"Mas, apa benar kamu sudah menikah lagi?" Pertanyaan itu dilontarkan Ana, istri pertamaku, dua bulan setelah aku dan Maya menikah. Mendengar pertanyaan yang tak kuharapkan itu, dahiku berkerut dan mataku memicing tajam. Ah, tahu dari mana dia kalau aku sudah menikah lagi? Meski sering terlambat pulang bahkan tak pulang sama sekali, aku selalu berusaha menyimpan semua rahasia perkawinan keduaku rapat-rapat. Bukan aku takut istriku ini ngambek ataupun marah, tapi tak nyaman saja rasanya jika harus timbul pertengkaran tak berkesudahan di antara kami berdua karena itu. Aku tak suka diintimidasi dan diatur-atur perempuan. Bagiku, laki-laki itu pemimpin rumah tangga yang segala keputusannya harus dipatuhi dan tak bisa diganggu gugat. Allah sudah melebihkan laki-laki satu derajat di atas

