "Tapi besok masih libur. Apa nggak bisa Papa tinggal di sini? Mama gak kasian sama Vano? Ini pertama kalinya Vano ketemu Papa. Vano pengen Mama sama Papa ada buat Vano di rumah. Vano janji nggak akan nakal," kata Devano dengan suara serak. Kedua orang dewasa itu terdiam. Sama-sama bingung jenis kebohongan apa yang akan mereka katakan pada bocah sekecil Devano. Harapannya sungguh tidak aneh, tidak pula tinggi, dia hanya ingin bersama kedua orang tua utuh ... itu saja. "Ya, udah. Papa nginep di sini sampe besok." Yasa membuka suara. Dia setuju, menguarkan binar kebahagiaan di wajah polos Devano. "Beneran?" Yasa hanya mengangguk pelan. Namun, itu sudah lebih dari cukup membuat Devano berjingkrak senang seolah tak ada lagi rasa sakit di lututnya. Nayla menatap wajah Yasa, dia tidak tahu kenapa tiba-tiba Yasa berubah pikiran dan menerima menjadi ayah pura-pura bagi Devano. "Gendong, Paaa ...!" pinta Devano seraya merentangkan kedua lengannya. "Dih, tadi bilang lututnya nggak sakit. Tapi kenapa minta digendong?" "Tadi lupa kalau lutut Vano luka. Tapi sekarang lututnya sakit, nggak kuat jalan. Gendong Vano, Paaa." Yasa berdecih geli, dia tahu lutut itu hanyalah alasan kecil. Tapi, sedetik kemudian tangan kokohnya merah tubuh Devano dengan mudah untuk digendong. Anak itu tersenyum dan melingkarkan lengan kecilnya di tengkuk Yasa. "Ternyata begini rasanya digendong Papa. Vano seneng, deh." "Buset, dah. Kamu tuh, makan apa, si? Badan bisa berat gini kaya anak gorila," kata Yasa. "Gak papa, deh, dibilang berat kaya anak gorila. Kan, aku anaknya Papa ... hehehehe." "Eh?" Yasa mengernyit. Menyadari kebodohannya sendiri berkata begitu. "Berarti gue bapaknya gorila, dong?" Dia membatin sendiri. Nayla tersenyum. Walau sebenarnya hal tak terduga kenapa dia memilih pria seperti Yasa untuk menjadi ayah Devano. Hanya karena Yasa berada di waktu yang salah, dia menjadi korban kebohongan yang dibuatnya. Tetapi, tampaknya kebohongan ini sangat berpengaruh besar untuk Devano. Belum pernah dia lihat anaknya menangis sekencang tadi, dan belum pernah juga dia lihat senyum Devano begitu lebar dan berkembang seperti sekarang di pelukan Yasa. Nayla tahu, keputusan ini akan memberatkan bagi semuanya tanpa terkecuali. Resiko yang akan ditanggungnya nanti, ketika Devano tahu kebohongan ini. Siap atau tidak, dia harus mempersiapkan jawabannya mulai dari sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD