Bab Dua Puluh Enam

1668 Words

Aku baru saja memberi obat dan menidurkan Via, saat ponsel di atas meja kecil di sudut kamar berdering. Kuambil benda itu dan segera memeriksa nomor penelpon, kembali ternyata Mas Arya yang menghubungi. Ah, mau apa sih dia? Mau bicara? Tentang apa sebenarnya yang hendak ia bicarakan? [Ana, kamu di mana? Bisa gak kita bicara sekarang? Mas tunggu di cafe Alamanda sekarang. Bisa?] tanya Mas Arya dengan nada memohon di seberang sana. Sejenak aku menoleh pada Via yang baru saja terlelap. Apa putriku ini bisa ditinggal beberapa saat untuk menemui papanya atau dia akan terbangun dan kehilangan saat aku tak ada di sampingnya karena mungkin saja aku masih ada di luar? Akhirnya aku memilih opsi yang pertama. Sepertinya kalau cuma keluar satu atau dua jam lamanya, Via belum akan terbangun. Seka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD