Berobat

1106 Words
Malam itu hawanya begitu dingin, maklum seharian tadi hujan mengguyuri Tepian kotaku, baru berhenti sejam yang lalu. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Anakku sudah terlelap duluan, mungkin kelelahan seharian bermain dengan temannya. Tiba-tiba aku merasa dibadan terasa ada yang berat, terutama di sekitar pundak dan leherku. Padahal malam itu hawanya dingin, tapi yang kurasakan di belakang tubuhku begitu panas. Mataku pun terasa berat sekali. Sebenarnya mau tunaikan shalat isya, tapi perasaanku begitu berat tuk melaksanakannya. Akhirnya ku putuskan bawa tidur aja, mungkin dengan tidur hawa yang tidak nyaman tadi bisa hilang pikirku. Seketika aku langsung tak sadarkan diri, terlelap dalam mimpi.   Kali ini dalam mimpi itu kembali sang mantan cowokku yang telah lama kulupakan, ia hadir bersama para demit yang dulu pernah ku lihat dalam mimpiku. Dia hanya berpesan jika hidupku tidak akan pernah tenang. Hanya sekejap akupun terjaga dari tidurku. Entah apa maksud perkataan mantan cowokku tadi. Perlahan kubuka, kututup dan kembali kubuka mataku. Astaghfirullah…tiba-tiba depan wajahku sudah ada wajah seorang wanita yang hancur, penuh darah dan ulat belatung. Astaghfirullah… Astaghfirullah… Astaghfirullah… kembali cepat-cepat kututup mataku dan ucap istighfar berulang-ulang. “hihihihihihihihihi…” terdengar nyaringnya lengkingan suaranya. Entah k****a ayat-ayat apa saja yang kuingat, alfateha, al ikhlas, doa makan, bahkan mungkin doa buka puasa pun kuucapkan karena saking paniknya aku. Mungkin ada sekitar ½ menit, tidak kudengar lagi lengkingan suaranya. Perlahan ku intip dengan membuka satu mataku. Alhamdulillah dalam hatiku terucap, langsung ku berlari keluar kamar. Tanpa kusadari, aku meninggalkan anakku yang tertidur sendiri. Ku bangunkan adikku. Lalu kuceritakan kejadian yang baru kualami. Dengan sedikit kantuk, adikku tidak begitu menghiraukan ceritaku. Akhirnya ku berusaha menenangkan diriku sendiri. Begitu ku melihat jam dinding, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 4.30.   Hampir subuh pikirku, sebentar lagi juga adzan subuh. Kembalilah aku ke kamar. Baru keluar dari kamar adikku, tak kuduga didepan kamarku ada lagi cewek tadi. Astaghfirullah… Astaghfirullah…kembali istighfar kuucapkan. Tiba-tiba badanku freeze, tak mampu ku gerak sedikitpun. Demit cewek tadi menembus pintu masuk kamarku sambil tertawakan aku. Ya Allah aku hanya pasrah, berserah diri, entah apalagi yang harus kulakukan. Tak berapa lama aku bisa menggerakkan badanku. Segera ku berlari ke kamarku karena teringat ada anakku disitu. Kucoba buka pintu kamar. Tidak bisa terbuka, padahal pintu itu tidak ada kuncinya, maka tambah panik diriku, kucoba terus membukanya, sambil membaca ayat-ayat pendek, akhirnya terbukalah pintu itu. “Astaghfirullah, Ya Allah dimana anakku!!!” pekikku dalam hatiku. Rasanya jantung ini mau lepas dari badanku. Kemana anakku, apa jangan jangan dibawa mereka para demit tadi. Kubuka jendela kamarku, coba lihat keluar, kosong. Kucari ke sisi lain dari ranjangku, dan ternyata anakku ada di bawah ranjang, mungkin terjatuh waktu tidur. Alhamdulillah…kulihat anakku masih terlelap tidurnya. Langsung ku angkat anakku tuk pindah kamar adikku yang lain. Karena lelahnya aku sampai lalai menjalankan kewajibanku sebagai muslimah.   Keesokan harinya, kuceritakan kejadian itu pada orang dirumah, tak ada satupun yang percaya dengan yang kualami, mereka malah mentertawakan aku. Begitu juga kakak-kakakku. Mereka pikir hanya halusinasiku. Kejadian ini terus berulang-ulang selama seminggu. Tetap saja tak ada yang percaya dengan ceritaku. Hingga akhirnya ada salah satu adikku mengalami hal yang sama, hanya bedanya dia melihat sosok hitam besar yang berbulu. Sejak kejadian itu satu persatu keluargaku mulai percaya dengan omonganku.   Sebulan kemudian, atas inisiatif keluargaku maka kami mengundang seorang yang memiliki ‘kelebihan’ yang kebetulan di recommend oleh teman. Sebut aja Pade Jon, karena beliau minta dipanggil begitu dan sidin agak harat juga pinanya. Kata teman, sidin nih jagau  banar (hebat banget) kalau kesah(cerita) ngusir dedemit, hampir semua dedemit bukah (kabur) bila ketemu sidin (beliau). Mungkin dalam hatiku lari mendekat klo lah, karena aku punya feeling orang ini kurang meyakinkan bisa mengatasi masalah keluargaku. Setibanya dirumah kami, Pade Jon langsung action. Katanya sidin sudah dapat perlawanan dari demit dirumah itu. Aku hanya bisa kernyitkan dahiku. Makin bertambah kecurigaanku. Setelah beberapa menit melakukan ritual, maka clearlah urusan Pade Jon. Kata beliau dedemitnya dah pada bukah. Demi menghormati sidin akupun mengucapkan banyak terima kasih, padahal dalam hatiku, rumah ini belum bersih, karena hawanya masih terasa tidak nyaman. Semenjak hari itu, suasana dirumah kami bukannya bertambah nyaman. Semua jadi tambah runyam. Setiap hari ada aja yang diributkan, padahal hanya hal-hal sepele. Aku pun semakin lelah, selain gangguan dari demit, masalah dengan saudara juga jadi tambah buruk. Sementara masa depanku, kurasakan semakin ga jelas. Setiap aku mau memulai sebuah hubungan dengan pria lain, pasti gagal. Pernah kutanyakan dengan pria yang pernah mendekati aku, kata mereka yang dilihat dari aku itu bukan sosok aku, tapi sosok wanita yang menyeramkan. Astaghfirullah, sampai begitu pengaruh negatif itu.   Bulan berganti bulan, setahun telah berlalu. Tak banyak yang berubah. Semua hanya stag di tempat itu. Lagi dan lagi. Pernah aku coba ikuti sebuah acara ruqiah massal. Namun hasilnya hanya malah jadi bahan ketawa. Orang yang meruqiah aku malah terkejut ketika aku hanya mentertawakan mereka, aku tahu itu bukan aku lagi yang tertawa. Ketika aku diberi airpun malah ku sembur ke muka peruqiah nya. Semua tanpa kusadari. Setahun kemudian, aku berusaha tuk hijrah. Berusaha aku lawan, aku buang semua hal-hal buruk yang ada didiriku, aku mohon ampunan Allah. Aku berniat merubah diriku. aku putuskan berhijab, bukan karena lagi trend hijab, tapi memang niatku tuk berubah. Banyak saudara-saudaraku yang heran dengan perubahanku, tapi mereka semua support. Walau aku telah berubah tapi tidak dengan demit yang ada didalam tubuhku. Entah sejak kapan dia bisa bersemayam ditubuhku. Perlahan lahan banyak hal yang mulai ku pahami dari agamaku. Majelis Ta’lim pun ku ikuti walau tak rutin. Ibadah 5 waktu berusaha ku giatkan, walau masih bolong-bolong dan tak tepat waktu.   Hingga suatu hari, entah ini hidayah atau memang sudah jalanku. Aku dipertemukan dengan sebuah keluarga dari teman kakakku. Mereka sepasang suami istri yang masih terlihat muda, mungkin sekitar 30-40 usianya. Kedua orang ini terlihat sederhana. Terlihat dari tutur kata mereka sudah membuat aku bergetar. Ketika aku menjabat tangan mereka tuk bersalaman, ada sebuah energy yang kurasakan dan itu kontras dengan sesuatu yang ada ditubuhku. “Astaghfirullah…apa ini” dalam hatiku. Badanku serasa bergetar hebat. Tapi sengaja ku tutupi depan mereka. Walau sebenarnya mereka sudah tahu, karena ku melihat ekspresi wajah mereka.   Sepasang suami istri itu adalah Mas Rey dan Mba Tia (bukan nama sebenarnya), sebut aja begitu. Malam itu juga aku diruqiah oleh mas rey dan istri. Dirumah mereka sudah hadir beberapa kerabat tuan rumah. Tak perlu waktu lama, setelah ku diberi minum air yang diberi mas rey, langsung ku tertawa meringkih. Aku merasa itu bukan diriku lagi, karena aku sudah berada didunia lain. Sayup kudengar suara mas rey tuk melawan demit yang ada dalam tubuhku. Susah payah ku berusaha melawan, ku muntahkan, tidak juga berhasil. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD